Ngabuburit Asik di Kawasan Raden Saleh, Cikini

id ngabuburit asik, di kawasan, raden saleh cikini

Ngabuburit Asik di Kawasan Raden Saleh, Cikini

Jakarta (Antarariau.com)- Kawasan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat, bisa menjadi pilihan tempat untuk ngabuburit bila Anda ingin berbuka puasa dengan makanan khas Timur Tengah.

Daerah yang dulu ditempati banyak orang keturunan Arab di Indonesia ini memiliki banyak restoran dan toko wewangian khas Arab.

Hotel-hotel yang ada di tempat ini juga biasanya menjadi tujuan menginap wisatawan Arab yang berkunjung ke Jakarta.

Pengunjung bisa menelusuri beberapa tempat bersejarah di area ini dengan berjalan kaki.

"Explore Little Arab" bersama Jakarta Food Adventure pada Sabtu (18/6) memulai perjalanan di kawasan itu dari Planetarium, Cikini, selepas Ashar.

Idfi Pancani, pemandu wisata yang juga pendiri Jakarta Food Adventure, menjelaskan bahwa planetarium dan Taman Ismail Marzuki, Cikini, dulunya merupakan bagian dari komplek rumah milik pelukis ternama Raden Saleh.

"Rumah Raden Saleh luasnya 5,6 hektare, halaman depannya adalah SMP 1 Cikini," kata Idfi.

Makam Habib Cikini

Tak jauh dari halaman belakang TIM, kita bisa berkunjung ke Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi yang dikenal dengan Habib Cikini.

Sekilas Makam Habib Cikini terlihat seperti masjid, padahal ini adalah mausoleum alias bangunan yang melindungi makam sama seperti Taj Mahal di India.

Beberapa tahun lalu, masyarakat sempat geger karena makam ini mengeluarkan air ketika digali karena akan digusur untuk dijadikan apartemen. Air yang dianggap keramat itu menarik orang untuk berbondong-bondong datang.

Idfi mengatakan keluarga Habib Cikini khawatir air tersebut dikultuskan karena secara ilmiah memang ada aliran sungai di bawah tanah di sana sehingga ada alasan logis di balik fenomena tersebut.

Rumah Raden Saleh Syarif Bustaman

Setelah berkelana menuntut ilmu di Eropa, pelukis Raden Saleh membangun rumah di tanahnya yang luas di Cikini.

Rumah bergaya Eropa itu dirancang dengan tangannya sendiri. Kini, rumah itu menjadi kantor administrasi Rumah Sakit PGI Cikini.

Di depan rumah Raden Saleh, masih ada sisa taman luas yang dulu menghiasi kediaman sang pelukis.

Masjid Al Makmur, Cikini

Raden Saleh membangun masjid sederhana ini di atas tanahnya yang diwakafkan. Tanah Raden Saleh kemudian dijual ke keluarga Alatas yang diwariskan ke generasi berikutnya, Ismail Alatas.

Kemudian, tanah yang ditempati Masjid Al Makmur dijual ke Yayasan Ratu Emma milik orang Belanda yang bergerak di bidang rumah sakit, pelayanan sosial dan penyebaran agama kristen.

Masjid yang dulu terbuat dari kayu itu kemudian dipindahkan beberapa meter dengan cara dipanggul oleh warga.

Tokoh-tokoh nasional seperti H. Agus Salim kemudian membangun bentuknya hingga menjadi seperti saat ini.

Dari kejauhan, terlihat jelas ada dua bangunan yang merupakan bangunan lama dan bangunan baru. Masjid Al Makmur, Cikini, berlokasi persis di pinggir Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Kuliner

Teh Adani

Teh khas Arab yang terbuat dari teh, susu, jahe, kapulaga, dan kayu manis ini nikmat saat disajikan dalam keadaan hangat. Teh Adani yang rasanya mirip dengan bandrek bisa didapatkan di Restoran Amira di Jalan Raden Saleh.

Roti shami, nasi kebuli dan nasi mandi

Hanya berjarak beberapa bangunan dari Restoran Amira, berdirilah Al Basha Restaurant, yang menyediakan makanan berat ala Timur Tengah untuk mengisi perut yang kosong setelah seharian berpuasa.

Restoran itu menyajikan kurma dan minuman tamarin, kemudian roti shami dan isian berupa sayur campur kentang, kacang polong, buncis dalam kuah kari juga semacam acar sayuran sudah diberi cuka dan garam.

Roti shami alias roti Arab ini berbentuk setengah lingkaran, persis seperti kantung ajaib Doraemon. Isiannya bisa dimasukkan ke dalam "kantung" roti, kemudian hidangan ini bisa dinikmati.

Lalu, ada sepiring besar berisi nasi kebuli dengan potongan daging kambing dan nasi mandi dengan topping ayam. Masing-masing menempati setengah bagian piring. Setiap porsi bisa dihabiskan untuk 4-5 orang.

Penyajian dalam porsi besar seperti ini sesuai tradisi makan orang Arab yang biasa makan bersama dalam piring besar.

Baik nasi kebuli maupun nasi mandi menggunakan beras Basmati dari India yang bentuknya panjang serta ramping.

Tersedia pula cocolan saus tomat dan acar untuk menambah cita rasa hidangan Timur Tengah ini.

Makanan penutup khas Arab kami cicipi di Omarez Cafe and Resto di Cikini yang letaknya tak jauh dari pintu masuk Taman Ismail Marzuki. Hidangan penutup yang disajikan adalah Um Ali, Haresa, Baklava dan Kunafa.

Um Ali (secara harafiah artinya Ibu dari Ali) punya bentuk dan rasa yang mirip dengan puding roti. Um Ali dibuat dari campuran susu, potongan croissant, bubuk kayu manis, gula, lalu heavy cream yang dipanggang dalam oven.

Sementara Baglawah atau Baklava dibuat dari kacang-kacangan, puff pastry juga air gula. Sedangkan Haresa dibuat dari susu bubuk, air gula dan tepung semolina.

Semuanya punya satu kesamaan, yakni rasanya sangat manis. Untuk menetralisirnya, ada kopi Arab pahit yang rasanya rempah-rempah kapulaga dan cengkehnya menonjol. Biji kopinya berwarna cokelat, sehingga warna kopinya pun mirip seperti teh pekat.