Gaet 9 brand lokal dan 12 pengarajin batik serta tenun Riau, Melayu Merindu ingin anak muda cintai Wastra Melayu

id Launching Melayu Merindu,Melayu merindu, rapp, apr

Gaet 9 brand lokal dan 12 pengarajin batik serta tenun Riau, Melayu Merindu ingin anak muda cintai Wastra Melayu

Konferensi pers launching Melayu Merindu secara virtual. (ANTARA/tangkapan layar)

Pekanbaru (ANTARA) - Peluncuran Melayu Merindu menggaet 12 pengrajin Riau dan sembilan brand lokal, yang menciptakan fesyen yang akan disukai generasi muda namun dengan sentuhan budaya Melayu, Senin.

Co-FounderWiyasa TFA, Seira Meutia, menyebutkan strategi pihaknya untuk menyentuh pasar generasi muda yaitu salah satunya dengan popping digital marketing, yaitu dengan mengajak market place Tokopedia untuk ambil andil dalam kampanye ini.

"Generasi muda kini belanja mengungkapkan handphone-nya, kami melihat ini potensi yang cukup besar dan sayang untuk dilewatkan. Strategi lainnya yaitu bagaimana mengaklerasikan agar produk Wastra Melayu dapat diterima masyarakat muda, bagaimana membuat generasi muda jatuh cinta dulu dengan Wastra," jelas Seira.

"Berangkat dari songket, lalu bagaimana Wastra bisa bertransformasi menjadi karya yang cocok di generasi muda," lanjutnya.

Adapun produk-produk yang ditawarkan dari Melayu Merindu yaitu fesyen yang sudah akrab dengan anak muda namun dengan sentuhan budaya, seperti outer, pants, celana, hoodie, kain dan lain sebagainya.

Sementara Ketua BPD API Riau sekaligus Direktur Asia Pasific Rayon (APR) Basrie Kamba mengatakan, dengan kini pasar telah berubah, permintaan customer berubah, oleh karena itu produsen juga harus berubah mengikuti arah permintaan customer.

"Produsen harus open minded, terbuka dan mencari pasar mana yang cocok. Jangan semua berkiblat pada fashion show," ucap Basrie.

Salah satu pengrajin batik di Melayu Merindu, Arniningsih mengungkapkan setelah mengikuti Melayu Merindu ia mendapatkan pengalaman bagaimana mengemas batik dengan lebih ciamik.

"Kalau kemarin batik dikenakan untuk menghadiri undangan dan acara resmi, ternyata batik juga bisa menjadi sesuatu fesyen lain yang menarik tanpa meninggalkan kebudayaan dari daerah itu sendiri," ungkap Arniningsih.

Senada dengan Arniningsih, Elaeis Pratiwi pemilik brand alwafa hijab mengaku menyadari indahnya Wastra Indonesia setelah mengikuti program Melayu Merindu.

"Sebetulnya budaya Indonesia memiliki banyak filosofi untuk menjalani kehidupan. Contohnya batik Nagori Kuansing yang ternyata memiliki banyak arti, tentang bagaimana bekerjasama dan mencintai budaya yang ada," jelasnya.

"Untuk teman-teman lain yuk lebih kita kenali Wastra Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi yang akan mencintai budaya Indonesia," lanjutnya.

Selain itu Elaeis berharap UMKM di Riau dapat berkembang seperti UMKM nasional lainnya, bahkan dapat disetarakan dengan skala internasional.