Stoltenberg: Penarikan pasukan NATO di Afghanistan tergantung level kekerasan

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara,NATO

Stoltenberg: Penarikan pasukan NATO di Afghanistan tergantung level kekerasan

Dokumentasi - Pasukan NATO tiba di lokasi serangan bom mobil di Kabul, Afghanistan, Minggu (10/8/2014). (ANTARA/REUTERS/Omar Sobha/tm/am.)

Brussels (ANTARA) - Militan Taliban di Afghanistan harus lebih berupaya memenuhi persyaratan perjanjian perdamaian 2020 dengan Amerika Serikat untuk memungkinkan penarikan pasukan asing NATO pada batas waktu Mei, kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, Senin.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) adalah sebuah organisasi internasional untuk keamanan bersama yang didirikan pada 1949, sebagai bentuk dukungan terhadap Persetujuan Atlantik Utara yang ditandatangani di Washington, DC, pada 4 April 1949.

Baca juga: Marsekal TNI Hadi Tjahjanto katakan prajurit harus hindari pelanggaran HAM

Para menteri pertahanan negara anggota NATO akhir pekan ini akan membahas apakah Taliban memenuhi kesepakatan perdamaian. Kesepakatan berisi seruan terhadap kelompok garis keras agar mengekang serangan serta terhadap pasukan asing untuk mundur pada 1 Mei.

"Kami melihat bahwa Taliban masih perlu berupaya lebih banyak dalam hal memenuhi komitmen mereka ... untuk memastikan bahwa mereka memutuskan semua hubungan dengan para teroris internasional," kata Stoltenberg.

Serangan di Afghanistan, termasuk bom yang menewaskan wakil gubernur Ibu Kota Kabul pada Desember tahun lalu, telah mendorong anggota Kongres Amerika Serikat dan kelompok-kelompok hak asasi internasional untuk menyerukan penundaan penarikan pasukan NATO, yang disepakati di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump.

NATO memiliki 9.600 tentara di Afghanistan, termasuk 2.500 prajurit AS, untuk melatih dan membantu pasukan Afghanistan.

Banyak pihak khawatir bahwa kemajuan selama dua dekade intervensi asing di Afghanistan akan buyar. Keadaan itu akan mengancam kemajuan dalam hak-hak perempuan hingga demokrasi di berbagai bidang.

Anggota parlemen AS telah memperingatkan bahwa menarik semua pasukan NATO dapat menyebabkan perang saudara di Afghanistan.

Pertemuan para menteri pertahanan NATO pekan ini, yang akan berlangsung melalui konferensi video pada Rabu (17/2) dan Kamis (18/2), pada awalnya ditetapkan untuk memutuskan apakah penarikan pasukan akan dilanjutkan.

Namun, pemerintahan presiden AS yang baru Joe Biden menghadapi seruan penundaan penarikan pasukan selama enam bulan.

Empat pejabat senior NATO mengatakan kepada Reuters pada 31 Januari bahwa pasukan internasional akan tinggal melebihi batas waktu Mei, meskipun Taliban menyerukan penarikan penuh.

"Tujuan bersama kami jelas: Afghanistan tidak boleh lagi menjadi surga bagi para teroris untuk menyerang tanah air kami. Meskipun tidak ada sekutu yang ingin tinggal di Afghanistan lebih lama dari yang diperlukan. Kami tidak akan pergi sebelum waktunya tepat," kata Stoltenberg.

Baca juga: TNI dan Polri gelar Rapat Pimpinan TNI/Polri untuk bahas penanganan COVID-19

Baca juga: TNI AL kerahkan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 amankan Perairan Ambalat


Sumber: Reuters

Penerjemah: Yuni Arisandy Sinaga