Komunitas VRI bangun jembatan gantung bantu rakyat di daerah terpencil

id Berita hari ini, berita riau antara,berita riau terkini,Komunitas VRI

Komunitas VRI bangun jembatan gantung bantu rakyat di daerah terpencil

Salah satu jembatan gantung yang sudah terbangun di atas sungai Cibeet yang menghubungkan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bogor (Muhammad Alfi/Frislidia/Antara)

Pekanbaru (ANTARA) - Ketua Komunitas Vertical Rescue Indonesia (VRI) Tedi Ixdiana betekad akan terus memenuhi keinginan membangun sebanyak 1.000 unit jembatan gantung untuk membantu rakyat di daerah terpencil dengan anggaran berkisar Rp25 juta hingga Rp90 juta itu.

"Anggaran sebesar Rp25 juta hingga Rp90 juta bersumber dari para donatur tentunya, itu dibutuhkan untuk membeli bahan-bahan utama dalam pembuatan jembatan gantung ini terdiri atas seling baja 12 mili meter, besi, papan atau bambu yang akan dipergunakan sebagai alas untuk pijakan, dan menggunakan bahan-abah itu jembatan sudah bisa dibangun," kata Teddi, dihubungi dari Pekanbaru, Selasa.

Menurut Teddi, untuk proses pembangunannya cukup sederhana, pertama-tama, pancang batu besar diikat seling baja dan dikubur ke dalam tanah atau di lumpur sawah. Kemudian pasang tiang-tiang gapura.

Setelah itu, katanya, bentangkan seling dari pancang ke pancang dan terakhir baru dipasang pijakan yang bisa terbuat dari papan atau juga bambu. Pancang tali baja yang dipasang menggunakan teknik yang diadopsi dari dari teknik vertical rescue (penyelamatan di medan vertikal) yaitu pancang dead man atau batu besar yang dibenamkan ke dalam tanah. Dengan begitu, jembatan pun mampu berdiri kokoh.

"Tahapan singkat dari proses pembuatan jembatan gantung ala VRI seperti itu yang hanya membutuhkan waktu pengerjaan selama 1-5 hari. Meskipun demikian, kekuatan dan keamanan jembatan cukup kokoh dan menjamin keselamatan penggunannya ketika melintasi jembatan itu," katanya.

Ia mengatakan, keberadaan jembatan tersebut cukup kokoh dan kuat dengan masa pemakainnya bisa mencapai 10 tahun tetapi memang harus dirawat, harus sering dilihat dan diperbaiki jika ada bagian-bagian jembatan yang kendor atau ada baut yang lepas.

Yang paling penting, kata Teddi lagi adalah bobot jembatan yang digunakan setiap hari untuk sekali jalan itu tidak boleh lebih dari 3 orang. Sedangkan struktur bangunan jembatan ini terlihat sama seperti jembatan gantung pada umumnya. Bedanya, tali baja atau pijakan yang jadi tumpuan beban utamanya.

Tedi Ixdiana sang penggagas dan arsitektur jembatan gantung bersama relawan anggota komunitasnya baru saja menyelesaikan 24 unit jembatan pada periode Januari-Oktober 2019. Sebanyak 24 unit jembatan yang dibangun itu bagian dari 85 unit yang terbangun sejak tahun 2015, tersebar di Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat dan lainnya.

"Tentunya pembangunna jembatan gantung bertujuan membangun jembatan di daerah-daerah terpencil sebagai akses mendukung kelancaran masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari, seperti bersekolah, bekerja, berbelanja dan sebagainya yang sebelum adanya jembatan mereka harus menempuh daerah tujuan dengan jalan memutar dan jaraknya cukup jauh," katanya.

Tekad tersebut perlu diwujudkan untuk pemerataan pembangunan terkait Indonesia adalah salah satu negara dengan kondisi geografis dan topografi yang sangat beragam, dan pembangunan infrastruktur di beberapa daerah tidak mudah untuk dilakukan seperti membangunan infrastuktur jembatan.

"Jembatan menjadi salah satu insfrastuktur yang paling dibutuhkan di beberapa daerah Indonesia khususnya di pelosok desa. Kita pasti pernah mendengar kisah-kisah tragis anak sekolah atau warga yang bertaruh nyawa dengan menyebrangi sungai untuk bisa beraktifitas," katanya.

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar