Sering keguguran dan sulit memiliki anak bisa jadi tanda kena penyakit "Sjogren's syndrome"

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara

Sering keguguran dan sulit memiliki anak bisa jadi tanda kena penyakit "Sjogren's syndrome"

Ilustrasi seorang wanita menjalani pemeriksaan USG (Antara/Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Sering mengalami keguguran hingga bahkan sulit memiliki anak bisa menjadi salah satu tanda seseorang terkena penyakit autoimun Sjogren’s syndrome.

"Ada yang baru ketahuan saat sering keguguran, sulit punya anak, bisa karena penyakit autoimun Sjogren’s syndrome," ujar dokter dari Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM/RSUI, Alvina Widhani dalam webinar "Kenali Sjogren’s Syndrome: Penyakit Autoimmune Yang Sering Tidak Terdiagnosis", Kamis.

Kondisi yang dipaparkan oleh dokter Alvina tersebut juga pernah dialami seorang wanita asal Bekasi, Jawa Barat bernama Yennel S. Suzia. Dia yang terdiagnosis Sjogren’s syndrome pada tahun 2014 mengatakan sempat empat kali mengalami keguguran. Hingga kini, Yennel mengatakan belum dikaruniai anak.

Tak hanya mengalami keguguran, Yennel bahkan pernah pingsan dan lumpuh. Dia juga merasakan mulutnya kering dan tubuhnya nyeri serta lemas.

"Setelah mengalami kelumpuhan di rumah dan mengira stroke, saya akhirnya melakukan pemeriksaan ke rumah sakit dan setelah melalui beberapa tes termasuk pengecekan autoimun, akhirnya saya diberitahukan oleh dokter menderita Sjogren’s syndrome," kata dia.

Alvina menuturkan, Sjogren’s syndrome salah satu penyakit autoimun yang bersifat kronik dan sistemik dan sekitar 90 persen penderitanya wanita. Penyakit ini mengenai selaput lendir dan kelenjar mata dan mulut sehingga mengakibatkan penurunan produksi air mata dan air liur.

Tak hanya mata kering, ada juga penderita yang mengalami mulut kering, sulit menelan makanan kering atau sulit menelan makanan tanpa air, perubahan pengecap, ada jamur di mulut, batuk kering, vagina kering, mudah lelah, nyeri sendi hingga gangguan kognitif.

Untuk mendiagnosis seseorang terkena Sjogren’s syndrome, dokter akan berpegang pada identifikasi sesuai gejala, lalu melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dari gejala yang ditemukan seperti tes Schirmer, tes produksi saliva untuk mengetahui produksi air liur berkurang sehingga mulut penderita menjadi kering.

Lalu pemeriksaan darah untuk melihat adanya kelainan sel darah merah dan putih dan untuk spesifik Sjogren’s syndrome umumnya dilakukan pemeriksaan antinuclear antibody (ANA).

“Saat ini prevalensi Sjogren’s syndrome di Indonesia belum diketahui, kemungkinan karena penyakit ini memiliki banyak gejala yang mirip dengan penyakit lain sehingga menyulitkan diagnosis. Gejala juga dapat muncul tidak dalam satu waktu sehingga pasien kadang tidak menyadari dan tidak menganggapnya sebagai suatu masalah yang perlu diobati,” tutur dia.

Jika pada akhirnya wanita penderita Sjogren’s syndrome bisa hamil, maka dokter bisa mempersiapkan berbagai hal termasuk pengobatan jika ada gangguan pada kehamilan sehingga risiko si bayi terkena kelainan akan berkurang.

"Pada ibu dengan Sjogren’s syndrome ini ada kemungkinan antibodi masuk ke plasenta ke bayi sehingga bisa menimbulkan kelainan jantung pada bayi. Ini seringkali menyebabkan kehamilan tidak berjalan dengan baik," kata Alvina.

Adakah kemungkinan penyakit ini diturunkan ke bayi? "Ada kemungkinan, dia (bayi) memiliki genetik yang sama, pencegahannya kami edukasi hidup sehat. Kami sebisa mungkin punya anak diberikan perawatan sesuai standar, misal ASI," tutur Alvina.

Ketika anak beranjak dewasa, orang tua bisa mengingatkannya sebisa mungkin hidup sehat, misalnya mengonsumsi makanan sehat, mengendalikan stres.

Alvina mengatakan, sebagian besar kasus Sjogren’s syndrome tak mengancam organ vital penderitanya, tetapi menurunkan kualitas hidup dan menganggu produktivitasnya.

"Orang sehari-hari mudah lelah, tidak bisa beraktivitas maksimal. Kecuali (Sjogren’s syndrome) mengenai organ vital seperti paru-paru, kelainan saraf, tetapi ini tidak banyak ketimbang dan tidak semua pasien berisiko," demikian kata Alvina.

Pewarta : Lia Wanadriani Santosa

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar