Menjaga DAS Sungai Siak sempena hari jadi Pekanbaru ke-235

id DAS,sungai siak,pekanbaru,hut pekanbaru,hari jadi pekanbaru,riau,aksi bersih sungai

aksi bersih Sungai Siak sempena Hari Jadi Pekanbaru ke -235

Pekanbaru (ANTARA) - Banyak cara yang dilakukan orang untuk merayakan peringatan sebuah ulang tahun, bisa dengan kegiatan sosial, kunjungan bahkan aksi besar yang memukau hingga dikenang sepanjang jaman. Tidak terkecuali Kota Pekanbaru, dihari peringatan ulang tahunnya yang jatuh pada 23 Juni 2019, mencoba memberi makna berbeda.

Usia cukup matang dalam pembangunan dan pelayanan hingga kini, Kota Pekanbaru telah berkembang pesat dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta jiwa.

Selain pembangunan fisik, sarana dan prasara yang dicapai selama ini Pemko Pekanbaru dibawah kepemimpinan Walikota dua periode, Firdaus -Ayat Cahyadi, ingin membuat gebrakan yang berbeda dibandingkan tahun-tahun yang sudah-sudah.

Tidak hanya mempercantik dan merias wajah kota, dan berbagai perayaan yang digalang dari tingkat RT/RW hingga kecamatan tetapi di hari milad ibu kota Provinsi Riau yang ke-235 tahun, digelar aksi bersih Sungai Siak. Tujuannya jelas untuk lebih fokus pada pelestarian lingkungan khususnya Daerah Aliran (DAS) Sungai Siak.

Aksi yang digelar sekitar beberapa hari menjelang milad dihadiri oleh Walikota Pekanbaru Firdaus beserta Forkopimda Pekanbaru, Kepala Dinas/Instansil/Badan Pekanbaru, Balai Wilayah Sungai III, BKSDA, BPBD, Basarnas, Kodim 0301, Koramil 03/Senapelan, Polresta Pekanbaru, Polsek Senapelan, tokoh ulama, tokoh masyarakat, tokoh peduli lingkungan dan dibuka oleh Sekda Provinsi Riau, Ahmad Hijazi Kamis (20/6/2019).

"Kegiatan ini diberi nama aksi bersih Sungai Siak sempena Hari Jadi Pekanbaru ke -235," kata Walikota Pekanbaru, Firdaus, di Pekanbaru, kemaren.

Dalam aksi bersih DAS Sungai Siak Wali Kota Firdaus dan ASN membersihkan sejumlah sampah termasuk eceng gondok yang berkembang biak pesat di permukaan aliran Sungai Siak yang menutup alur transportasi kapal. Menurut warga eceng gondok ini dulunya ada yang hanyut dari hulu dari muara Sungai Tapung dan masuk ke Sungai Siak.

Aksi bersih sungai Siak bukan hanya seremonial, tapi aksi ini dapat menjadi stimulan bagi masyarakat Pekanbaru khususnya di sepanjang DAS Sungai Siak agar lebih peduli terhadap lingkungan dan menimbulkan budaya bersih Sungai Siak.

Prihatin pada DAS Sungai Siak

Sungai Siak adalah sungai yang memiliki fungsi strategis bagi Pekanbaru saat ini diketahui berada dalam kondisi memprihatinkan. Sungai Siak merupakan sungai yang paling dalam di Indonesia, namun DAS Siak saat ini termasuk kritis, kawasan rawan bencana banjir dan longsor, erosi, dan pendangkalan, serta terjadi berbagai macam pencemaran. Salah satu yang mencemari Sungai Siak adalah sampah (organik dan non organik) serta tumbuhan air (gulma) seperti eceng gondok.

Pemko Pekanbaru dalam rangka Hari Jadi Pekanbaru ke - 235, melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pekanbaru dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mulai prihatin dengan kondisi DAS Sungai Siak yang mengalami kondisi kerusakan.

