Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Pekanbaru, Benarkah Pegawai PLN yang Disebut Biayai Aksi Teror?

id densus 88, tangkap terduga teroris di, pekanbaru benarkah, pegawai pln, yang disebut, biayai aksi teror

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Detasemen Khusus 88 Anti Teror menangkap seorang terduga teroris yang disebut sebagai salah satu penyandang dana rencana aksi terorisme Mako Brimob Jakarta, di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Penangkapan tersebut dilakukan di salah satu lokasi di Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Jumat petang.

Berdasarkan penelusuran Antara, terduga teroris yang ditangkap itu bernama Daulay alias Opung (46). Belum jelas lokasi persis dan kronologi pasti penangkapan tersebut.

Namun, berdasarkan penelusuran Antara, rumah terduga teroris Daulay yang berlokasi di komplek perumahan kelurahan Perhentian Marpoyan, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru digeledah tim Densus 88.

Jhonson BL Tobing, ketua RT 01 RW 03, Kelurahan Perhentian Raja membenarkan kedatangan Densus 88 Anti Teror di perumahan tersebut. Ia menjelaskan Densus 88 Anti Teror menggeledah rumah Daulay pada Jumat sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Saat penggeledahan dilakukan, rumah yang cukup besar itu dalam keadaan kosong dan terkunci. Ia membenarkan bahwa rumah itu merupakan kediaman Daulay alias Opung (46) yang merupakan salah satu warganya.

Dari rumah itu, petugas menyita sejumlah barang bukti seperti laptop, ponsel, buku-buku dan beberapa kotak kardus.

"Tadi sekitar pukul 5, polisi datang dan menggeledah rumah beliau. Ruamh itu dalam keadaan kosong," kata Jhonson.

Akan tetapi, Jhonson mengatakan berdasarkan informasi yang ia peroleh dari polisi, Daulay sebelumnya telah ditangkap terlebih dahulu di sebuha lokasi yang tidak disebutkan. Penangkapan itu dilakukan pukul 15.00 WIB.

"Informasinya ditangkap di luar. Tapi saya tidak tahu dimana lokasinya," ujarnya.

Jhonson menyebut seharinya Daulay tinggal di rumah itu bersama dua anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Penggeledahan itu, kata Jhonson berlangsung selama 30 menit yang dilakukan oleh enam orang personel Densus 88 serta diperkuat Polda Riau. Sebelum penggeledahan dilakukan, ia mengaku telah diberitahu oleh salah seorang polisi dan diminta menjadi saksi.

Karena pintu rumah dalam keadaan terkunci, Jhonson lantas berusaha berkomunikasi dengan keluarga Daulay yang tinggal tidak jauh dari komplek perumahan itu. Dia juga meminta kepada keluarganya agar saat penggeledahan kedua anak dan mertuanya tidak perlu berada di lokas.

"Jadi penggeledahan dilakukan polisi dan saya menyaksikan. Saya sengaja meminta anggota keluarga tidak hadir karena takut jadi beban," ujarnya.

Usai penggeledahan, rumah Daulay juga tidak dipasangi garis polisi. Dari pantauan Antara pada Jumat malam, rumah itu masih dalam keadaan kosong.

Berdasarkan catatan Antara, nama Daulay sendiri diduga terlibat dengan dua terduga teroris yang ditangkap di Sumatera Selatan pada 14 Mei 2018 lalu. Kedua terduga teroris yang diamankan Polisi itu berasal dari Pekanbaru. Mereka adalah HR alias AR (38) dan HS alias AA (39).

Dari keterangan pihak kepolisian, mereka akan melakukan aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua, pascakerusuhan yang dilakukan para narapidana teroris.

Berdasarkan pengakuan sejumlah terduga teroris yang ditangkap di Sumatera Selatan saat itu, D yang merupakan salah satu petinggi PLN di Pekanbaru diduga menjadi penyandang dana dalam rencana aksi kegiatan terorisme.

Sejatinya, kabar adanya operasi Densus 88 Anti Teror di Kota Pekanbaru sebelumnya mulai menyebar sejak Jumat siang. Sejumlah warga yang menyaksikan operasi penangkapan tersebut membagikan cerita di media sosial.

Kapolda Riau Irjen Pol Nandang saat dikonfirmasi membenarkan adanya upaya penangkapan sejumlah terduga teroris di Pekanbaru. Namun, Nandang belum bersedia menjelaskan secara rinci, termasuk siapa saja yang ditangkap. "Masih pengembangan," kata Nandang.

Pewarta :
Editor: Anggi Romadhoni
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar