Dalam tujuh hari, hampir 500.000 warga AS tertular COVID-19

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, corona

Dalam tujuh hari, hampir 500.000 warga AS tertular COVID-19

Seorang pelayan berbicara kepada tamu di meja makan di sebuah restoran pop up yang dibuat di Times Square untuk 'Taste of Times Square Week' saat pandemi penyakit virus korona (COVID-19) di Manhattan, New York City, New York, Amerika Serikat, Jumat (23/10/2020). (ANTARA FOTO/REUTERS/Carlo Allegri/hp/cfo)

Chicago (ANTARA) - Hampir setengah juta orang di Amerika Serikat tertular virus corona jenis baru dalam tujuh hari terakhir, demikian menurut hitungan Reuters

Sementara itu, pada minggu lalu lebih dari 5.600 orang di seluruh AS meninggal akibat virus, dan angka pasien rawat inap melonjak 13 persen, analisis Reuters menunjukkan.

Baca juga: Film "The Trial of the Chicago 7" jagokan semua aktor masuk nominasi Oscar

Illinois, yang menjadi zona merah dalam beberapa pekan terakhir, melaporkan lebih dari 31.000 kasus baru dalam tujuh hari terakhir. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan dengan di negara-negara bagian lain, kecuali Texas.

Guna membendung lonjakan tersebut, Gubernur Illinois J.B. Pritzker memberlakukan putaran baru pembatasan di enam dari 11 wilayah.

Makan dalam ruangan di bar dan restoran akan dihentikan sementara pada Rabu dan pertemuan akan dibatasi untuk maksimal 25 orang. Daerah-daerah yang terkena pemberlakuan itu termasuk beberapa di pinggiran Chicago.

Sejumlah negara bagian lain telah menarik rencana untuk membuka kembali ekonomi demi mengekang penyebaran virus, pada saat suhu lebih dingin melanda sebagian besar negeri.

Gubernur Idaho Brad Little pada Senin (26/10) mengumumkan pertemuan dalam ruangan hanya boleh dihadiri maksimal 50 orang. Jumlah orang yang hadir pada pertemuan di luar ruangan juga akan dibatasi menjadi 25 persen dari kapasitas penuh.

Para pakar kesehatan meyakini bahwa kasus penularan virus melonjak akibat pertemuan sosial secara pribadi, suhu yang lebih dingin sehingga mendorong orang berada di dalam ruangan, serta kelelahan warga atas tindakan pencegahan COVID-19.

Di luar kawasan Midwest, Kota El Paso di Texas juga menghadapi lonjakan kasus yang membebani rumah sakit setempat.

Otoritas setempat mendirikan sebuah fasilitas perawatan alternatif untuk membantu meringankan pusat medis.

"Kami menangani semua jenis pasien. Secara historis, usia mereka di atas 65, mereka dengan beberapa penyakit penyerta. Tapi ada juga yang berusia 20 tahunan. Ada yang berusia 30 tahunan, 40 tahunan," kata Dr. Ogechika Alozie, spesialis penyakit menular di El Paso, kepada Reuters.

"Memang ada rasa lelah, tapi sekali lagi, kami bekerja keras dan merawat pasien," ia menambahkan.

Presiden AS Donald Trump, yang menghadapi pertarungan sulit untuk terpilih kembali pada 3 November, kembali mengecam laporan bahwa kasus virus corona sedang melonjak.

Ia lagi-lagi menegaskan pernyataannya yang tidak benar bahwa negara yang dipimpinnya sedang menjalani perubahan positif dalam pertempuran melawan corona. Virus itu di Amerika Serikat telah membunuh lebih dari 225.800 orang.

Pennsylvania, negara bagian yang menjadi 'medan pertempuran' panas dalam pemilihan presiden pekan depan, pada Selasa melaporkan rekor baru COVID-19, menurut departemen kesehatan negara bagian.

Baca juga: Penyanyi R. Kelly kembali ditangkap polisi di Chicago karena dugaan kejahatan seksual

Baca juga: Konferensi Chicago Dorong Pemerintah Aktif Tangani Alzheimer


Sumber: Reuters

Penerjemah: Tia Mutiasari

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar