Mahasiswa Kukerta UR pelajari penanganan karhutla MPA di Sungai Apit

id Kukerta ur, unri, uin, mahasiswa riau

Mahasiswa Kukerta UR pelajari penanganan karhutla MPA di Sungai Apit

Mahasiswa UR ketika Kukerta di Kampung Rawa Mekar Jaya, Sungai Apit, Siak.(ANTARA/HO-Kukerta UR)

Siak (ANTARA) - Mahasiswa Kunjungan Kerja Nyata Universitas Riau mempelajari kearifan lokal Kampung Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan olehMasyarakat Peduli Api (MPA) setempat.

"Kitadijelaskan guna parit atau kanal ditutup jika musim kering ialah untuk ketersediaan air apabila terjadi kebakaran," kataKetua Kukerta, Sandewa.

Pada kegiatan Sabtu (18/7) lalu itu mahasiswa juga ikut patroli karhutla l merupakan daerah yang sering aman dari titik panas. Bahkan sempat mendapatkan "Zero Hotspot" meskipun gambut di RMJ tersebar hampir di semua wilayah kampung.

Peran MPA sangat terasa di mana banyak sekali kearifan lokal yang diterapkan demi menjaga lingkungan.

Saat Patroli, salah seorang anggota MPA RMJ,Rapin menjelaskan teknik kearifan lokal seperti perun dan sekat parit yang dibuat sebagai mitigasi Karhutla.

Ketua MPA Rawa Mekar JayaSetiono setempat ternyatatelah menerima segudang penghargaan di bidang lingkungan. Ia menjelaskan, bahwa di kampungnya, hampir tidak ada orang yang membuka lahan dengan membakar, atau kebanyakan dikenal memerun (semak yang ditebas kemudian di tumpukan/onggokan hingga kering).

Beliau juga menjelaskan bahwa, banyak kearifan lokal yang MPA terapkan semisal Berbual. Yaitu berbincang dengan pemilik lahan yang akan membuka lahannya, menjelaskan cara pengolahan.

"Pendekatan personal lebih kita tekankan, kalau datang-datang cuma menghimbau untuk tidak membakar, kita akan ditolak," ujar Setiono.

Selain itu, MPA Rawa Mekar Jaya juga memproduksi beberapa minyak yang dibuat secara tradisional dan diolah mandiri. Seperti Minyak Gaharu, Kayu Gelam (dianggap bisa melawan Virus COVID-19), serta cairan cuci tangan dari Tanaman Serai Wangi.

Ketua Kukerta menyayangkan tidak adanya perhatian dari pemerintah provinsi ataupun daerah. Peneliti dari mancanegara dan Guru Besar dari Universitas di Jawa sering berdatangan ke rumah beliau, sehingga amat disayangkan jika kearifan lokal itu justru disorot oleh orang lain.

Baca juga: Sosialisasi adaptasi PJJ di Kasikan Kampar, Kukerta UR kenalkan rumah belajar

Baca juga: Kukerta UR di Lubuk Jawi Rohil sosialisasikan adaptasi pengajaran daring

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar