Butik Siti Khadijah dari Malaysia kini hadir di Pekanbaru, begini keunggulannya

id mukena ,butik siti khadijah,berita riau antara,butik busana muslim pekanbaru,berita riau terbaru,busana muslim terbaru 2019

Sejumlah model mengenakan mukena merek Siti Khadijah saat peresmian butik Siti Khadijah di Mal SKA Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (18/5/2019). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - Produsen mukena Siti Khadijah dari Malaysia menggunakan momen bulan Ramadhan 1440 Hijriah untuk melakukan ekspansi bisnis dengan membuka butik di Kota Pekanbaru, Riau, untuk menggaet pasar busana muslim di luar Pulau Jawa.

“Kenapa kami pilih Pekanbaru karena berada di tengah, pusat Sumatera karena budaya kemelayuan dan agama ada di sini. Pekanbaru juga dekat dengan Padang jadi untuk bisnis sangat strategis, pembeli dari Jambi dan Padang nanti bisa ke Pekanbaru,” kata CEO Siti Khadijah (SK), Mohammad Muzir Aminuddin pada pembukaan butik SK di Mal Ska, Pekanbaru, Sabtu.

Turut hadir dalam pembukaan butik SK perdana di Sumatera di antara Wakil Wali Kota Pekanbaru Ayat Cahyadi, Konsul Malaysia di Pekanbaru Wan Nurshima Wan Jusoh, dan Duta Merek SK untuk Indonesia Elma Theana. Ia menjelaskan pembukaan butik di Pekanbaru merupakan yang ketiga untuk SK setelah 2015 pertama masuk ke Indonesia dengan membuka dua butik di Jakarta dan Bandung.

Menurut dia, pada 2019 SK akan membuka empat butik dengan nilai investasi sekitar Rp3,5 miliar.

"Kami akan membuka empat butik baru di Indonesia pada tahun 2019, yaitu di Mal Ska Pekan Baru, Surabaya Plaza AEON, Sentul Bogor, Sarinah Jakarta dan Makassardengan nilai pelaburan (investasi) sebanyak 3,5 miliar Rupiah," kata Munzir.

Baca juga: Mukena Dan Bordiran Pariaman Tembus Pasar Malaysia

CEO Siti Khadijah, Mohammad Muzir (tengah) bersama Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi (tiga kiri) dan duta merek Siti Khadijah, Elma Theana (dua kanan) memotong pita saat peresmian butik Siti Khadijah di Mal SKA Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (18/5/2019). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)


Ia menjelaskan SK bermula dari usaha kecil di Malaysia, dengan produksi awal dilakukan di tiga rumah yang disewa dengan 100 orangpekerja. Pendiri SK Padzilah Enda Sulaiman, ibunda dari Muzir, awalnya menjahit sendiri mukena karena kesulitan mendapatkan produk yang sesuai dengan keinginannya.

Seiring waktu, SK kini sudah memiliki pabrik yang menampung 300 pekerja dan mampumenghasilkan hingga 2.000 mukena per hari. Dengan membuka pabrik di Jakarta, lanjutnya, SK sudah membuka peluang kerja bagi 100 orang di Indonesia.

“Berita baiknyaadalah pada tahun 2019 kita memiliki kapasitas untuk merekrut hingga 3.000 pekerja untukmencapai target Rp15 miliar," katanya.

Menurut Munzir, mukena SK yang diproduksi di Indonesia 100 persen siap untuk pasar Indonesia dan 90 persensiap untuk ekspor ke Malaysia.

"Kami tidak hanya ingin menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga ingin terus meningkatkan kualitas tenaga kerja dengan menjaga kesejahteraan mereka,seperti memberikan bonus tahunan dan membantu meningkatkan taraf tempat tinggal yangnyaman sebagai bagian dari kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan karena kamipercaya 'amal dimulai di rumah',” kata Munzir.

General Manager SK Indonesia, Nindy, menambahkan keunggulan SK adalah jenis kain yang berkualitas tinggi sperti spun polyester berteknologi Jepang dengan desain inovatif yang fleksibel di bagian wajah karena lentur di dahi dan dagu tanpa perlu pakai peniti/jarum lagi. SK membuat desain mukena untuk perempuan dewasa dan juga anak-anak yang pas saat dikenakan.

Ia menambahkan, pada pembukaan butik SK terbaru disediakan tiga hadiah menarik seperti TV LED 32 inci, smartpone, mukena basic ixora dan voucher berbelanja.

Sejumlah pengunjung memeriksa mukena merek Siti Khadijah yang dipakai oleh model saat peresmian butik Siti Khadijah di Mal SKA Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (18/5/2019). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)


Baca juga: 15 desainer ikut kompetisi busana berbahan "viscose" di Muslim Fashion Festival

Baca juga: Buka MUFFEST 2019, Menperin dorong Indonesia jadi pusat fesyen Muslim dunia


Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar