Ribuan santri dan warga Pekanbaru shalat minta hujan di tengah asap Karhutla

id karhutla di riau,kabut asap di pekanbaru,shalat minta hujan,berita riau antara,berita riau terbaru

Ribuan santri dan warga Pekanbaru shalat minta hujan di tengah asap Karhutla

Ribuan santri Pondok Pesantren Dar el Hikmah dan warga menggelar shalat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah asap jerebu kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu. (Antaranews/HO-Pondok Pesantren Dar el Hikmah)

Pekanbaru (ANTARA) - Ribuan santri Pondok Pesantren Dar el Hikmah dan warga setempat menggelar shalat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah asap jerebu kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu.

Ketua Umum Yayasan Nur Iman, Amrasul Abdullah mengatakan ada sebanyak 1.600 santri bersama pengajar serta masyarakat umum mengikuti Salat Istisqa, yang digelar di lapangan pondok pesantren tersebut. Shalat Istisqa dimulai pukul 07.30 dan berakhir pada 08.15 WIB. Bertindak sebagai imam shalat adalah Ustad Syarkawi, sedangkan khatib dan doa oleh Ustaz Ibnu Harris.

Ia menjelaskan, shalat tersebut digelar karena melihat kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang semakin tebal serta beberapa daerah di Riau alami kekeringan.

"Selain anjuran Gubernur Riau, Syamsuar, Salat Istisqa ini kami laksanakan usai mendapat cerita dari wali santri saat melihat anak-anaknya di Pondok Pesantren Dar el Hikmah. Itu jadi alasannya, selain kabut asap saat ini," kata Amrasul Abdullah.

Ia menceritakan, wali santri dari Kota Pekanbaru, tinggal di daerah Kulim, kemudian di Pulau Muda, Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, juga menceritakan bagaimana mereka sudah sulit mendapatkan air bersih. Bahkan, wali santri dari Kulim menceritakan mereka harus membeli air bersih karena sumber air mengering.

“Untuk satu tanki air dengan isi 1.000 liter harganya Rp60 ribu. Air bersih satu tanki itu hanya bisa mencukupi kebutuhan satu hari keluarga. Sumur mereka sudah kering, walau disedot menggunakan mesin, tetap saja tak keluar," katanya.

Seorang warga menggunakan masker medis saat bersama ribuan santri Pondok Pesantren Dar el Hikmah dan warga menggelar shalat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu. (Antaranews/HO-Pondok Pesantren Dar el Hikmah)


BMKG Stasiun Pekanbaru menyatakan pada Sabtu pagi jarak pandang di Pekanbaru memburuk jadi tinggal 1,5 kilometer akibar asap Karhutla.

Pantuan satelit pada mendeteksi ada 272 titik panas di Riau, lokasi paling banyak di Kabupaten Pelalawan dengan 102 titik. Daerah lainnya antara lain Indragiri Hilir ada 90 titik panas, Bengkalis 35 titik, Indragiri Hulu 17 titik, Kepulauan Meranti dan Siak masing-masing 9 titik, Rokan Hilir 7 titik, Kuansing 2 titik dan Kampar satu titik panas.

Dari jumlah tersebut, ada 192 yang teridentifikasi sebagai titik api. Lokasi paling banyak juga di Pelalawan ada 76 titik, kemudian Indragiri Hulu 60 titik, dan Bengkalis 29 titik.

Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau mengerahkan empat helikopter untuk membantu pemadaman kebakaran yang makin meluas di daerah bagian selatan Provinsi Riau. Wakil Komandan Satgas Karhutla Riau, mengatakan penanganan kebakaran terus dioptimalkan di tengah banyaknya kendala di lapangan.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luas kebakaran hutan dan lahan di Riau sejak Januari tahun ini sudah lebih dari 30.000 hektare.

Edwar menjelaskan, bantuan pemadaman dari udara menggunakan helikopter kini fokus ke Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hulu (Inhu) dan Indragiri Hilir (Inhil). Tiga daerah tersebut banyak terdapat kebakaran yang hingga kini belum bisa dikendalikan, dan mengakibatkan asap atau jerebu yang terbawa angin ke Kota Pekanbaru.

“Penangan terus kami optimalkan, khususnya di daerah selatan yang asapnya mengarah ke Pekanbaru. Pagi ini empat heli sudah kami kerahkan untuk pemadaman di Inhu, Inhil dan Pelalawan,” kata Edwar .

Empat helikopter tersebut akan menjatuhkan air dari udara (water bombing), namun efektivitasnya belum bisa dipastikan karena sumber air banyak mengering.

“Angin kencang dan sulit, dan jauhnya jarak sumber air di daerah Karhutla menjadi kendala kami dilapangan,” ujarnya.

Baca juga: 584 titik panas indikasi Karhutla "kepung" Sumatera, Riau terbanyak

Baca juga: Waduh, jarak pandang Pekanbaru anjlok ke 1,5 Kilometer akibat asap Karhutla

Baca juga: VIDEO - Kebakaran hutan terus bermunculan di Taman Nasional Tesso Nilo


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar