Menteri BUMN Erick Thohir berharap Indonesia tak masuk daftar negara kluster Corona

id Berita hari ini, berita riau terkini, berita riau antara, Menteri BUMN

Menteri BUMN Erick Thohir berharap Indonesia tak masuk daftar negara kluster Corona

Menteri BUMN Erick Thohir saat mengecek alat pemindai suhu tubuh atau thermal scanner di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Rabu (11/3/2020). (ANTARA/Aji Cakti)

Jakarta (ANTARA) - Menteri BUMN Erick Thohir tidak ingin Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang dikategorikan sebagai negara kluster Virus Corona.

"Ini yang kita tidak mau, kalau Indonesia juga menjadi negara-negara di poin nomor dua atau klaster Corona, seperti Arab Saudi memasukkan negara kita ke dalam kategori tersebut di mana umroh dan haji dihentikan," ujar Erick Thohir di Tangerang, Banten pada Rabu.

Baca juga: Erick Thohir berharap BUMN dapat memproduksi enam juta masker pada April 2020

Dia mengatakan bahwa sesuai dengan rapat bersama Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno Marsudi bahwa ada yang namanya 3C.

"C pertama, pusat episentrum pada kasus pertama yakni di China makanya China dari awal sudah diberhentikan," kata Erick Thohir.

Sedangkan C kedua yakni, lanjut dia, negara klaster Corona yang sudah terjadi di Italia, Iran, dan Korea Selatan.

"Kebijaksanaan dari pemerintah bukan seperti China memberhentikan, tetapi yang masuk ke Indonesia harus ada sertifikat kesehatan atau health certificate dan harus memerlukan visa," ujar Erick Thohir.

Menurut dia, negara-negara lainnya juga dapat masuk ke dalam daftar negara klaster Corona seperti Perancis dan Amerika Serikat yang sudah mulai terkena wabah tersebut.

"Poin ketiga atau C ketiga adalah komunitas. Ini tentu kebersamaan kita semua, tidak bisa bilang itu tugasnya RT RW yang bersangkutan tetapi kalau sudah komunitas kita bersama-sama harus menjaga. Hal itu yang kita coba jaga," kata Erick.

Dia juga menambahkan bahwa kendati wabah Virus Corona memiliki tingkat risiko berbahaya seperti SARS dan MERS, namun bukan berarti Indonesia menganggap remeh dan tetap harus meningkatkan kewaspadaan.

Baca juga: Seorang pasien positif COVID-19 di Indonesia meninggal dunia

Baca juga: Antisipasi penyebaran virus corona, kegiatan bertaraf internasional di Surabaya dibatalkan


Pewarta: Aji Cakti