Kota Dumai dan jejak Caltex

id sejarah dumai, kota dumai, caltex, PT CPI, chevron

Kota Dumai dan jejak Caltex

Pelabuhan Minyak Dumai pada 1968. (ANTARA/HO-PT CPI)

Jalan minyak yang dibuka Caltex akhirnya menjadi awal Dumai berkembang pesat seperti sekarang,
Dumai (ANTARA) - Saat mengisahkan sejarah hidup sebagai seorang anak dari Wali Kota Dumai pertama Drs Wan Dahlan Ibrahim, mimik wajah H Wan Adi Surya Herlambang tampak berseri dengan mata berkaca-kaca saat memutar ulang memori puluhan tahun silam.

Pria 54 tahun ini terkenang dengan perjuangan dan kontribusi orangtuanya yang mendapat kepercayaan pemerintah memimpin pembangunan Dumai mulai tahun 1979. Awalnya, Dumai hanya sebuah kampung nelayan kecil terpencil. Transportasi menuju atau dari daerah lain saat itu masih sangat sulit, hanya bisa melalui jalur air.

Wan Adi Surya yang kini masih aktif sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kota Dumai mengakui perkembangan daerahnya mulai berdenyut setelah PT. Caltex Pacifik Indonesia (PT CPI) menginjakkan kaki ke Tanah Melayu tersebut. Berbagai bantuan dan sumbangsih perusahaan minyak ini memiliki andil besar membangun Kota Dumai.

Semasa menjadi pejabat daerah, Walikota Wan Dahlan Ibrahim terus mendorong partisipasi Caltex membantu penyediaan kebutuhan masyarakat dan mengembangkan sumber daya manusia lewat program pendidikan.

Adi Surya menilai Caltex sangat fokus memperhatikan sektor pendidikan dan kebutuhan hajat hidup orang banyak, dengan membangun sekolah dasar di Jalan Sultan Syarif Kasim atau sering disebut Laboroseng, pasar tradisional di Jalan Jenderal Sudirman, tangki air bersih atau disebut Tangki Jepang di Jalan Pattimura dan Jenderal Sudirman.

"Sekolah dasar yang sampai detik ini masih kokoh berdiri di Laboroseng yang dibangun Caltex. Begitu juga tangki tabung air di Jalan Pattimura dan (Jalan) Sudirman yang telah banyak membantu kebutuhan air masyarakat," tutur Adi Surya, yang merupakan putra kedua pasangan Wan Dahlan Ibrahim dan HjGustiah ini.

Pembangunan Dumai mulai pesat sejak tahun 1960, dan tidak sedikit peran Caltex di dalamnya. Bantuan tangki tabung air diberikan Caltex pada tahun 1979. Hingga kini nama Laboroseng dan Tangki Jepang masih lekat di telinga masyarakat untuk penyebutan nama kedua kawasan itu.

Selanjutnya, menurut Adi Surya, PT. Caltex Pacific Indonesia, yang kini berganti nama menjadi PT. Chevron Pacific Indonesia, juga berkontribusi kepada pemerintah daerah dengan mendukung pembangunan kantor walikota lama di Jalan HR Soebrantas.

Salah satu kontribusi terbesar Caltex bagi Kota Dumai adalah membuka jalan akses transportasi darat, yang awal digunakan untuk kepentingan operasi migas. Jalan ini kemudian menjadi jalan umum pertama di Dumai, yang memungkinkan masyarakat menggunakan jalur darat untuk bepergian ke luar daerah. Sebelumnya, perjalanan dari Dumai ke Pekanbaru hanya dapat dilalui melalui jalur air selama lebih dari satu hari dengan menggunakan kapal pompong menyusuri Selat Rupat, lalu berbelok kanan memasuki Sungai Siak.

Diwartakan Mingguan Karyawan Minyak Caltex tahun XVII No 22-1979, Dumai pada pertengahan Juli 1979 statusnya berubah sebagai kota administrasi. Padahal, dua puluh tahun sebelumnya Dumai masih sebuah kampung nelayan nan sepi yang hanya disinggahi perahu dan sampan kecil saja.

Pembangunan Pelabuhan Minyak Dumai pada tahun 1957. (ANTARA/HO-PT CPI)


Cikal bakal Dumai

Cikal bakal Kota Dumai berawal dari sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Kota Dumai mulai berdenyut sejak PTCaltex Pacific Indonesia (PT CPI) mulai membangun dermaga minyak, yang pada 15 Juli 1958 diresmikan Menteri Perindustrian Ir. FJIngkiriwang.

Peresmian dermaga minyak PT CPI ini dihadiri sejumlah pejabat pemerintahan kala itu, di antaranya Menteri Keuangan Sutikno Slamet, Gubernur Riau SM Abidin, Bupati Bengkalis Abdullah Sjafiie serta pimpinan Caltex RN. Harding dan JTahija.

