Antisipasi banjir, Pemko Pekanbaru klaim normalisasi tiga sungai

id Banjir,banjir pekanbaru,berita riau antara,berita riau terbaru

Antisipasi banjir, Pemko Pekanbaru klaim normalisasi tiga sungai

 Hujan lebat yang melanda Pekanbaru Selasa (11/6/2019) malam hingga Rabu (12/6/2019) pagi mengakibatkan terendamnya ratusan rumah warga di beberapa wilayah, diantaranya Tampan, Labuh  Baru Barat, Rumbai dan sebagainya. (Antaranews/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Pemerintah Kota Pekanbaru rutin melakukan normalisasi bagi tiga Sungai setempat untuk menjaga aliran air tetap lancar saat hujan, khususnya menekan genangan air.

"Ada tiga sungai yang jadi pembuangan air saat ini yakni Sail, Air Hitam, dan Batak," kata Walikota Pekanbaru Firdaus melalui Kabag Humas, Mas Irba Sulaiman kepada Antara di Pekanbaru, Rabu.

Ketiga sungai tersebut kini terus dijaga dan diupayakan tidak mengecil agar pembuangan airnya lancar saat hujan tiba.

Selain normalisasi sungai, Pemko melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga rutin membersihkan parit dan drenase di pemukiman dan kawasan perkantoran. Untuk mengeluarkan sampah dan pendangkalan akibat endapan tanah. Ribuan kilometer saluran air ini secara bergiliran dibersihkan oleh petugas pasukan kuning, di 12 kecamatan.

Diakui Mas Irba sejauh ini upaya itu memang tidak maksimal, karena banyak faktor di antaranya pola hidup dan budaya bersih masyarakat yang masih rendah dan sesukanya membuang sampah. Sehingga saat hujan akan terhanyut ke parit, selokan hingga ke sungai yang berakibat penyumbatan.

"Tingkat kesadaran masyarakat kurang misalkan di Jalan Garuda Sakti ada genangan air, banyak sampah," ujarnya.

Selain itu ada juga akibat penyempitan bahkan hilangnya beberapa fungsi sungai akibat bangunan masyarakat. Walau sudah diingatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak boleh digunakan atau didirikan bangunan, ini terjadi pada beberapa sungai di Pekanbaru.

"Misalkan Sungai Sago, Sail yang katanya ada penyempitan, Sungai Pelan, di Sukaji, Sungai Bintan Simpang Tiga konon sudah mati, ini juga diharapkan kesadaran masyarakat akan kembali memungsikannya," tutur Mas Irba.

Selain masalah lokal yakni hulu, sambung dia juga hilir makanya penanganan banjir di Pekanbaru tidak hanya bisa diselesai sendiri tetapi lintas kabupaten, dan sektoral, misalkan Jalan SM Amin yang merupakan perbatasan dengan Kampar, di sana ada peninggian, sehingga aliran air untuk mencari jalan ke sungai Siak sulit.

"Untuk jalan HM Sobrantas airnya turun ke Tarai Bangun, yang alirannya seperti mulut botol, itu perlu koorsinasi dengan Kampar, dan PUPR provinsi," tegasnya.

Contoh lainnya banjir di kawasan Tampan beberapa waktu lalu itu adalah dampak dari luapan air dari aliran Sungai Bintungan. Kondisi ini terjadi karena ada penyempitan di aliran sungai yang berbatasan dengan Kabupaten Kampar.

"Jadi pernasalahannya tidak cuma di hulu saja. Perlu dituntaskan di kawasan hilirnya, tapi itu ada di wilayah Kabupaten Kampar," jelasnya.

Ia menyebut penanganan banjir ini bakal dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Kampar dalam kordinasi regional Pekanbaru, Siak, Kampar dan Pelalawan. Upaya penanganan banjir juga melibatkan Pemerintah Provinsi Riau.

Ada koordinasi antara Bappeda, Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup masing-masing daerah untuk menangani banjir sesuai tugasnya. Ia menargetkan solusi banjir ini sudah dibahas pada 2019 ini.

"Jadi ini masalah regional, kita berada di hulu. Saat hilir tidak tuntas, banjir bakal tetap terjadi," pungkasnya.

Baca juga: Ironis, korban tewas banjir Pekanbaru adalah pengantin baru

Baca juga: Warga Payung Sekaki keluhkan luapan Sungai Air Hitam rendam perumahan
Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar