Lomba jalan lintas alam pertama kali akan digelar di SM Rimbang Baling

id suaka margasatwa ,rimbang baling,BBKSDA Riau,hutan di riau,pariwisata di riau,berita riau antara,berita riau terbaru

Sejumlah petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama warga menghitung panjang rute jalur interpretasi yang akan jadi rute lomba jalan lintas alam Rimbang Baling Jugle Track di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling di Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (20/6/2019). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Kampar, Riau (ANTARA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau akan menggelar lomba jalan lintas alam yang akan pertama kalinya berlokasi di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, atau yang akrab disebut Rimbang Baling, di Kabupaten Kampar, pada bulan Juli 2019.

“Target akan ada 200 peserta, terdiri dari 40 tim berisi lima orang. Kita akan ajak kawula muda generasi milenial berkegiatan di alam,” kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, di sela rapat persiapan lomba jalan lintas alam, di Desa Tanjung Belit Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Jumat.

Ia menjelaskan, lomba jalan lintas alam tersebut akan bertajuk “Rimbang Baling Jungle Track ~ Millenial Love Nature”. Peserta akan berasal dari anak muda dari tingkat pendidikan SMA hingga mahasiswa, seperti yang tergabung di Pramuka dan mahasiswa pencinta alam di Riau. Suharyono mengatakan Rimbang Baling Jungle Track merupakan rangkaian dari peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), yang tiap tahun diperingati tiap tanggal 10 Agustus.

Rute lomba sejauh sekira 10 kilometer dari Desa Muara Bio, yang masuk ke Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, ke Desa Tanjung Belit yang merupakan daerah penyangga kawasan konservasi itu. Peserta akan dua hari mengikuti kegiatan itu, diawali dengan menyusuri Sungai Subayang dengan sampan ke dalam Rimbang Baling dan berkemah semalam di Desa Muara Bio.

Lomba dimulai pada hari kedua, tiap peserta berjalan kaki hingga garis finish di Desa Tanjung Belit. Wartawan ANTARA sempat menjajal trek lomba bersama petugas BBKSDA Riau, dan rute yang akan dilalui sangat menantang namun untuk memacu adrenalin. Peserta akan disuguhi pemandangan alam yang indah dari Bukit Rimbang Baling, menyeberangi beberapa sungai kecil yang jernih airnya, sambil bisa mendengarkan suara satwa seperti burung dan beruk.

“Kegiatan ini didesain untuk fun atau menggembirakan. Kita akan mengajak pelajar dan mahasiswa bisa memahami aktivitas dan kehidupan di alam sekitar. Kami dalam waktu dekat akan mempublikasikan lebih lanjut tentang lomba ini,” ujarnya.

Pengenalan Jalur Interpretasi

Suharyono mengatakan Rimbang Baling Jungle Track juga sebagai upaya untuk memperkenalkan jalur interpretasi yang kini dalam tahap pembangunan di suaka margasatwa itu. Rute lomba dari Desa Muara Bio ke Tanjung Belit merupakan bagian jalur interpretasi.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah menyetujui pembangunan jalur interpretasi sepanjang sekira 37 kilometer di sembilan desa mulai dari Desa Tanjung Belit, Batu Songgan, Tanjung Beringin, Gajah Betalut, Aur Kuning, Terusan, Subayang Jaya dan Pangkalan Serai. Delapan desa setelah Tanjung Belit berada di dalam kawasan suaka margasatwa di daerah aliran Sungai Subayang.

Jalur interpretasi itu berfungsi untuk membuka akses darat ke delapan desa yang terisolir di Rimbang Baling, sekaligus sebagai jalur evakuasi apabila terjadi keadaan darurat dan mendukung pengembangan ekowisata. Karena itu, BBKSDA Riau melibatkan semua pemangku kebijakan untuk terlibat dalam acara edukatif tersebut. Suharyono mengatakan Pemkab Kampar dipastikan akan berpartisipasi, kemudian semua pemangku adat (ninik mamak), perangkat desa yang ada di dalam suaka margasatwa, dan juga LSM lingkungan yang beroperasi di kawasan konservasi itu.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono memberikan penjelasan tentang rencana Rimbang Baling Jungle Track pada rapat bersama seluruh kepala desa, perwakilan Pemkab Kampar dan LSM di Desa Tanjung Belit, Riau, Jumat (21/6/2019). (Antaranews/FB Anggoro)


Seluruh kepala desa yang hadir dalam rapat tersebut sepakat untuk membantu dan rata-rata akan mengirimkan lima orang untuk masuk terlibat dalam kepanitiaan. Bahkan, mereka juga siap menyiagakan mobil ambulans dan perahu ambulans untuk acara itu.

“Lomba lintas alam ini baik sekali untuk mengangkat tentang wilayah kita, terutama wisatanya. Kami akan membantu yang dibutuhkan, dari tenaga dan pikiran kami siap,” kata Kepala Desa Tanjung Belit, Efri Desmi.

Dukungan senada juga disampaikan oleh ninik mamak Kenagarian Tanjung Belit, Datuk Godang Defrizarman. Ia mengatakan masyarakat setempat di Tanjung Belit mendukung acara itu karena dalam dua tahun terakhir sudah merasakan dampak dari pengembangan pariwisata. Desa Tanjung Belit memiliki objek wisata berupa Air Terjun Batu Dinding dan yang terbaru adalah pemandian Sungai Lalan.

“Harapannya ini digelar tiap tahun, supaya jadi agenda tahunan BBKSDA Riau,” kata Datuk Godang.

Rimbang Baling, memiliki luas 136 ribu hektare berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau tahun 1982, dan pada KLHK telah menetapkan kawasan itu sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) dengan luas sekitar 142 ribu hektare pada 2016. Topografi hutan yang berbukit dan sungai yang mengalir jernih selama ini menjadi habitat alami bagi flora dan fauna terancam punah, salah satunya adalah harimau sumatera.

Selain itu, di kawasan ini sudah sejak lama menjadi tempat tinggal bagi warga di 12 desa, yang secara adat masuk dalam Kekhalifahan atau Kerajaan Gunung Sahilan. Hingga kini masih ada Raja Gunung Sahilan yang diakui, yakni Tengku Muhammad Nizar, yang baru dinobatkan pada 2017.

Baca juga: Khawatir illog, Kadis Pariwisata tolak pembangunan jalan di SM Rimbang Baling

Baca juga: Mencoba Wisata Alam Sejarah yang Menantang Adrenalin di Rimbang Baling Kampar

Baca juga: Bakal ada wisata rusa di habitat harimau Bukit Rimbang Baling. Ini penjelasan BBKSDA Riau


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar