Legislator Kampar Tak Berniat Lapor Balik Nurhasmi

id legislator kampar, tak berniat, lapor balik nurhasmi

Legislator Kampar Tak Berniat Lapor Balik Nurhasmi



Pekanbaru, (Antarariau.com) - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kampar, Riau Eva Yuliana tidak berniat untuk melaporkan balik Nurhasmi (36), warga Desa Birandang, Kecamatan Tambang, yang menuduh dirinya telah melakukan tindak penganiayaan.

"Biarkan fakta-fakta hukum yang berbicara dan memang tidak ada perlakuan yang dituduhkan itu. Tadinya saya diminta oleh warga untuk melaporkan balik Nurhasmi karena ada pencemaran nama baik. Tapi saya menolak karena dia juga warga Kampar," kata Eva kepada Antara di Kampar, Senin.

Sebelumnya Nurhasmi melaporkan Eva Yuliana ke Polres Kampar terkait dugaan penganiayaan.

Dalam laporannya, korban Nurhasmi mengaku sempat diinjak di bagian perut sehingga melukai jahitan bekas operasinya tersebut.

Namun saksi Zainur selaku adik ipar pelapor membantahnya, dan menyatakan Nurhasmi melahirkan secara operasi sejak tiga tahun lalu saat melahirkan anak keempatnya.

Nurhasmi dalam keterangan di kepolisian juga menyatakan dianiaya oleh Eva Yuliana hingga mengalami luka lebam, namun hasil visum justru menyatakan yang bersangkutan tidak memiliki luka untuk menguatkan dugaan kasus tersebut.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan Kepala Bidang Humas Polda Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo yang bahkan menyatakan adanya berbagai kejanggalan dalam perkara itu.

"Korban atau pelapor tadinya sudah diminta untuk pulang dari rumah sakit karena kondisinya tidak apa-apa. Namun dia menolak," kata AKBP Guntur.

Eva Yuliana mengatakan, pihaknya memang sempat bertemu dengan korban pada Sabtu (31/5) di lahan milik perusahaan yang akan mendirikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS), tepatnya di Desa Birandang, Kecamatan Tambang, Kampar.

Ketika itu sekitar pukul 16.30 WIB, Eva mengaku datang ke lokasi kejadian bersama suami, Bupati Kampar, Jefry Noer untuk meninjau lokasi pembangunan pabrik.

Eva mengatakan, saat itu dirinya juga ditemani oleh seorang ajudan, Bripka Very.

"Waktu itu, saya dan suami melihat dia (Nurhasmi) berada di lokasi dan memagar lahan yang menjadi tempat pembangunan pabrik. Suami saya kemudian menegurnya namun dia tidak terima dan mulai mengeluarkan pernyataan tak mengenakkan," katanya.

Eva saat itu mengaku kemudian mencoba menenangkan Nurhasmi dengan merangkul pundak karena terlihat terus berkata-kata tak sedap.

"Waktu saya rangkul itulah kemudian Nurhasmi ini menyikut saya sehingga kemudian dilerai oleh suami," katanya.

Eva mengatakan lagi, Jefry Noer selaku suami ketika itu mencoba berbicara dengan suami Nurhasmi untuk segera melerai dan membawa isterinya pergi dari lokasi itu.

"Saat akan ditarik oleh suaminya bernama Jamal, Nurhasmi kemudian terjatuh. Tidak ada pemukulan apalagi memijak-mijak dia," katanya.

Selesai dari situ, kata dia, kemudian Eva menyatakan pihaknya kemudian pergi, namun ditengah perjalanan dihambat oleh keluarga Nurhasmi, satu diantaranya membawa parang panjang.

"Karena jalan keluar dihambat, maka kemudian ajudan turun untuk meminta Nurhasmi dan keluarganya itu minggir. Kondisinya memang terancam pada saat itu sehingga keluarlah senjata api Very," katanya.