Soal pencekalan UAS di Singapura, LAM Riau angkat bicara

id Lam Riau, Deportasi UAS, Singapura

Soal pencekalan UAS di Singapura, LAM Riau angkat bicara

Dakwah subuh Ustadz Abdul Somad di Masjid Agung Al-Anwar Marabahan, Sabtu (16/4/2022). (ANTARA/HO-Prokopimda Batola)

Pekanbaru (ANTARA) - Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) merasa tersayat baik secara relijius maupun kultural soal pencekalan Ustadz Abdul Somad (UAS) di Singapura.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (Ketum MKA) LAMR Datuk Seri Raja Marjohan Yusuf didampingi Ketum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Datuk Seri Taufik Ikram Jamil di Pekanbaru, Selasa mendesak Kedutaan Besar Indonesia di Singapura untuk segera memberikan keterangan resmi soal kondisi tersebut.

"Kalau itu dilakukan oleh negara di luar Asean, tentu tidak terlalu tersayat kita. Ini dilakukan oleh negara serumpun yang malah sempat sangat lama berada dalam suatu ikatan dengan Riau, termasuk dalam hal politik," kata Taufik.

Keduanya mengaku bahwa kabar pencekalan UAS itu memang baru mereka dengar dari keterangan UAS melalui video yang diperoleh langsung dari tim UAS, sebelum kabar itu merebak. Tidak ada keraguan sedikit pun terhadap kebenaran isi video tersebut yang segera ditanggapi berbagai kalangan.

"LAMR disebut tersayat secara relijius disebabkan bahwa selama ini, ceramah UAS sangat proporsional, tidak pernah menyinggung kesensitifan Singapura. Lagi pula, UAS mendatangi negara pulau itu untuk berlibur, bukan untuk suatu kegiatan relijius semacam ceramah dan tabligh akbar," kata dia.

Secara kultural, tentu mengingat Singapura bukan saja merupakan kawasan Melayu, tetapi juga sangat berperan dalam kebudayaan Melayu.

"Boleh dikatakan UAS tu balik kampung, tetapi diperlakukan tidak baik oleh orang sekampungnya sendiri. Kan sedih kita. Kalau hal itu terjadi di negara tidak serumpun, tidak sesedih ini kita," kata Taufik.

Taufik lantas teringat bahwa dalam mitologinya, Singapura pernah mengalami tragedi. Negara pulau itu diserang ikan todak, tidak lama setelah para penguasanya melecehkan seorang ulama, Tun Jana Khatib. Tentu, peristiwa semacam ini tak diharapkan terjadi yang menyengsarakan bangsa.

Selama ini, hubungan Singapura dengan Riau khususnya secara kultural, cukup baik. Beberapa tahun lalu misalnya, guru-guru Singapura mendalami kemelayuan justru di tanah Riau. Hubungan antarindividu seniman dan budayawannya pun terjalin erat.

Di sisi lain, lanjutnya,UAS sangat dihormati di Riau. Tidak saja saja sempat sebagai anggota MKA LAMR, UAS juga sempat diberi gelar adat kehormatan yakni Datuk Seri Ulama Setia Negara. Satu-satunya ulama yang diberi gelar adat setelah LAMR berdiri lebih dari 50 tahun.

Sementara itu, Datuk Seri Raja Marjohan, pihaknya ingin memperoleh kejelasan pendeportasian dari sisi lain. Untuk itulah, Kedubes RI di Singapura perlu dikontak serta, begitu juga terhadap sejumlah komponen di negara pulau tersebut.