Selatpanjang (ANTARA) - Penderita penyakit Acquired Immune Deficiency (AIDS) di Kabupaten Kepulauan Meranti mencapai ratusan kasus dari akumulasi tahun 2024 hingga 2025. Menurut data Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, tercatatadasebanyak 132 kasus. Dimana 57 kasus diantaranya juga menderita Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan satu penderita meninggal dunia.
"Khusus tahun ini dari pendataan kita baru tercatat satu kasus dan sudah meninggal dunia. Penderita merupakan seorang bayi yang baru lahir dari pasangan penderita AIDS," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Muhammad Fahri melalui Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Widya Nengsih, Senin.
Dijelaskan Widya, pihaknya mengaku masih kesulitan untuk melakukan pengecekan dan pendataan. Karena banyak yang menolak untuk dicek. Padahal pengecekan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dan menghambat penyebaran penyakit ini.
"Terhadap korban kita selalu melakukan pengecekan rutin dan pemberian obat. Hal ini menjadi tugas rutin kita dalam mencegah penyebaran," sebut Widya.
Ia juga menginformasikan sejumlah gejala pengidap AIDS diantaranya diare, penurunan daya tahan tubuh, dan sariawan yang tak kunjung sembuh. Sementara, orang yang terkena HIV, selain ketiga tanda itu akan terjadi penurunan berat badan, karena HIV menyerang imunitas tubuh.
"Jika gejala tersebut terjadi bersamaan, maka akan dilakukan pengecekan AIDS. Namun jika ditambah penurunan berat badan yang sangat mencolok akan dilakukan pengecekan HIV, supaya bisa segera dilakukan pengobatan dan pencegahan penularannya," katanya.
Widya menegaskan penderita yang terjangkit HIV/AIDS akan dirahasiakan identitasnya, alamat dan data pribadi lainnya. Namun penderita akan terus diberikan pemahaman agar ikut serta untuk mencegah penyebarannya.
"Karena penyebarannya bisa terjadi melalui darah dan hubungan seks. Artinya, hanya orang yang terjangkit HIV/AIDS saja yang bisa mencegah penyebaran penyakit yang mematikan itu," tambah Widya lagi.