Bantuan kemanusian untuk korban banjir di enam daerah Riau terus bergulir

id Kepala Dinas Sosial Riau Zulfadli di Pekanbaru Jumat, saat ekspos tentang bantuan kemanusiaan, untuk 6 daerah di Riau y

Bantuan kemanusian untuk korban banjir di enam daerah Riau terus bergulir

Gubernur Abdul Wahid dan rombongan saat meninjau lokasi bencana banjir di sejumlah daerah baru baru ini. ANTARA/HO-Humas Pemprov Riau

Pekanbaru (ANTARA) - Bantuan kemanusiaan berupa sembako dan kebutuhan lainnya untuk korban banjir yang dievakuasi dari enam daerah di Provinsi Riau terus bergulir. Bantuan ini guna meringankan beban, terutama mereka yang saat berada di rumah keluarga atau di tempat pengungsian.

"Pendistribusian bantuan tersebut merupakan arahan Gubernur Abdul Wahid pada saat terjadi bencana dan pascabencana juga mendirikan dapur umum," kata Kepala Dinas Sosial Riau Zulfadli di Pekanbaru Jumat.

Ke-enam daerah terdampak banjir di provinsi itu adalah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Pekanbaru, Kampar, Indragiri Hulu (Inhu) dan Kuantan Singingi (Kuansing). serta Pelalawan.

Ia menyebutkan bantuan kemanusiaan yang telah disalurkan berupa 19.700 kg beras, minyak goreng 1.160 liter, mie instan 1.215 kardus dan gula 950 kg serta air mineral sebanyak 1.200 kardus.

Bantuan tersebut selain dari Dinas Sosial Riau, katanya bantuan tersebut juga berasal dari Baznas Riau, Dinas Kesehatan Riau dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Riau.

Kepala BPBD Riau Edy Afrizal menyebutkan, korban banjir akibat bencana hidro meteorologi itu, berasal dari 14 desa dan 8 kelurahan dari 12 kecamatan dengan jumlah warga terdampak adalah 3.985 KK.

Selain itu, terdapat 5 faskes, 7 fasilitas pendidikan, 2 fasilitas kantor, 18 fasum, jalan sepanjang 11,6 km jterendam, kebun 8.630 hektare dan 615 ekor ternak juga terdampak.

Khusus Pelalawan BPBD dan Damkar Riau belum menerima laporan terkait kondisi terkini banjir yang terjadi. Namun, Edy membenarkan sejumlah wilayah di Pelalawan sudah digenangi air akibat luapan air sungai. Kondisi ini disebabkan karena faktor tingginya curah hujan juga diperparah dampak pembukaan pintu air PLTA Koto Panjang di Kampar.