Untuk itu perlu dilakukan sebuah aksi yang melibatkan semua pihak dalam aksi bersih.

Aksi bersih sungai yang dipimpin oleh Walikota Pekanbaru. Dengan perahu karet BASARNAS, Walikota Pekanbaru bersama tim membersihkan gulma yang ada di sepanjang tepian sungai Siak. Aksi ini juga dilakukan oleh Tim lainnya menggunakan perahu karet dari BPBD serta perahu masyarakat sekitar. Selain di sungai juga dilakukan aksi bersih di sempadan sungai Siak oleh ASN, petugas kebersihan, komunitas, dan berbagai stakeholder lainnya.

Aksi bersih sungai Siak ini bukan hanya seremonial belaka, namun diharapkan melalui aksi yang telah dilakukan dapat menjadi stimulan bagi masyarakat Pekanbaru khususnya di sepanjang tepian Sungai Siak agar lebih peduli terhadap lingkungan dan menimbulkan budaya bersih sungai Siak.

"Untuk itu, kami selaku panitia pelaksana aksi bersih ini kamu sangat mengapresiasi partisipasi aktif tamu undangan dan masyarakat yang hadir untuk mensukseskan aksi bersih sungai Siak ini." terang Elmawati, Sekretarias Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru.

Pada kesempatan ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru memberikan perahu fiber kepada Forum Batang Siak, yang merupakan kelompok masyarakat peduli sungai serta bibit pohon kepada seluruh masyarakat dan peserta aksi bersih sungai.
aksi bersih Sungai Siak sempena Hari Jadi Pekanbaru ke -235


Tukar sampah dengan bibit pohon

Pemerintah Kota Pekanbaru sempena hari jadi juga membagikan 2.000 bibit pohon kepada masyarakat. Tapi, bibit pohon dibagikan hanya kepada masyarakat yang berpartisipasi dalam Aksi Bersih Sungai Siak.

Ketua panitia hari jadi Pekanbaru ke-235, Zulhelmi Arifin menyebut, dalam Aksi Bersih Sungai Siak ini masyarakat yang ikut, bisa menukarkan sampah dengan bibit pohon.

"Panitia sudah menyiapkan sebanyak 2.000 bibit pohon berbagai jenis," kata Zulhelmi.

Zulhelmi menyebutkan, Pemko berharap dapat memotivasi masyarakat untuk sama-sama menjaga dan mencintai lingkungan.

"Mari kita jaga dan cintai lingkungan untuk anak cucu kita ke depan," ajaknya.

Profil Sungai Siak

Sungai Siak merupakan sungai terdalam di Indonesia, yang kedalamannya dahulu mencapai 30 meter, namun akibat pendangkalan kini tinggal sekitar 18 meter. Sehingga dahulunya sungai ini dapat dilalui oleh kapal-kapal besar seperti kapal tanker dan kapal peti kemas. Pada sehiliran sungai ini terdapat banyak pabrik di antaranya pabrik kelapa sawit, pabrik pengolahan kayu dan juga pabrik kertas. Beberapa jembatan besar dibangun untuk melintasi sungai ini, di antaranya Jembatan Siak I, Jembatan Siak II, Jembatan Siak III, dan Jembatan Siak IV.

Sungai Siak melewati empat wilayah administrasi kabupaten dan satu wilayah administrasi kota yaitu Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru.

Mengenai asal-usul Sungai Siak, belum dapat ditunjukkan tahun berapa sebenarnya Siak atau kerajaan Siak pertama ini timbul. Hal tersebut dikarenakan sangat terbatasnya bukti-bukti pemberitaan dan peninggalan sejarah yang ditemui.

Namun didapat suatu kepastian yang mendekati berdasarkan sumber-sumber sejarah kuno (zaman Hindu/Budha) bahwa yang disebut Siak itu adalah suatu kerajaan yang lokasinya pasti di salah satu tempat di sepanjang sungai Siak meskipun tidak tersebut dengan tegas bahwa Siak itu kerajaan.

