Pertumbuhan hotel penunjang pariwisata Riau masih terpusat di Pekanbaru, begini penjelasannya

id pariwisata riau,hotel di pekanbaru,dinas pariwisata riau,bisnis hotel pekanbaru,berita riau antara,berita riau terbaru

Pertumbuhan hotel penunjang pariwisata Riau masih terpusat di Pekanbaru, begini penjelasannya

Tingkat hunian hotel di Kota Pekanbaru mengalami penurunan 20 persen akibat kabut asap melanda daerah itu sejak dua bulan terakhir. (Antaranews)

Pekanbaru (ANTARA) - Jumlah hotel berbintang untuk menunjang sektor pariwisata di Provinsi Riau terus bertambah, namun masih terpusat di Kota Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Riau di Pekanbaru, Selasa, keberadaan hotel bintang hingga 2018 paling banyak berada di Pekanbaru yaitu sebanyak 66 hotel dengan kapasitas kamar sebanyak 6.228 kamar dan tempat tidur 8.728 unit.

Kemudian pada urutan kedua adalah Kota Dumai dengan jumlah hotel bintang sebanyak enam hotel, sangat jauh perbedaannya dengan kondisi di Pekanbaru. Jumlah kamar dan tempat tidur di Dumai masing-masing sebanyak 479 kamar dan 685 unit.

Di Riau masih ada daerah yang tidak memiliki hotel berbintang, yakni di Kuangan Singingi dan Indragiri Hulu.

"Dilihat dari penyebarannya, hampir semua kabupaten/kota di Provinsi Riau memiliki hotel bintang, kecuali Kabupaten Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu," kata Pelaksana Tugas Dinas Pariwisata Riau, Raja Yoserizal.

Jumlah usaha akomodasi ini terus meningkat sehingga pada tahun 2018, Provinsi Riau memiliki 501 usaha akomodasi dengan 17.830 kamar dan 26.178 tempat tidur. Hal ini tidak lepas dari dorongan pemerintah daerah yang mulai serius menggarap sektor pariwisata.

Jika dibandingkan dengan tahun 2014, saat itu Riau baru terdapat 350 usaha akomodasi dengan 12.159 kamar dan 19.224 tempat tidur.

Yoserizal mengatakan usaha akomodasi sebagai pendukung industri mancanegara maupun nusantara membutuhkan sarana dan fasilitas yang cukup memadai terutama hotel atau penginapan. Demikian juga wisatawan yang berkunjung ke Riau, dimana ketersediaan kamar hotel maupun akomodasi lainnya yang cukup memadai akan membuat wisatawan merasa nyaman dan terkesan.

Selain itu, perkembangan pariwisata di Riau sejalan dengan penciptaan lapangan kerja dari usaha akomodasi tersebut.

"Pada tahun 2018, usaha akomodasi di Provinsi Riau menyerap sekitar 6.715 orang pekerja, dengan rata-rata pekerja per usaha sebanyak 13 orang," katanya.

Jumlah hotel/akomodasi di Provinsi Riau pada tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 1,00 persen dibanding dengan tahun 2017, yaitu dari 496 unit pada tahun 2017 menjadi 501 unit pada tahun 2018.

Meskipun terjadi kenaikan jumlah hotel, lanjutnya, jumlah kamar dan tempat tidur justru mengalami penurunan. Jumlah kamar pada tahun 2018 sebanyak 17.830 kamar turun sebesar -2,37 persen dibanding tahun 2017 yaitu sebanyak 18.264 kamar.

Sementara jumlah tempat tidur tahun 2018 sebanyak 26.178 atau turun -3,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari 501 hotel/akomodasi yang ada pada tahun 2018, ia mengatakan sebesar 18,56 persen diantaranya dikategorikan sebagai hotel bintang, yaitu sebanyak 93 hotel dengan jumlah kamar sebanyak 8.169 kamar dan tempat tidur 11.700 unit.

Sementara itu, sebesar 81,44 persen dikategorikan sebagai akomodasi lainnya yaitu sebanyak 408 akomodasi dengan jumlah kamar sebanyak 9.661 kamar dan tempat tidur 14.478 unit.

Jika dirinci menurut klasifikasi hotel, dari 93 hotel berbintang yang terdapat di Provinsi Riau, sebanyak tiga hotel merupakan hotel bintang 5, kemudian 14 hotel bintang 4, lalu 39 hotel bintang 3, dan 30 hotel bintang 2, serta 7 hotel bintang 1.

Selain hotel berbintang, Provinsi Riau juga memiliki usaha akomodasi lainnya sebanyak 408 usaha dengan jumlah kamar sebanyak 9.661 kamar dan jumlah tempat tidur sebanyak 14.478 yang sebagian besar merupakan hotel melati.

Hotel berbintang mampu menyerap 3.849 tenaga kerja atau sekitar 57,32 persen dari keseluruhan tenaga kerja pada usaha akomodas, sedangkan akomodasi lainnya menyerap tenaga kerja sebesar 42,68 persen.

Pada kelompok hotel berbintang, penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi pada hotel berbintang 3, yaitu 1.755 orang atau sekitar 45,60 persen, diikuti oleh hotel berbintang 4 yang menyerap 957 tenaga kerja atau sekitar 24,87 persen tenaga kerja. Sedangkan pada kelompok usaha akomodasi lainnya, tenaga kerja yang terserap sebesar 93,96 persen atau sebanyak 2.192 orang tenaga kerja.

"Tenaga kerja yang bekerja pada usaha akomodasi di Provinsi Riau, sebagian besar bekerja menangani bidang teknis, yaitu sebanyak 3.857 orang tenaga kerja atau sekitar 57,44 persen dari keseluruhan tenaga kerja pada usaha akomodasi," katanya.

Pekerja teknis diperlukan dalam jumlah besar karena bertugas menangani bidang pekerjaan yang berkaitan langsung dengan kegiatan operasional perusahaan/ usaha. Pekerja teknis terdiri dari pekerja pemasaran atau humas, pemeliharaan, resepsionis, juru masak, petugas bar, dan restoran. *

Baca juga: Serunya melancong ke Air Terjun Batang Koban di Kuansing Riau

Baca juga: Jumlah kunjungan wisman ke Riau alami tren peningkatan, begini penjelasannya

Baca juga: Desa Kebun Tinggi bangun wisata air terjun Batu Tilam dari dana desa, begini penjelasannya


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar