Polisi tangkap tokoh adat "Batin" perambah Taman Nasional Tesso Nilo, begini penjelasannya

id Karhutla, Riau,Tesso nilo,berita riau antara,berita riau terbaru ,taman nasional tesso nilo,perambahan tesso nilo

Polisi tangkap tokoh adat "Batin" perambah Taman Nasional Tesso Nilo, begini penjelasannya

Plang pemberitahuan rusak akibat ikut terbakar saat kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Selasa (13/8/2019). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan akan melakukan penataan dan penegakan hukum di habitat Gajah Sumatra karena ada lebih dari 8.000 kepala keluarga telah menjarah Tesso Nilo, yang disinyalir menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan pada tahun ini. ANTARA FOTO/FB Anggoro/hp.

Pekanbaru (ANTARA) - Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Pelalawan menangkap seorang tokoh masyarakat atau "Batin/Bathin" yang dijuluki sebagai "Batin Hitam Sungai Medang" atas dugaan melakukan perambahan lahan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

"Tersangka membuka lahan di TNTN seluas enam hektare untuk perkebunan karet," kata Kapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan dihubungi dari Pekanbaru, Rabu.

Ia mengatakan tersangka berinisial AA itu ditangkap setelah Polres Pelalawan mendapat informasi pembukaan lahan dengan cara membakar di kawasan konservasi itu dari Balai TNTN.

Berdasarkan laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap AA, pria paruh baya tersebut awal pekan ini.

Saat ini, AA telah ditetapkan sebagai tersangka meski pada awalnya dia menolak mengakui lahan yang ia buka termasuk dalam kawasan lindung.

Yang bersangkutan tidak mengakui bahwa lahan tersebut berada dalam kawasan taman nasional melainkan tanah ulayat (tanah adat). "NamunBalai TNTN memastikan masuk ke kawasan konservasi," ujarnya.

Polisi menjerat tersangka dengan pasal berlapis Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)telah mengantongi data cukong atau pencaplok lahan Taman Nasional Tesso Nilo yang menguasai lahan di kawasan konservasi itu hingga ribuan hektare.

"Kita juga sudah punya petanya. Siapa yang punya tiga hektare dan siapa yang punya 3.000 hektare," kata Menteri LHK Siti Nurbaya kepada wartawan di Pelalawan, Selasa(13/8).

Ia menjelaskan kondisi TNTN saat ini sangat memprihatinkan. Kebakaran tersebut sangat tidak mungkin akibat ketidaksengajaan. Menurut dia ada kelompok tertentu yang telah membuat zonasi di areal konservasi itu.

Pemerintah bersama Polri akan mengedepankan tindakan penegakan hukum dalam mengatasi masalah di TNTN. Termasuk diantaranya turut melibatkan Pemerintah Provinsi Riau serta kalangan aktivis lingkungan yang memahami benang kusut di TNTN.

"Memang aspek utama adalah penegakan hukum," ujarnya.

Dia mengklaim mendapat dukungan penuh dari Kapolri untuk melakukan tindakan law enforcementdi TNTN.

"Kemarin sore pak Kapolri sudah mempertegas tentang langkah penegakan hukum. Konseptualisasi sudah ada. Kita selesaikan bersama aparat dan aktivis lapangan yang memahami wilayah itu," kataSiti Nurbaya.

TN Tesso Nilo adalah kawasan konservasi, yang salah satunya berfungsi sebagai habitat asli satwa endemik gajah sumatera (elephas maximus sumatranus).

Awalnya, luas TN Tesso Nilo adalah 38.576hektare (ha) berdasarkan Surat Keputusan Menhut No.255/Menhut-II/2004.Kemudian kawasan konservasi itu diperluas menjadi 83.086ha dengan memasukkan areal hutan produksi terbatas yang berada di sisinya, berdasarkan SK No.663/Menhut-II/2009.

Namunkerusakan yang terjadi di kawasan itu akibat perambahan sudah sangat massif yang mengubah bentang alam hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Baca juga: Gawat, Karhutla meluas bergerak ke zona inti TN Tesso Nilo

Baca juga: Api dekati kamp Flying Squad, gajah sumatera di Tesso Nilo stres akibat Karhutla

Baca juga: Menteri Siti soroti kebakaran di Taman Nasional Tesso Nilo


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar