BMKG deteksi peningkatan jumlah titik panas di Riau

id Karhutla, titik panas, BMKG,karhutla riau,karhutla 2019,berita riau antara,berita riau terbaru

Peta hasil pantauan titik panas di Jambi,Selasa (15/4) pukul 16.00 WIB. (BMKG)

Pekanbaru (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan titik panas yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.

BMKG menyatakan berdasarkan pencitraan satelit Terra dan Aqua, Kamis pukul 16.00 WIB, terdeteksi sebanyak 19 titik panas yang menyebar di enam kabupaten di Provinsi Riau.

"Titik panas terbanyak terpantau menyebar di Kabupaten Pelalawan dengan total sembilan titik," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sukisno di Pekanbaru.

Ia merincikan, sedikitnya empat kecamatan di Kabupaten Pelalawan dikepung titik panas seperti Pangkalan Kuras, Langgam, Kuala Kampar dan Bunut.

Selain Pelalawan, titik panas turut terdeteksi di Kabupaten Siak empat titik, Bengkalis tiga titik dan masing-masing satu titik di Meranti, Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu.

Secara umum, BMKG menyatakan total terdapat 46 titik panas sebagai indikasi Karhutla di Pulau Sumatera. Selain 19 titik di Riau, titik panas juga menyebar di Jambi enam titik, Sumatera Selatan tujuh titik, Sumatera Barat empat titik, Bangka Belitung lima titik, Sumatera Utara dan Lampung masing-masing dua titik serta Kepulauan Riau satu titik.

Sementara itu, dari 19 titik panas di Riau, BMKG menyatakan empat titik diantaranya dipastikan sebagai titik api atau indikasi kuat terjadinya Karhutla dengan tingkat kepercayaan 70 hingga 100 persen.

"Tiga titik api di Pelalawan dan satu titik api di Indragiri Hilir," ujarnya.

Keberadaan titik-titik panas dan titik api di Riau cenderung fluktuatif. Dalam dua hari terakhir, bahkan BMKG menyatakan tidak mendeteksi sama sekali, hingga akhirnya kemunculan belasan titik panas pada Kamis sore hari ini.

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 1.500 personel gabungan TNI, Polri, Manggala Agni, hingga tokoh agama dan masyarakat disebar ke desa-desa di Provinsi Riau yang dianggap rawan terjadinya Karhutla.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Munardo kepada Antara mengatakan personel gabungan dan tokoh agama serta masyarakat yang tergabung dalam satuan tugas (Satgas) Karhutla itu akan tinggal bersama masyarakat sebagai upaya memberikan pemahaman dan penjelasan pencegahan kebakaran.

"Tahun ini Satgas tidur di rumah penduduk. Berada di tengah masyarakat. Termasuk bagaimana mereka melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan. Semua bersatu dan bergabung selesaikan masalah," kata Doni usai bertemu dengan Gubernur Riau, aktivis lingkungan, mahasiswa dan forum komunikasi pimpinan daerah lainnya.

Dia mengatakan bahwa pola penanganan Karhutla pada tahun ini akan lebih mengedepankan kegiatan pencegahan. Pola itu berubah dibanding pola sebelumnya yang cenderung fokus pada kegiatan penanggulangan.

Menurut Doni, kegiatan pencegahan Karhutla jauh lebih efektif dibandingkan dengan penanggulangan. Hal itu dikuatkan dengan data yang ia miliki bahwa Karhutla yang melanda Riau dan sejumlah provinsi lainnya di Indonesia selama ini, 99 persen akibat perbuatan manusia.

Hingga awal Juli 2019 ini, tercatat lebih dari 3.300 hektare lahan di Riau hangus terbakar. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah yang terluas mengalami Karhutla dengan luas mencapai 1.435 hektare.

Selain Bengkalis, kebakaran turut melanda wilayah Rohil dengan luas kebakaran mencapai 606,25 hektare. Selanjutnya Siak 366 hektare, Dumai 269,75 hektare dan Meranti 232,7 hektare. Kemudian, di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) 120 hektare, Pelalawan 95 hektare, Indragiri Hulu (Inhu) 71,5 hektare, Kampar 64,9 hektare dan Kuansing lima hektare.

Pemerintah Provinsi Riau telah mengaktifkan Satgas Karhutla setelah menetapkan status siaga darurat sejak 19 Februari hingga 31 Oktober 2019 mendatang.

Baca juga: Kepala BNPB minta perusahaan berkontribusi aktif cegah Karhutla Riau

Baca juga: 1.000 tentara masuk desa ikut cegah Karhutla


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar