BRGM targetkan 2800 rehabilitasi mangrove di Riau pada 2023

id BRGM ,Restorasi gambut dan mangrove

BRGM targetkan 2800 rehabilitasi mangrove di Riau pada 2023

Suasana rapat konsolidasi tim restorasi gambut dan mangrove Riau (ANTARA/Annisa Firdausi)

Pekanbaru (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) targetkan 2800 hektare rehabilitasi mangrove di Riau pada 2023 sesuai perhitungan bank dunia dan para ahli, baik dari akademisi maupun internasional.

Kepala Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum, dan Humas BRGM Didy Wurjanto di Pekanbaru, Rabu, menjelaskan menjelang 2025 Indonesia harus merehabilitasi 5.886 hektare mangrove.

Luasan mangrove di Indonesia sendiri merupakan 23 persen dari jumlah luasan mangrove di seluruh dunia. Jumlah tersebut dipercaya mampu memitigasi perubahan iklim.

"Yang penting dari restorasi adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan tanah gambut. Kita harus menyekat kanal untuk dimanfaatkan menjaga kelembaban," terang DidydlqmRapat konsolidasi dan koordinasi.

Disebutkan Didy, dunia memperhatikan upaya rehabilitasi di Indonesia. Sebab Indonesia kaya akan hutan dan lahan gambut yang mampu menyerap karbon.

Selain itu Indonesia juga punya mangrove atau hutan bakau terluas di dunia yang mampu menyerap karbon lebih besar daripada hutan tropis atau lahan gambut.

Oleh karena itu pula, Riau ditetapkan menjadi salah satu provinsi prioritas restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove oleh BRGM RI.

"Di Indonesia sendiri hanya ada tiga provinsi yang melaksanakan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove secara bersamaan, yaitu Riau, Kalimantan Barat dan Papua," lanjutnya.

Hl senada dinyatakanKepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Riau Maamun Murod dalam kesempatannya menyebutkan pihaknya telah menyusun rencana perlindungan dan pengelolaan gambut.

"Mengembalikan fungsi ekosistem gambut dan mangrove yang mengalami kerusakan merupakan upaya penyelamatan dari berbagai bencana lingkungan, seperti karhutla, banjir dan abrasi," terang Maamun.

Restorasi gambut tak hanya berdampak positif pada menurunnya intensitas Karhutla, namun juga berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat melalui revitalisasi ekonomi.

Pencegahan dengan teknik restorasi gambut dapat melalui pendekatan rewetting (pembasahan), revegetasi dan revitalisasi ekonomi (3R).

"Kami patut berterimakasih kepada BRGM dan KLHK yang terus mendukung pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan di Riau," pungkasnya.