Dermaga minyak Caltex dibangun berbentuk huruf T, dengan luas80 x 8,5 meter, dan termasuk lima pelabuhan terbesar di dunia pada era 1950-an. Sejak itulah awal perkembangan pelabuhan Dumai bermula, sekaligus dimulainya perjalanan Dumai sebagai sebuah kota.

Bagi Caltex sendiri, pembukaan dermaga Dumai merupakan pemecahan masalah penting untuk pengangkutan minyak mentah dari pedalaman Riau ke pasar dunia. Saat itu, jaringan pipa Duri-Dumai milik Caltex mulai mengalirkan minyak dari Lapangan Minas. Sebelumnya, minyak tersebut harus diangkut dengan kapal dari Perawang Siak melalui Sungai Pakning menuju Dumai.

Namun, jauh sebelum itu, alkisah di wilayah Dumai terdapat sebuah kerajaan yang mempunyai hulubalang wanita bernama Teduh. Hulubalang ini mempunyai kepercayaan bahwa perang hanyalah akan membawa kemelaratan, sehingga ia senantiasa berusaha menciptakan perdamaian dengan para tetangga. Inilah sejarah lahirnya nama Damai yang lambat laun menjadi Dumai.

Dumai pernah mengalami masa kejayaan, yaitu pada masa sebelum Perang Dunia II. Dumai merupakan salah satu daerah taklukan Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Pada 1940-1941, ketika minyak pertama kali ditemukan di daerah Sebanga dan Duri, sejumlah tenaga penyelidik dan juru ukur mulai mempelajari kemungkinan membangun jaringan jalan dan pipa menembus hutan dari Duri ke tempat terdekat untuk mengapalkan minyak di pantai timur pulau Sumatera.

Ketika pecah Perang Dunia II, rencana ini gagal terlaksana. Di masa perang, tempat ini ramai kedatangan pekerja romusha yang diangkut tentara Jepang dari Jawa. Pasca perang, banyak di antara mereka yang memilih menetap dan membuka hutan untuk dijadikan kebun.

Pembangunan pipa minyak Duri-Dumai pada tahun 1958. (ANTARA/HO-PT CPI)


Menyulap hutan dan rawa

Pada 1953 atau setahun sesudah minyak Minas mulai berproduksi melalui pipa minyak ke Perawang, ahli Geologi Caltex kembali melakukan pengeboran lanjutan di lapangan minyak Duri yang sudah delapan tahun terbengkalai. Tiga tahun kemudian, sebuah proyek pengembangan migas raksasa, yang disebut sebagai Proyek Rencana Perluasan mulai dilaksanakan.

Program rencana perluasan Kota Dumai oleh PT CPI diberi nama Rencana Dumai 1956. Salah satu proyek pembangunan adalah dermaga minyak yang dapat memindahkan 33.000 barel minyak per jam ke kapal tangki.

Pengembangan berikutnya meliputi pembangunan perkampungan modern dan pelabuhan samudra yang dapat dimasuki kapal tangki minyak besar, gedung perkantoran, tangki penyimpanan minyak, gedung sekolah, balai peristirahatan buruh, lapangan olahraga, dan lapangan terbang yang sekarang menjadi Bandara Pinang Kampai.

Selanjutnya menyusul pembangunan jalan raya Duri-Dumai sepanjang 57 km yang terhubung dengan jalan raya Rumbai - Duri. Masyarakat dari berbagai pelosok mulai datang ke Riau untuk mengadu nasib. Dengan perjalanan dari dan ke Pekanbaru yang hanya memakan waktu lima jam jalan darat, Dumai mulai berdetak.

Saat yang tak dapat dilupakan oleh penduduk Dumai adalah ketika pada Agustus 1956. Kala itu rombongan Caltex dengan beberapa tenaga ahli dari New York tiba dengan sebuah house boat atau rumah kapal mengangkut pekerja-pekerja. Mereka inilah yang dapat disebut sebagai pelopor dan perintis pembangunan fisik di Dumai.

Berbagai alat alat berat segera bekerja membuka hutan, mengeringkan rawa-rawa, mengangkut tanah untuk menimbunnya, dan kemudian membangun jalan di atasnya, serta memasang pipa minyak besar dan panjang.

Tidak kurang dari tiga ribu pekerja terlibat dalam pekerjaan menyulap hutan dan rawa itu menjadi perkampungan yang layak huni. Sejak dimulainya pekerjaan besar ini, mengalir deras penduduk dari segenap penjuru, khususnya dari Bengkalis, Batu Panjang dan Pekanbaru untuk mengadu nasib di sepanjang jalan kampung. Jantung kampung Dumai makin berdetak kencang dengan banyaknya kedai dan warung yang dibuka pendatang.

Secara geografis, Dumai terletak tidak jauh dari garis khatulistiwa dan terlindungi oleh Pulau Rupat dari terpaan ombak besar samudra. Ini adalah keuntungan tersendiri bagi suatu pelabuhan samudra yang akan dirapati oleh kapal besar karena tidak harus bergantung pada pasang surut air laut. Kurang dari dua tahun, pada 1958 bagian pertama proyek perluasan ini pun selesai.