Sebelum bernama Siak, dulunya sungai ini bernama Sungai Jantan. Namun karena adanya perpindahan pusat pemerintahan kerajaan Siak yang awalnya berada di daerah Kuantan dekat Sabak Auh maka berubahlah menjadi Sungai Siak.

Dalam sumber-sumber sejarah nasional Indonesia yang ditulis oleh oleh pujangga-pujangga zaman Hindu/Budha maupun oleh para sejarawan modern Indonesia dan asing, penyebutan kata Siak memang sudah ada.

Sekarang sudah menjadi nama sebuah sungai dimana sepanjang aliran sungai tersebut terdapat jejak-jejak peninggalan kerajaan Siak.
aksi bersih Sungai Siak sempena Hari Jadi Pekanbaru ke -235


Terdapat bermacam-macam pendapat tentang arti kata Siak. Ada yang mengatakan bahwa Siak berati pedas dalam bahasa Tapanuli Selatan.

Jika diartikan demikian tentunya terdapat latar belakang yang berhubungan antara keduanya. Namun fakta-fakta sejarah tidak menunjukkan hal tersebut.

Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa kata Siak sama saja dengan kata Suak. Namun pada kenyataannya penggunaan kedua kata tersebut tidaklah sama dan saling berdiri sendiri.

Suak diartikan nama suatu tempat atau kampung yang dialiri oleh anak sungai yang kecil sebagaimana banyak terdapat di sepanjang Sungai Siak, misalnya: Suak Rengas, Suak Lanjut, Suak Santai dan sebagainya.

Sedangkan kata Siak digunakan untuk penyebutan kata Sungai Siak, Kota Siak. Jadi dapat disimpulkan bahwa kata Siak bukanlah turunan kata atau perubahan morphologis dari kata suak.

Selain itu ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa kata Siak merupakan suatu nama panggilan yang diberikan kepada orang yang menjaga masjid atau orang-orang alim.

Kata Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.

Jika demikian, tentulah dikarenakan dahulunya daerah Siak itu merupakan kerajaan Islam dan di bawah pengaruh Melaka dan Johor merupakan kerajaan yang beragama Islam.

Yang terakhir ada yang meyatakan bahwa kata Siak berasal dari nama tumbuh-tumbuhan sejenis perdu yang tumbuh di sekitar aliran sungai Siak maupun di sekitar bekas kerajaan Siak yang bernama siak-siak.

Oleh masyarakat setempat, tumbuh-tumbuhan itu biasa dipergunakan sebagai bahan obat-obatan dan wangi-wangian.

Pendapat ini bisa diperkuat jika dihubungkan dengan teori diketengahkan oleh J. Kern., Prof. Pubotjoroko dan Prof. Muhammad Yamin tentang pemberian nama kerajaan/raja berdasarkan flora-fauna.

Di mana nama-nama kerajaan lazim diambil dari nama tumbuh-tumbuhan (flora) seperti kerajaan Majapahit, dari nama pohon maja yang buahnya pahit, lalu Tarumanegara, dari nama pohon tarum serta kerajaan Johor, dari nama pohon johar.

Selain itu nama raja diambil dari nama-nama hewan (fauna) seperti Hayam Wuruk, dari kata hayam/ayam, Gajah Mada, dari kata gajah serta Si Singamangaraja, dari kata singa.

Demikianlah beberapa pendapat mengenai asal usul kata Siak. Terlepas dari itu, sampai saat ini Siak masih sering menjadi buah bibir perbincangan hangat oleh masyarakat setempat tentang berbagai mitos serta fenomena gaib yang sering diceritakan oleh masyarakat setempat.

Seperti gajah putih yang timbul di sungai ini dan buaya putih yang selalu mencari mangsa di daratan, bahkan pernah ada penampakan ikan duyung, dan penampakan naga yang sangat mirip dalam cerita kuno dari china. Semua hal tersebut tidak lepas dari latar belakang Kerajaan Siak. (advertorial)



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar