Komisi II DPRD Bengkalis gali potensi pengolahan ikan dengan cara khusus

id dprd Bengkalis, ikan,berita riau antara,berita riau bengkalis,berita hari ini,berita riau terbaru,berita riau terkini

Komisi II DPRD Bengkalis ketika melakukan kunjingan kerja ke Pemda Tanjung Pinang dalam rangka menggali potensi PAD melalui teknologi pengolahan ikan yang sudah berhasil di daerah tersebut. (dok Antarariau/19)

Bengkalis (ANTARA) - Komisi II DPRD Bengkalis, Provinsi Riau, terus berupaya menggali sejumlah potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) salah satunya memanfaatkan hasil tangkapan nelayan melalui teknologi pengolahan Hidrolisat Protein Ikan (HPI).

Teknogi HPI ini telah diterapkan oleh Pemerintah daerah Tanjung Pinang dan daerah tersebut menjadi agenda kunjungan kerja Komisi II beberapa hari yang lalu,dimana industri pengolahan ikan Kepulauan Riau telah menciptakan berbagai produk dengan market yang luas hingga di ekspor ke luar negeri.

"Kami ingin mempelajari bagaimana caranya menjalankan industri dan mendapatkan manfaat dari industri tersebut. Di Bengkalis tidak memiliki industri perikanan secanggih Tanjung Pinang, banyak ikan yang terbuang-buang, tidak termanfaatkan dan tidak dapat diolah ketika musimnya", ujar anggota Komisi II Azmi R Fatwa, Sabtu.

Dikatakannya, industri seperti ini dibutuhkan oleh Kabupaten Bengkalis yang merupakan daerah dengan penghasil ikan yang cukup besar.

"Tidak hanya dapat memanfaatkan ikan yang ada tetapi industri ini juga memberikan penghasilan bagi nelayan dan menciptakan lapangan kerja," ungkapnya.

Dikatakan Azmi, dari keterangan yang diperoleh dari bagian Ekonomi Tanjung Pinangmengungkapkan, tingkat pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Kepulauan Riau pada 2018 sebanyak 304, 975 ton atau sebesar 28,85 persen dengan peluang pengembangan potensi SDI sebesar 556,630 ton atau sebesar 64,7 persen. Tanjung Pinang mencoba membuat projek yang risetnya dimulai dari 2014 hingga akhirnya memiliki satu kawasan yang diberi nama ekowisata bahari Kampung Teripang pertama di Indonesia.

"Di kawasan inilah teknologi pengolahan ikan runcah (ikan yang tidak memiliki nilai) Hidrolisat Protein Ikan berada," ungkapnya.

HPI merupakan campuran peptida yang didapat melalui hidrolisis (pemecahan) protein ikan sehingga lebih mudah diasimilasi oleh makhluk hidup. Ikan-ikan runcah tersebut akan dibeli dari nelayan setiap harinya sehingga nelayan tersebut mendapat jaminan pasar.

Tim ekonomi kreatif Tanjung Pinang telah menciptakan produk-produk yang sedang "booming" khususnya protein glutamate dan protein "cookies" yang laku keras dalam dua kali produksi, bahkan dibeli oleh TNI AD untuk penanganan stunting di sejumlah daerah di Jawa. Teknologi HPI yang diciptakan sendiri tersebut sudah dipatenkan, dan hasil HPI ini berupa bubuk yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa, sehingga bisa diaplikasikan ke banyak turunan produk.

Diungkapakan juga, dari internal perusahaan sendiri ada 100 uji laboratorium yang bisa diturunkan dari Hidrolisat Protein Ikan ini, beberapa di antaranya yang sudah diciptakan yaitu biskuit, sereal, dan pankeik dengan protein tinggi dengan pasar yang sudah banyak.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar