3.500 warga Pekanbaru terserang ISPA selama kabut asap

id Ispa,ISPA pekanbaru

3.500 warga Pekanbaru terserang ISPA selama kabut asap

Wali murid dan anaknya mengenakan masker medis di TK Islam Akramunnas saat kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Senin (26/8/2019). Pengurus TK Akramunnas memutuskan untuk memulangkan anak didik lebih cepat dari jadwal normal akibat polusi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai bisa mengganggu kesehatan terutama pada anak-anak. ANTARA FOTO/FB Anggoro/pras.

Pekanbaru (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, mencatat sudah sekitar 3.500 warga yang terserang Inspeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) sejak wilayah Ibu Kota Provinsi Riau itu diselimuti kabut asap sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Itu data ISPAterbaru hingga 26 Agustus ini," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskes Kota Pekanbaru, Muhammad Amin, di Pekanbaru, Selasa.

Muhammad Amin menjelaskan total yang terserang ISPA hingga Agustus tersebut didapat dari semua layanan pengobatan, klinik dan Puskesmas yang ada di Kota Pekanbaru.

"Kalau dihitung ada 100-200 pasien ISPA yang kita obati per minggunya," tutur dia.

Ia menambahkan sejauh ini untuk kebutuhan obat-obatan cukup dan antisipasi permintaan, Diskes Pekanbaru juga sudah meminta bantuan obat batuk dan demam ke Provinsi Riau.

"Jadi tidak ada kekurangan obat," tegasnya.

Selain obat, Diskes juga menyediakan masker gratis di semua Puskesmas, dan membagikan pada momentertentu di persimpangan jalan dan lampu merah serta sekolah.

"Dari catatan kami selama kabut asap kami telah membagikan masker sebanyak 134 ribu kepada masyarakat Kota Pekanbaru," tambahnya.

Untuk ke depan melihat kondisi udara, Diskes masih menyediakan stok yang banyak.

"Sampai sekarang stok masker yang ada masih 42 ribu, kami tetap akan didistribusikan baik melalui Puskesmas ataupun sekolah," pungkasnya.

Baca juga: Siak penderita ISPA terbanyak di Riau, begini tanggapan Bupati Alfedri

Baca juga: 519 warga Siak terpapar ISPA, 21.400 masker disiapkan


Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar