Serunya melancong ke Air Terjun Batang Koban di Kuansing Riau

id Air terjun batang koban,air terjun,pariwisata riau,pariwisata kuansing,traveler,gubernur riau,berita riau antara,berita riau terbaru

Serunya melancong ke Air Terjun Batang Koban di Kuansing Riau

Air terjun Batang Koban di Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau. (ANTARA/HO-Dispar Riau)

Pekanbaru (ANTARA) - Bagi warga Desa Ambacang, pesona Air Terjun Batang Koban sudah lama dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Seiring berjalan waktu, destinasi wisata di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau ini mulai menjadi daya tarik bagi traveleratau pelancong karena memiliki air terjun bertingkat yang unik.

Destinasi wisata baru ini wajib dikunjungi untuk penyuka ekowisata maupun para petualang. Lokasinya berjarak sekitar 160 kilometer dari Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau.

Lama perjalanan hampir mencapai empat jam berkendara menggunakan mobil hingga Kota Taluk Kuantan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Dari sana perjalanan berlanjut ke Desa Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan.

Jarak tempuhnya 36 kilometer atau 45 menit berkendara sampai dermaga keberangkatan yang lokasinya berada di tepian sungai Kuantan.

Selama perjalanan pandangan mata disuguhi lanskap hamparan sawah yang membentang luas di antara perbukitan.

Selanjutnya, perjalanan ditempuh menelusuri Sungai Kuantan menggunakan transportasi sungai milik warga setempat, yakni sampan kayu bermotor dengan kapasitas penumpang 5 hingga 10 orang. TarifnyaRp30 ribu/orang.

Baca juga: Desa Kebun Tinggi bangun wisata air terjun Batu Tilam dari dana desa, begini penjelasannya

Bagi wisatawan yang hendak melancong ke tempat ini akan disuguhi derasnya gelombang sungai dan perbukitan yang ditumbuhi pepohonan asri menghijau di bantaran Sungai Kuantan.

Selama perjalanan menelusuri Sungai Kuantan, andrenalin penumpang dipacu dengan hempasan gelombang yang ke badan sampan. Percikan airnya bisa membasahi baju dan pelampung penumpang.

"Perjalanan menelusuri Sungai Kuantan menuju dermaga kedatangan air terjun Batang Koban sangat memacu andrenalin. Pemandangan hutan asri di bagian kanan dan kiri sungai menghijaukan mata memandang," kata seorang wisatawan dari Kota Pekanbaru, Iwan Gunawan, pada akhir Februari 2020.

Setelah menelusuri sungai selama 30 menit, akhirnya sampan berlabuh di dermaga kedatangan air terjun Batang Koban. Bangunan itu berupa anjungan berdesain rumah panggung dengan empat tangga yang tampak kokoh.

Dermaga menuju destinasi wisata Air terjun Batang Koban di Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau. (ANTARA/HO-Dispar Riau)


Konstruksinya terbuat dari beton dan dipulas cat warna oranye dipadu hijau. Ketika wisatawan masuk ke lokasi ini belum ada restribusi tiket yang diatur oleh Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. Ini artinya setiap pelancong masih bisa masuk secara percuma tanpa dipungut biaya apapun.

Dari bangunan tangga pertama dari dermaga sudah terlihat air terjun pertama, yang lokasinya tepat berada di samping anak tangga. Setelah itu perjalanan bisa dilanjutkan menuju air terjun kedua hingga air terjun ketujuh.

Udara di tempat itu masih segar karena tak ada polusi asap kendaraan bermotor, dan pohon-pohon besar di sana masih banyak.

Selanjutnya, mata pelancong yang datang juga disuguhi pahatan-pahatan alam membentuk ukiran menghiasi sekeliling tebing yang dibelah anak sungai. Setibanya di air terjun ketujuh, panorama semburan air yang meluncur dari ketinggian 30 meter di atas bukit menjadi pelepas lelah setelah mendaki dan menelusuri hutan.

Di kawasan air terjun ini tamu yang hadir bisa menjajal keseruan berpetualang di alam terbuka, berenang di anak sungai yang dialiri air segardan dingin dari air terjun.

Baca juga: Air terjun Batu Tilam, destinasi wisata tersembunyi di Kampar Riau

Di tempat ini para pelancong harus membawa bekal makanan, pasalnya di objek wisata tersebut tidak tersedia restauranatau pondok yang menjual makanan dan minuman. Amnenitas di kawasan air terjun Batang Koban, saat ini hanya ada beberapa bangunan beton pondok peristirahatan dan MCK.

Menurut beberapa warga setempat, nama air terjun Batang Koban sudah disebut-sebut sejak zaman Belanda menjajah Indonesia. Batang dalam bahasa Melayu artinya sungai, sedangkan Koban adalah sebutan nama kayu atau pohon. Sungai Koban, begitulah makna dari nama air terjun Batang Koban.

Gubernur Riau, Syamsuar, yang sempat menjajal destinasi wisata baru ini pada 23 Februari lalu mengakui pesona air Terjun Batang Koban. Ia berjanji bahwa Pemprov Riau akan menggandeng semua pihak untuk membantu pembangunan infrastruktur agar tempat tersebut lebih mudah diakses wisatawan.

"Air Terjun Batang Koban merupakan destinasi ekowisata minat khusus. Dalam satu kawasan ini memiliki tujuh air terjun yang tingginya bervariasi. Untuk mendukung objek wisata ini pemerintah provinsi Riau bersama Pemkab Kuansing, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan terus melakukan koordinasi untuk melaksanakan pembangunan aksesibilitas serta amnenitasnya," kata Syamsuar.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuansing, Indra Suandy mengatakan, guna meningkatkan aksesibilitas objek wisata air terjun Batang Koban, pada tahun ini Pemerintah Pusat akan mengucurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik sebesar Rp3,4 miliar untuk pembangunan pariwisata di Kabupaten Kuansing.

"Ada dua lokasi yang akan dibangun menggunakan DAK Fisik Tahun 2020 yang dianggarkan pemerintah pusat. Pertama untuk pembangunan dermaga keberangkatan menuju objek wisata air terjun Tujuh Tingkat Batang Koban di Kecamatan Hulu Kuantan. Kemudian nanti juga untuk pembangunan sarana dan prasarana penunjang di objek wisata Danau Koto Kari, Kecamatan Kuantan Tengah," katanya.

Indra mengatakan lahan untuk dermaga keberangkatan selain akan menjadi tempat keberangkatan menuju objek wisata Batang Koban, juga akan dibangun lahan parkir kendaraan dan bangunan untuk tempat menjual tiket menuju objek wisata tersebut.*

Baca juga: Ayo traveling ke Riau, inilah 115 agenda pariwisata selama 2020

Baca juga: Kuliner bergaya Jepang yang halal, Hokben buka di Pekanbaru


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar