Menristek sebut kalangan pemilik pabrik mengantre beli alat deteksi cepat GeNose

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, GNose

Menristek sebut kalangan pemilik pabrik mengantre beli alat deteksi cepat GeNose

Ilustrasi - Pelajar merakit alat pendeteksi COVID-19 karya Universitas Gadjah Mada GeNose C19 di SMK SMTI Yogyakarta, Rabu (3/3/2021). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengemukakan kalangan pemilik pabrik di Indonesia mengantre untuk membeli alat deteksi cepat COVID-19, GeNose, karya Universitas Gadjah Mada.

"Banyak yang menghubungi saya, bahkan dari level-level pabrik yang membutuhkan GeNose untuk memastikan karyawannya bisa bekerja dengan tenang," ucap dia dalam webinar bertajuk "Pandemi COVID-19 ubah arah sains Indonesia?" diikuti di Jakarta, Kamis siang.

Baca juga: Terkait privasi data, masyarakat tak perlu unggah sertifikat vaksin ke media sosial

Hal ini harus disikapi serius, sebab pemenuhan GeNose untuk kebutuhan pabrik ini berkaitan dengan bagian dari upaya pemulihan ekonomi.

Bambang meminta alat tersebut bisa segera diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan industri di Tanah Air.

"Kami sangat mengapresiasi UGM yang tidak berhenti melakukan riset dan inovasi terkait COVID-19. Selain produksi massal GeNose, ICU ventilatornya juga kami nantikan karena jika berhasil direalisasi maka merupakan capaian maju dan juga luar biasa," katanya.

Menjawab permintaan tersebut, Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Panut Mulyono mengemukakan pihaknya saat ini masih mendiskusikan perihal pendanaan produk kepada Majelis Wali Amanat (MWA) untuk program percepatan produksi massal GeNose maupun Ventilator ICU.

"Kami bicara dengan ketua MWA untuk mencari modal bekerja sama dengan investor untuk percepatan produksi massal. Mudah-mudahan bisa kita segerakan," katanya.

Ia mengungkapkan persoalan inovasi dari sumber daya peneliti berada pada tahap hirilisasi atau industri yang berniat memproduksi hasil temuan baru menjadi produk yang dimanfaatkan masyarakat.

Panut berharap, intervensi pemerintah terhadap hasil penemuan ilmiah tidak bergulir hanya saat pandemi COVID-19.

"Dengan pengalaman COVID-19 ini, ke depan momentum pandemi ini terus kita bangun dan kerja samakan bersama agar kita bisa kejar ketertinggalan dari bangsa lain," katanya.

Baca juga: Pekanbaru mulai vaksinasi para pejabat eselon publik

Baca juga: 40 persen vaksin Sinovac Pekanbaru untuk kelompok pelayanan publik


Pewarta: Andi Firdaus