BI catat pertumbuhan uang beredar pada bulan Mei melambat, capai Rp6.994,9 triliun

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, BI

BI catat pertumbuhan uang beredar pada bulan Mei melambat, capai Rp6.994,9 triliun

Ilustrasi: Pekerja membawa uang rupiah di cash center sebuah bank di Jakarta. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/ama.)

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia mencatatkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2021 tetap terjaga yaitu sebesar Rp6.994,9 triliun atau tumbuh 8,1 persen (yoy) namun melambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 11,5 persen (yoy).

“Perlambatan terjadi pada mayoritas komponen uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Bank Indonesia larang lembaga keuangan gunakan uang kripto untuk alat pembayaran

Baca juga: Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan ekonomi RI akan tumbuh 5,5 persen tahun depan


Pertumbuhan M1 pada Mei 2021 sebesar 12,6 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan April 2021 sebesar 17,4 persen (yoy).

Pertumbuhan uang kuasi juga melambat dari sebesar 9,7 persen (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 6,8 persen (yoy) pada Mei 2021.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan M2 pada Mei 2021 terutama dipengaruhi oleh perlambatan aktiva luar negeri bersih.

Faktor aktiva luar negeri bersih tercatat tumbuh 6,4 persen (yoy) atau melambat dibandingkan 10,7 persen (yoy) pada April 2021.

Sementara itu tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh mencapai 61,4 persen (yoy) yang lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 45 persen (yoy).

Selain itu untuk kredit yang diberikan terbatas hanya dalam bentuk pinjaman atau loans dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman tumbuh minus 1,3 persen (yoy).

Kredit tersebut tercatat kontraksi meskipun terus menunjukkan perbaikan dibandingkan pertumbuhan Maret dan April 2021 masing-masing sebesar minus 3,7 persen (yoy) dan minus 2,4 persen (yoy).

Baca juga: Bank Indonesia akan lanjutkan 7 kebijakan guna pulihkan ekonomi nasional

Baca juga: BI latih 150 mubaligh agar dakwahkan belanja bijak dan hemat