Bisa bahaya, jangan gunakan eyeliner pada garis air

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara,bahaya

Bisa bahaya, jangan gunakan eyeliner pada garis air

Ilustrasi penggunaan eyeliner (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Eyeliner adalah salah satu alat rias yang mampu mengubah penampilan dalam sekejap, namun penggunaan yang salah dapat mengakibatkan memicu masalah kesehatan.

Dokter mata, Brittani Carver mengatakan mengaplikasikan eyeliner pada garis air atau kulit antara bulu mata dan mata bisa berbahaya.

Baca juga: Konsumsi bawang merah dapat melindungi mata hingga cegah sakit maag

"Alasan dokter mata tidak merekomendasikan memakai eyeliner di garis air mata Anda karena ada kelenjar khusus di sana yang memproduksi dan mengeluarkan minyak," kata dr. Carver dilansir Indian Express pada Sabtu.

Lebih lanjut dr. Carver menjelaskan bahwa mata yang sehat memiliki kelenjar yang mengeluarkan minyak yang teksturnya seperti minyak zaitun. Namun, dia memiliki pasien yang minyaknya keluar dalam bentuk pasta.

Menurut dr. Carver, mata pasien tersebut tidak menghasilkan air mata yang sehat sehingga mengakibatkan mata kering. Pasien dr. Carver tersebut, menggunakan eyeliner pada garis air sejak remaja.

Sementara itu, dr. Uma Malliah, konsultan senior Oftamologi, Rumah Sakit Indraprastha Apollo mengungkap hal yang sama dengan dr. Carver.

Dia mengatakan mengaplikasikan eyeliner cair ke garis air dapat menimbulkan risiko pada mata. Para ahli bahkan merekomendasikan untuk menggunakan kajal atau eyeliner tradisional dari bahan organik atau herbal untuk garis air.

Untuk mencegah mata kering atau alergi, dokter menekankan bahwa seseorang harus membersihkan sisa-sisa eyeliner atau kajal dengan benar sebelum tidur.

"Dengan mempraktikkan teknik kebersihan yang baik untuk menghilangkan dan mengaplikasikan kajal dan eyeliner, seseorang dapat menghindari banyak masalah mata yang tidak diinginkan seperti konjungtivitis alergi yang timbul dari kandungan timbal dalam produk kajal dan sindrom mata kering," kata dr. Malliah.

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar