15 desainer ikut kompetisi busana berbahan "viscose" di Muslim Fashion Festival

id viscose,Muffest 2019,busana muslim,hijab,fesyen,APR,berita riau antara,berita riau terbaru

Juri dan pemenang foto bersama usai kompetisi.(Antaranews/Bayu AA)

Jakarta, (ANTARA) - Asia Pacific Rayon (APR) menggelar kompetisi busana berbahan viscose/rayon bertajuk "Modest Stylling Competition" dalam rangkaian acara Muslim Fashion Festival 2019 di Jakarta Convention Center, 1-4 Mei.

Dalam acara tersebut 15 peserta ambil bagian setelah diseleksi dari 600 lebih yang mendaftar. Para peserta memperlihatkan rancangan busananya pada juri diantaranya perancang busana kenamaan Jenahara Nasution dan juga Manajer APR, Fathoni Ibrahim.

Juri Jenahara Nasution dalam kesempatan tersebut mengatakan perempuan dalam berhijabsekarang ini sudah jauh lebih kreatif memadumadankan tampilan. Namun menurutnya juga perlu suatu cara agar pemaduan dan pencocokan tersebut busa enak dilihat.

"Kalau aku lebih percaya konsep 'less is more' jangan berlebihan dan perlu diketahui barang dasar yang mudah dipadukan. Seperti kemeja putih dan celana hitam itu netral mudah dipadukan, tidak apa-apa investasi dengan harga mahal sedikit," katanya.

Terkait bahan viscose, kata dia ini busa menjadi alternatif lain selain poliaster yang banyak digunakan. Apalagi ini bahan bakunya bisa diperoleh di dalam negeri, tidak seperti poliester yang hampir semuanya impor.

"Bahannya jatuh dan adem rasanya untuk kerudung dan jilbab, kedepannya agar bisa diperbanyak," ungkapnya.

Usai semua peserta menampilkan karya rancangannya, juri akhirnya memilih empat yang terbaik. Menariknya yang menang dalam kompetisi itu adalah laki-laki, salah satu dari peserta cowok pada lomba ini.

Pemenang lomba tersebut, Saifuddin Aulya dalam rancangannya menonjolkan rasa lokal Indonesia yakni sarung. Pada bagian pakaian tersebut juga dia menggunakan bahan viscose.

"Ini anak muda bisa agar lebih nyaman dengan sarung. Bahanviscose ternyata nyaman sekali buat cowok karena bahannya jatuh," ujar dia.

APR merupakan perusahaan yang terintegrasi dari perkebunan ke industri fesyen beroperasi di Provinsi Riau. Itu mulai dari bibit Pohon Akasia, potongan kayu, bubur kertas sampai viscose atau rayon yang merupakan serat untuk menjadi benang.

Baca juga: Buka MUFFEST 2019, Menperin dorong Indonesia jadi pusat fesyen Muslim dunia

Baca juga: Produsen Viscose-Rayon berkelanjutan, APR dukung industri fesyen Muslim Indonesia
Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar