Ini kondisi anak penderita epilepsi dan radang otak di Kuantan Singingi

id DPRD RIAU,Anak kuansing, anak penderita radang otak

Ini kondisi anak penderita epilepsi dan radang otak di Kuantan Singingi

Marwan Yohanis saat mengunjungi kediaman anak penderita epilepsi dan radang otak (ANTARA/Diana Syafni)

Pemerintah harusnya hadir untuk masyarakat, memberikan jaminan layanan kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat tanpa pandang buluh,"
Pekanbaru (ANTARA) - Anggota DPRD Riau Marwan Yohanis mengaku prihatin saat mengunjungi seorang anak penderita epilepsi dan radang otak di Desa Simandolak Kecamatan Benai Kabupaten Kuantan Singingi.

Anak berusia 14 tahun bernama Slamet Setiawan itu terbaring di tempat tidur dan meringis kesakitan. Mirisnya lagi, dia hidup dalam kondisi keterbatasan ekonomi, dimana orangtuanya hanya bekerja sebagai penyadap karet di kebun milik orang lain.

Hasil upah buruh kebun itu pun tak cukup untuk membawa sang buah hati mereka ke rumah sakit sehingga keluarga ini memilih untuk merawat Slamet di rumah.

"Saya dapat laporan dari Kepala Desa Sidamandolak, dan saya langsung berkunjung ke sana. Melihat kondisi Slamet ini hati saya teriris. Di mana kehadiran pemerintah dan kita semua?," ucap Marwan Yohanis yang merupakan wakil rakyat daerah pemilihan Kabupaten Kuantan Singingi itu.

Melihat kondisi tersebut, Marwan Yohanis langsung menghubungi Dinas Kesehatan, pihak Rumah Sakit dan Dinas Sosial setempat. Dia meminta meminta instansi terkait untuk segera melakukan tindakan medis terhadap penyakit yang diderita Slamet.

"Setelah saya komunikasikan, saya kaget kok anak yang sakit sejak lama ini, BPJSKesehatannya nya masih mandiri. Padahal dia memiliki ekonomi kurang beruntung. Makanya saya minta dinas terkait untuk turun meninjau langsung kondisi anak ini dan Alhamdulillah dia sudah dapat BPJS PBI (Penerima bantuan iuran), artinya dia tidak perlu bayar iuran lagi," ujar politisi Gerindra Riau itu.

Tak hanya sebatas itu, Marwan juga mendorong peran dari Dinas Sosial agar dapat menyalurkan bantuan kepada keluarga tersebut.

"Saya tanyakan apakah dapat bantuan dari Dinsos? Kata keluarga ini sudah lama terputus. Jadi kita minta diuruskan lagi. Kabarnya bulan Juli nanti kembali direalisasikan bantuannya. Dari Januari sampai Juni, saya sendiri yang akan mengakomodir bantuan ke keluarga mereka," ucap Marwan.

Marwan mengatatkn, kondisi Slamet yang terbaring sakit sejak lama merupakan suatu bentuk kelalaian pemerintah yang berakibat fatal kepada masa depan seseorang anak, apalagi yang berasal dari keluarga kurang mampu.

"Ini bentuk ketidakmampuan kita, padahal kalau aparat pemerintahan paling bawah segera mengkoordinasikan sejak lama ke saya atau mungkin ke camat, camat nanti teruskan ke Dinas Kesehatan. Mungkin hal-hal seperti ini tidak terjadi, tapi kita lihat selama ini koordinasi itu yang tidak jalan," ucapnya.

"Padahal sederhana saja. Saya saja yang mendapat laporan dari Kades, langsung meminta dinas terkait untuk turun dan melakukan penanganan," sambungnya.

Dia menyebutkan, pemerintah harusnya hadir untuk masyarakat, memberikan jaminan layanan kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat tanpa pandang bulu.

"Dalam UUD pasal 34 sudah mengatur kehadiran negara untuk orang-orang tidak mampu. Tapi hari ini apa yang kita lihat? Pemerintah saya pikir sudah lalai dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat," ujar Marwan.
Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar