Rumah Kabel, Situs Jaringan Telekomunikasi Peninggalan Belanda di Bengkalis Semakin Tak Terawat

id rumah kabel, situs jaringan, telekomunikasi peninggalan, belanda di, bengkalis semakin, tak terawat

Rumah Kabel, Situs Jaringan Telekomunikasi Peninggalan Belanda di Bengkalis Semakin Tak Terawat

Bengkalis (Antarariau.com)- Situs Rumah kabel yang dibangun dan dikembangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai pusat pentadbiran dan pusat perdagangan di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau kini tidak dirawat dan tidak terurus.

"Saat ini, penampakan di sekitar Rumah Kabel tersebut sudah dipenuhi rumput dan semak belukar karena tak ada perawatan. Sebagian bangunan ini telah dihancurkan," kata pemerhati Budaya Bengkalis Riza Pahlevi di Bengkalis, Selasa.

Menurut Riza yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Bengkalis ini, bahwa keberadaan situs rumah kabel tersebut adalah bukti bahwa Kota Bengkalis salah satu kota yang pernah dikembangkan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Dijelaskannya, Rumah Kabel yang berlokasi di Jalan Kelapapati Laut atau tepatnya di belakang gedung SDN 13 Bengkalis tersebut dahulu lokasinya SDN 14 Bengkalis. Terletak di lahan yang tidak jauh dari pinggir laut menghadap ke Selat Bengkalis (Selat Brouwer), gedung ini tampak masih berdiri kokoh walau sudah dimakan usia. Bangunan ini telah berusia lebih dari 110 tahun.

"Menurut cerita warga sekitar lokasi, rumah Kabel ini dahulunya digunakan sebagai tempat mengoperasikan pelayanan telekomunikasi bagi kapal-kapal yang berlayar di Selat Melaka. Dari tempat ini ditarik kabel bawah laut hingga ke Tanjung Balai Asahan. Pada pertengahan 1970-an, kabel-kabel dari tembaga tersebut diambil dan dijual oleh masyarakat," katanya.

Rumah Kabel ini lanjutnya lagi, mulai dibangun pada 1915 yang merupakan bagian dari kegiatan meningkatkan pelayanan telekomunikasi di Sumatera Timur.

"Pemerintah Hindia Belanda membangun jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan Bengkalis dengan Tanjung Balai Asahan melewati Bagan Siapi-api. Proyek pembangunan kabel bawah laut yang menelan biaya lebih dari 400.000 Gulden ini selesai dan diresmikan penggunaannya pada 1917," ujar Riza yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Bengkalis ini.

Menurutnya banyak bukti sejarah yang bisa dilihat di Kota Bengkalis, Namun ada yang tak lagi dirawat dan kondisinya memprihatinkan. Malah ada yang sudah pupus ditelan zaman baik karena faktor alam maupun dimusnahkan dengan sengaja untuk berbagai kepentingan.

"Sayang, sisa Rumah Kabel yang memiliki dua pintu dan dua buah jendela besar tersebut sudah tak lagi terurus. Selain semak dan terbengkalai, banyak bagian dari gedung sudah dihancurkan oleh masyarakat dan dijadikan batu pecah," kata Riza

Pada bagian luar bangunan sambungnya lagi, terdapat sebuah sumur tua yang sudah tidak berfungsi lagi. Sumur ini kelihatannya sengaja ditimbus, karena lokasi juga dijadikan halaman bermain siswa SDN 13 Bengkalis, juga terdapat sebuah bak beton yang tidak diketahui fungsinya. Bangunan ini dikelilingi oleh semak belukar dan terdapat beberapa pohon bengkala yang rimbun.

"Meski tidak terlihat adanya barang-barang peninggalan Belanda di dalam sisa bangunan, ruangan dengan ukuran hampir 5x5 meter tersebut tampak masih utuh dan kokoh. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya agar bukti sejarah daerah ini dapat dirawat dan dimanfaatkan," ujar Riza.