Kemenko Polhukam desak UNHCR atasi pengungsi di Pekanbaru

id Pengungsi

Rapat koordinasi penanganan pengungsi dari luar negeri di Riau yang diselenggarakan oleh Satgas penanganan pengungsi luar negeri di salah satu hotel di Pekanbaru, Selasa (20/8). (Foto Antaranews/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Unjuk rasa yang dilakukan pengungsi luar negeri di Pekanbaru, sebanyak dua kali dalam bulan ini mendapatkan perhatian dari Satuan Tugas (Satgas) penanganan pengungsi luar negeri Kementerian Politik Hukum dan Hak Azazi Masyarakat (Kemenko Polhukam) saat rapat koordinasi di Pekanbaru, Selasa.

Kemenko Polhukam bahkan telah mendesak Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) agar segera mencarikan penyelesaiannya.

"Mereka kita desak dan dorong untuk mempercepat proses resettlement atau penempatan di negara ketiga khususnya pengungsi luar negeri yang ada di Pekanbaru," kata Ketua Satgas Harian Penanganan Pengungsi Luar Negeri Kemenko Polhukam Chairul Anwar pada acara rapat koordinasi penanganan pengungsi dari luar negeri di Riau yang diselenggarakan di salah satu hotel di Pekanbaru.

Menurut Chairul Anwar unjuk rasa yang terjadi di Pekanbaru temanya sama dengan beberapa daerah seperti Makassar, Tanjung Pinang, Bintan dan sebagainya.

"Masalah yang mereka usung tentang percepatan penempatan di negara ketiga, agar mereka bisa cepat diterima ke negara penerima resettlement," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, kini UNHCR harus segera mengambil tindakan karena itu tanggungjawab mereka bukan tanggungjawab pemerintah Indonesia.

Apalagi berdasarkan data kini jumlah imigran di Indonesia sudah mencapai 13.997 jiwa dan sebanyak 1.010 berdiam di Pekanbaru.

Sebelumnya diberitakan ratusan pencari suaka politik di Pekanbarumenggelar unjuk rasa ke organisasi internasional untuk migrasi atau InternationalOrganizations forMigration (IOM) yang berkantor di Gedung Graha Pena, Pekanbaru, Riau, Senin (19/8).

Mereka menuntut percepatan untuk keberangkatan ke negara tujuan suaka.

Salah satu pengungai Ije, pria asal Irak yang telah berada di Pekanbaru sejak 2013 silam itu mengatakan aksi ini dilakukan agar IOM dan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atauUNHCRmendengarkan suara mereka.

"Kami ingin organisasi internasional mendengarkan suara kami. Sudah tujuh tahun kami di sini hidup dalam keterbatasan. Tidak ada pekerjaan dan anak-anak kami tidak mendapat pendidikan," kata pria yang fasih berbahasa Inggris tersebut.

Dia meminta agar organisasi internasional segera memproses ke negara tujuan. Selain itu, melalui aksi yang turut melibatkan anak-anak dan wanita tersebut juga ingin agar negara ke tiga yang menjadi tujuan mereka melakukan tindakan agar menerima keberadaan mereka.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar