Penabalan gelar Datuk Wira Kesuma Negeri dan "Duduk Baselo" di Kampung Sungai Berbari Siak

id Gelar adat. Siak. Melayu. Riau.

Penabalan gelar Datuk Wira Kesuma Negeri dan "Duduk Baselo" di Kampung Sungai Berbari Siak

Ketua MKA LAMR Siak, Wan Said memberikan sambutan pada penabalan gelar Datuk Wira Kesuma Negeri Kampung Sungai Berbari dan acara duduk baselo yang dihadiri Bupati Siak, Alfefri (baju biru). (ANTARA/HO-

Siak (ANTARA) - Kebudayaan Melayu Riau memiliki tradisi menyandangkan gelar kepada para pemimpin. Mulai dari presiden, gubernur hingga kepala daerah di kabupaten/kota sudah ditabalkan gelar Datuk Seri Setia Amanah oleh Lembaga Adat Melayu Riau provinsi maupun LAM di kabupaten.

Tak hanya itu, pada tingkat kampung (desa) pun juga ada disandangkan gelar. Seperti di Sungai Berbari, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak. Tapi yang disandangkan bukan gelar Datuk Setia Amanah, melainkan Datuk Wira Kesuma Negeri.

Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Siak, Wan Said mengatakan gelar itu didapat Penghulu (kepala desa) Kampung Barbari. Wira Kesuma Negeri jika diartikan secara literal yakni wira bermakna seorang pemimpin yang gagah dan kesuma bermakna kesayangan.

Wan Said berharap penghulu jika menginginkan itu, tentu disesuaikan dengan tingkah laku, etika dan sejauh mana memperjuangkan masyarakat. Oleh karena itu, gelar tersebut diberikan tidak langsung setelah terpilih jadi penghulu, namun ada rentang waktu dulu untuk menilainya dan diberikan sekali setahun.

"Saya berharap pemberian gelar itu, dapat dilakukan setelah menjabat beberapa waktu. Sehingga akan terlihat pengabdiannya seperti apa, tidak asal tabal aja, tetapi sejauh mana masyarakat sayang padanya," ungkap Wan Said.

Penabalan gelar itu merupakan prosesi tahun kedua bagi sang penghulu yakni Ibnu Sinar. Tahun lalu juga ditabalkan gelar tersebut yang menjadikannya penyandang gelar adat pertama di tingkat kampung di Kabupaten Siak.

Prosesi dilakukan dengan acara Duduk Baselo pada Jumat petang (18/9) kemarin. Bupati Siak Alfedri ikut menghadiri mengenakan Baju Melayu biru dan kain songket tenun Siak berwarna hitam. Setibanya ia di tempat acara beliau disambut meriah oleh ratusan warga Pusako.

Setelah duduk baselo(bersila), ia menyerahkan potongan tumpeng kepada Datuk Wira Kesuma Negeri.

Alfedri yang hadir pada acara itu menyampaikan kegiatan yang baik ini perlu dipertahankan. Itu mengingat globalisasi membuat generasi muda sekarang lupa dengan adat tradisi di kampungnya.

"Melalui acara ini, kita harapkan adat melayu terus terjaga, generasi saat ini banyak yang tak tahu dengan adat dan teradisi di daerahnya. Saya bangga bisa hadir di sini, duduk baselo membicarakan bagaimana Melayu Siak ini ke depannya," ungkapnya.

Disebutkan Bupati, Siak The Trully Malay atau Siak merupakan Melayu yang sebenarnya karena negara-negara Melayu mengakui bahwa Melayu Siak merupakan Melayu tua dan mereka banyak belajar ke sini. Pihaknya mempunyai visi untuk mengembangkan Siak sebagai pusat peradaban Melayu di Indonesia.

"Sehingga nantinya orang-orang yang akan mempelajari Budaya Melayu ya harus ke Siak," jelas Bupati Alfdri.

Untuk meraih dan tetap mempertahankannya,kini sedang diperjuangkan untuk menjadikan Siak sebagai Kota Warisan Budaya Dunia, dan itu perlu kerja samasemua pihak.

"Kita duduk baselo seperti ini langkah awal untuk mengajarkan kepada masyarakat bahwa kebersamaan dan terus berjuang untuk mendapatkannya sebagai Kota sebenar Melayu tidak cukup hanya slogan, tapi sebagai realita dan memang harus dipertahankan," sebutnya.

"Kita akan jadikan ini sebagai salah satu langkah kebangkitan Melayu Siak dimulai kampung dan kecamatan, setelah apa yang kita miliki saat ini untuk tetap dijaga," ungkap Bupati Alfedri.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar