Melihat atraksi "Kiu" saat Imlek di Sungai Pakning

id pemkab bengkalis,atraksi kiu,imlek bengkalis,kabupaten bengkalis, wisata bengkalis

Melihat atraksi "Kiu" saat Imlek di Sungai Pakning

Atraksi Kiu meriahkankan perayaan imlek 2571/2020 di Kota Sungai Pakning. (ANTARA/Alfisnardo)

Bengkalis (ANTARA) - Ada beragamcara masyarakat Tionghoa memeriahkan tahun baru Imlek di Tanah Air, salah satunya di KabupatenBengkalis, Provinsi Riau. Puncak perayaan imlek 2571/2020 atau perayaan hari keenam di Kota Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, berlangsung meriah. Atraksi Kiu menjadi salah satu tontonan menarik dan ditunggumasyarakat yang datang menyaksikan ritual tahunan (Cue Lak), pada Kamis (30/1).

Kiu adalah tandu yang memainkannya dengan cara menggoyangkan ke kiri dan kanan. Tradisi ini merupakan salah satu cara memperingati hari ulang tahun Dewa Ching Cui Co Se.

Kiu dahulunya digunakan sebagai tandu untuk membawa raja atau pejabat dan orang-orang kaya. Kiu diangkat oleh orang-orang pilihan dengan cara meletakkan beban di bahu.

"Permainan Kiu ini merupakan salah satu permainan tradisional masyarakat Tionghoa dalam perayaan pawai Imlek khususnya di Kota Pakning, " ujar Sumantri Santoso Ketua Kelenteng Hock Hian Kiong.

Akan tetapi, dalam perayaan pawai Imlek ini, tandu Kiu dibuat lebih kecil dan di dalamnya diletakkan salah satu patung dewa sebagai simbol keberkatan. Permainan ini sudah menjadi sebuah tradisi dalam perayaan imlek setiap tahunnya sejak puluhan tahun silam.

"Permainannya dilakukan empat orang, dua di bagian belakang dan dua di depan. Bagi yang tidak kuat menahan goyangan akan kalah, dan permainan ini dilakukan secara bergantian bagi siapa saja yang ingin melakukan permainan ini, " kata Sumantri yang akrab disapa Ahwat ini.

Dalam atraksi permainan Kiu ini, empat orang yang membawa Kiu beradu kekuatan, ketika Kiu digoyang ke arah kiri dan ke kanan. Peserta harus kuat menahan goyangan yang berada di pundak dari peserta lainnya, dan yang kalah pasti akan terjatuh karena tidak tahan menahan beban Kiu yang digoyang tersebut.

"Jenis Kiu lainnya ada juga yang dibawa oleh dua orang saja, dan Kiu ini agak lebih kecil, tetapi cara permainannya tetap sama," ungkapnya.

Atraksi Kiu



Pawai keliling kota

Sebelum pawai dimulai, terlebih dahulu dilakukan ritual di Kelenteng Hock Hian Kiong. Diiiringi dentuman genderang dan alat musik lain yang dimainkan sejumlah anak-anak keturunan Tionghoa.

"Satu per satu peserta dirasuki roh dewa, dan ritual dimulai dengan cara menusuk mulut dengan besi dari berbagai ukuran, dan ada juga yang memukulkan pedang ke badan mereka," ujar Ateng Liong salah seorang panitia perayaan Imlek.

Setelah ritual selesai, peserta pawai kemudian diarak menuju Kota Pakning. Dengan iringan bunyi petasan bertalu-talu yang dipasang peserta di sepanjang jalan menuju tempat perayaan.

Dalam pawai tersebut, peserta membawa sejumlah atribut bendera dari berbagai warna dan bentuk, dan peserta yang dirasuki roh dewa berjalan sambil diiringi tabuhan genderang. Bahkan, ada juga peserta yang membawa tandu Kiu yang di dalam tandu tersebut ada patung dewa.

Sesampainya arakan di Jalan Sudirman, Kota Pakning, tepatnya di depan Hotel Wisata, dilakukan ritual sembahyang yang dipimpin oleh seorang Tangkie atau biasa disebut pimpinan dewa.

"Ritual oleh masyarakat Tionghoa tersebut menjadi kesempatan untuk meminta berkah kepada dewa mereka dengan memegang dupa sebagai simbol permintaan," kata AtengLiong.



Dukung khazanah kebudayaan Indonesia

Kegiatan seni tradisi itu juga mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Camat Bukit Batu Taufik Hidayat mengaku sangat mendukung khazanah kebudayaan di Indonesia. Salah satunya perayaan Cue Lak yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Sungai Pakning dalam menyambut tahun baru Imlek.

"Kegiatan ini merupakan cermin toleransi di Kecamatan Bukit Batu yang berjalan dengan baik, dan saya selalu mendukung kegiatan ini," kata Taufik.

Taufik juga berharap perayaan tahun baru Imlek ini dapat dijadikan kegiatan ritual, dan atraksi tersebut menjadi wisata religi yang akan terus dipertahankan.

"Masyarakat Tionghoa di Kecamatan Bukit Batu sudah berbaur dengan masyarakat tempatan dan kegiatan ini hendaknya dapat dijadikan aset budaya di Kecamatan Bukit Batu," ujarnya.

Baca juga: Berikut ragam pernak-pernik Imlek yang paling dicari di tahun Tikus Logam

Baca juga: Permintaan atraksi barongsai di Pekanbaru meningkat untuk Imlek. Begini tarifnya