Pada 1962, dengan jumlah penduduk sekitar 8.000 orang, kampung (desa) Dumai berubah statusnya menjadi kota kecamatan. Kemudian pada 1968, Pertamina membangun pusat penyulingan minyak untuk mengolah minyak mentah yang dihasilkan Caltex. Seiring makin pentingnya kedudukan Dumai bagi perkembangan Provinsi Riau, instansi-instansi pemerintah mulai membuka kantor di kota kecamatan ini.

Dermaga minyak Caltex terus pula berkembang. Caltex membangun tangki-tangki berkapasitas 7,2 juta barel minyak, sementara 34 buah tangki milik Pertamina mampu menampung 2,5 juta barel minyak mentah dan hasil penyulingan.

Semua ini menjadikan Dumai tumbuh amat pesat menjadi kota pelabuhan minyak yang terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 1975, Lapangan Udara Pinang Kampai selesai dibangun, semakin lengkaplah fasilitas yang dimiliki Dumai.

Resmi Kota Administratif

Perubahan status Dumai yang semula adalah kota kecamatan ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 yang dikeluarkan pada 11 April 1979. Selanjutnya, Menteri Dalam Negeri Amir Machmud pada pertengahan Juli 1979 meresmikan Dumai sebagai kota administratif. Gubernur Riau HRSoebrantas kemudian melantik dan mengambil sumpah DrsWan Dahlan Ibrahim sebagai Wali Kota Dumai pertama.

Penetapan Dumai sebagai kota administratif disebabkan perkembangan yang amat pesat dengan meningkatnya kegiatan perminyakan di wilayah sekitar. Tujuan pembentukan kota administratif ini adalah untuk meningkatkan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan selain sebagai sarana utama bagi pembinaan wilayah dalam mendorong usaha peningkatan laju pembangunan.

Dumai menjadi kota administratif ke-11 di Indonesia, sesudah Tasikmalaya, Cimahi, Jember, Banjarbaru, Bitung, Palu, Kendari, Mataram, Denpasar dan Kupang.

Kota administratif Dumai terbagi atas dua kecamatan, yakni Kecamatan Dumai Barat, yang mencakup Desa Laksamana, Rimba Sekampung, Pangkalan Sesai, Bukit Datuk, Purnama dan Bukit Timah, dan Kecamatan Dumai Timur, yang terdiri dari Desa Sukajadi, Kota, Teluk Binjai, Buluh Kasap, Tanjung Palas dan Jaya Mukti.

Daerah perumahan PT CPI di Bukit Jin yang semula berada dalam wilayah Kecamatan Dumai, kini masuk dalam wilayah Kecamatan Bukit Kapur dan saat itu bernaung di bawah Kabupaten Bengkalis.

Tulang Punggung Dumai

Kini Kota Dumai memiliki penduduk lebih 300 ribu jiwa, dan merupakan salah satu wilayah terpadat di Riau. Hal ini tentunya berkat kontribusi PT CPI, yang menjadi tulang punggung Dumai sejak dekade 1950an. Keberadaan Caltex pulalah yang membuat Pemerintah mendirikan kilang minyak PT Pertamina RU II Dumai.

Jauh sebelum Pemerintah Kota Dumai Administratif diresmikan, PT CPI sudah banyak melakukan berbagai pembangunan untuk membuka keran keterbelakangan Dumai

"Kalau tak ada Caltex Dumai tidak akan maju. Jalan minyak yang dibuka Caltex akhirnya menjadi awal Dumai berkembang pesat seperti sekarang," kata Abdullah Sani, seorang pekerja kontrak PT CPI yang bekerja di bawah tahun 1960.

Sani, yang kini berusia 70 tahun, mengaku sangat berkesan dengan pembangunan jalan minyak yang dibangun PT CPIkarena berkat jalan tersebut warga tidak lagi harus menggunakan jalur air untuk bepergian ke luar Dumai. Masih lekat dalam ingatan Sani, kendaraan seperti mobil dan bus yang melintas di jalan minyak itu harus memakai rantai pada roda agar tidak terpeleset atau selip.

"Sejak ada Caltex, warga sangat terbantu. Jadi perusahaan ini saya nilai sangat berjasa buat Riau, dan Dumai khususnya, karena telah membangun Dumai dari sebuah daerah terpencil menjadi kota besar," sebut pria kelahiran tahun 1949 ini.

Menurut Sani, kondisi Dumai sebelum tahun 1960 adalah sebuah perkampungan yang dikelilingi hutan dan perkebunan karet. Bagian yang sudah berpenghuni hanya di seputaran tepi laut atau di dekat pelabuhan, yakni di ujung Jalan Jenderal Sudirman. Penduduk Dumai sebagian besar nelayan dan petani karet.

"Semua masih hutan, kota hanya di pelabuhan. Jalan minyak membuat saya berkesan, dan ini akhirnya yang membuka semua awal pembangunan. Dumai tanpa Caltex tidak ada apa-apanya," imbuh Sani menutup pembicaraan.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar