30 Peserta SMN Yogyakarta tertarik pemaparan 'Ombak Bono' di Museum Sang Nila Utama

id Smn,ombak bono,museum sang nila utama,berita riau antara,berita riau terbaru,sinergi bumn

30 Peserta SMN Yogyakarta tertarik pemaparan 'Ombak Bono' di Museum Sang Nila Utama

Pemaparan 'Ombak Bono' oleh Koordinator Museum Sang Nila Utama Endrizal, membuat para siswa SMN asal Yogyakarta terkesima, Senin (19/8) (Antaranews/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Kegiatan hari terakhir Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Yogyakarta di KotaPekanbaru, adalah mengunjungi Museum Sang Nila Utama, Senin. Pemaparan 'Ombak Bono' oleh Koordinator Museum Sang Nila Utama Endrizal, membuat para siswa terkesima, karena belum pernah mendengarkan cerita misterinya.

"Kalau di Jawa ada Pantai Nyi Roro Kidul, maka di Riau ada Ombak Bono, misterinya hampir mirip, hanya Bono adalah pertemuan arus laut dan sungai," kata Koordinator Museum Sang Nila Utama Endrizal di Pekanbaru, Senin.

Kedatangan 23 siswa SMA, SMK, SLB serta tujuh guru pendamping asal Yogyakarta disambut langsung Koordinator Museum Sang Nila Utama Endrizal, di jenjang depan dengan memberikan sedikit gambaran awal.

"Museum ini mengumpulkan dan menyimpan warisan-warisan yang berhubungan dengan budaya Melayu Riau," ujar pria yang sudah 20 tahun menjadi koordinator museum.

Usai berfoto bersama di depan jenjang museum, siswa diajak masuk ke ruang museum. Satu persatu peninggalan bersejarah di dalam ruangan dijelaskan oleh Endrizal.

Setelah melihat peta, pertama masuk museum peserta SMN disajikan video tentang misteri ombak Bono yang terkenal di dunia.

"Menarik cerita Ombak Bononya, karena unik gelombangnya berasal dari laut dan sungai, penasaran jadi ingin ke sana suatu hari," kata Riza kelas SMKN 1 Wonosari.

Kunjungan berlanjut ke prasasti bertuliskan hurup arab Melayu, yang menjadi pertanda sejarah pertama kali muslim memasuki Riau pada jamannya.

"Batu prasasti ini menceritakan kedatangan muslim ke Riau, namanya 'prasasti karang birahi', ditulis dalam bahasa arab melayu yang di dalamnya tertulis tahun pendirian Jumat di bulan Rajab di tahun saratan disasanakala , atau pada baginda rasullulah telah tujuh ratus tua," kata Endrizal lagi tanpa tahu memastikan tahun masehinya.

Pantauan antara anak-anak tampak antusias mereka mengabadikan setiap peninggalan bahkan berselfie di latar belakangi candi Muara Takus.

Baca juga: VIDEO - Peserta SMN Yogyakarta menyusuri Museum Sang Nila Utama Pekanbaru

Baca juga: Peserta SMN Yokyakarta kagumi Pasar Bawah Pekanbaru

Baca juga: Gerbang Tol Pekanbaru "disulap" jadi lokasi upacara HUT RI, begini penjelasannya


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar