Polda Riau sita 10 kilogram sabu jaringan Malaysia

id Narkoba, Polda Riau, Bengkalis

Polda Riau sita 10 kilogram sabu jaringan Malaysia

Petugas kepolisian Polres Jakarta Barat memeriksa paket-paket sabu hasil penangkapan di Riau, Kamis. (Polres Jakarta Barat for Antara)

Pekanbaru (ANTARA) - Kepolisian Daerah Riau menangkap tiga tersangka sindikat narkoba jaringan internasional asal Malaysia dan menyita barang bukti berupa 10 kilogram sabu-sabu berikut 15.490 butir pil ekstasi.

Direktur Reserse Narkoba Polda Riau Kombes Pol Suhirman kepada Antara di Pekanbaru, Selasa, mengatakan tersangka ditangkap di Kabupaten Bengkalis dan Kota Pekanbaru. Mereka memanfaatkan jalur Pantai Timur Provinsi Riau, tepatnya Pulau Bengkalis sebagai pintu masuk penyelundupan barang haram tersebut.

"Pantai timur adalahjalur sutera masuknya narkoba ke Indonesia melalui Provinsi Riau dan diedarkan keluar Riau," katanya.

Suhirman menjelaskan pengungkapan tersebut merupakan hasil penyelidikan panjang yang bahkan membutuhkan waktu sebulan lamanya setelah Korps Bhayangkara menerima laporan masyarakat peredaran narkoba di wilayah Riau.

Hasilnya, dua tersangka pertama berhasil dibekuk di sekitar pelabuhan RoRo Sungai Pakning dan Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, pada 3 Juli 2019. Kedua pemuda itu masing-masing berinisial D dan A. Dari tangan mereka disita 10 kilogram sabu-sabu dan 15.500 butir pil ekstasi.

"Dari penangkapan pertama sengaja kita tidak mempublikasikan kepada media karena masih harus melakukan pengembangan," ujarnya.

Dari pengembangan dua tersangka pertama itu, polisi kembali berhasil menangkap seorang tersangka lainnya di wilayah Kota Pekanbaru berinisial Bd. Dari tangan remaja berusia 19 tahun itu, Polisi menyita 500 butir pil ekstasi. Berbeda dari dua rekannya, Bd memiliki peran yang lebih berat yakni membawa narkoba dari Riau ke Sumatera Selatan.

Ia menjelaskan ketiga tersangka merupakan jaringan yang sama dan memiliki peran berbeda. D merupakan tersangka utama yang bertindak sebagai pengendali jaringan tersebut. Sementara A dan Bd merupakan kaki tangan tersangka yang bertindak sebagai penyimpan dan kurir.

"Tujuan akhir jaringan ini adalah mengirimkan narkoba ke wilayah Palembang, Sumatera Selatan," ujarnya.

Baca juga: Polisi yang menyamar tangkap mahasiswi cantik di Pekanbaru, kok bisa?

Sementara Provinsi Riau hanya sebagai pintu perlintasan. Lebih jauh, tersangka D mengaku telah empat kali meloloskan pengiriman sabu-sabu. Setiap kali lolos, dia mendapat bayaran sebesar Rp20 juta dari bandar yang mengendalikan peredaran narkoba itu.

Suhirman menegaskan, saat ini Polda Riau masih terus melakukan pengembangan kasus tersebut termasuk mengungkap bandar besar sindikat tersebut. "Kita sudah kantongi identitasnya," tuturnya.

Saat ini, ketiga tersangka dan barang bukti narkoba serta dua sepeda motor dan kendaraan roda empat diamankan diPolda Riau guna pengusutan dan pengembangan lebih lanjut.

Baca juga: Polda Riau telusuri temuan 18,8 kilogram sabu tak bertuan

Baca juga: Terlibat narkoba, oknum personel Polres Inhu dipecat


Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar