Indahnya Sulaman Xiang Bagai Lukisan

id indahnya, sulaman xiang, bagai lukisan

 Indahnya Sulaman Xiang Bagai Lukisan

Jakarta, (Antarariau.com) - Johanes Galuh Bimantara, seorang jurnalis asal Indonesia, terpana saat melihat sebuah karya bergambar macan di hadapannya.

Meski mirip lukisan, objek itu ternyata adalah karya sulam Xiang yang berasal dari Provinsi Hunan, China.

"Wah, tadi saya kira lukisan," kata Galuh yang bersama beberapa jurnalis Asia lainnya saat berkunjung ke Institut Riset Sulam Hunan di Changsha, China, pekan lalu.

Detail, komposisi, dan gradasi warna yang terpadu apik akan menipu mata setiap orang yang hanya sekilas melihatnya.

saat dilihat lebih dekat pun masih sulit memperhatikan serat-serat benang yang terjalin sangat rapat dan mendetail pada sulaman Xiang.

Benang yang digunakan lebih tipis dari rambut manusia, ujar Liu Xingxing, seorang pemandu di institut tersebut.

Seni sulam Xiang terkenal dengan gambar-gambar hewan seperti macan dan angsa, yang terkesan hidup.

Tidak hanya mata, seluruh bagian tubuh hewan bahkan bulu juga disulam dengan ketelitian dan imajinasi tingkat tinggi agar bisa menciptakan efek tiga dimensi.

Teknik sulaman Xiang bahkan telah dikembangkan menjadi karya dua sisi, dimana sebuah karya memiliki dua gambar berbeda di setiap sisinya.

Li Qunying (45), seorang master sulam yang telah mempelajari teknik ini selama 30 tahun mengatakan bahwa gambar bunga dan burung adalah keterampilan dasar yang harus dikuasai jika seseorang ingin mempelajari seni sulam Xiang.

Pada umumnya, sebuah desain gambar telah dicetak pada selembar kain putih transparan, sebelum kemudian disulam dengan teknik tumpuk dan gradasi.

"Tetapi kalau sudah master biasanya tidak membutuhkan desain, asal sudah ada struktur gambarnya mereka bisa menyulam hanya dengan mengandalkan imajinasi dan menambah detail-detail untuk memperindah karya," tutur Li.

Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah karya sulam sangat tergantung pada ukuran, desain dan kerumitan teknik yang digunakan.

Untuk karya berukuran 50x50 centimeter bergambar bunga dapat diselesaikan dalam hitungan minggu, tetapi untuk karya berukuran besar hingga mencapai 1,5x3 meter membutuhkan waktu paling cepat tiga bulan, bahkan ada yang mencapai tahunan.

Karya berukuran besar dengan banyak detail biasanya dikerjakan oleh lebih dari satu penyulam. Institut Riset Sulam Hunan memiliki lebih dari 100 penyulam dan 20 master yang bekerja tujuh jam per hari.

Ruang pamer mereka harus dilengkapi jendela-jendela besar agar cahaya matahari bisa masuk karena salah satu prasyarat utama dalam proses menyulam adalah cahaya alami yang tidak berasal dari nyala lampu.

"Saat bekerja lampu harus dimatikan agar tidak ada pantulan cahaya yang bisa memengaruhi warna benang yang dipilih. Karena itu juga kami memberlakukan jam kerja pukul 8 pagi hingga 4 sore, saat kami bisa mengandalkan cahaya matahari," tutur Li.

Li sendiri mengaku tertarik untuk mempelajari seni sulam karena kecintaannya pada lukisan. Tetapi sebagai perempuan China, ia lebih memilih medium sulam yang merupakan budaya asli bangsanya sejak lebih dari 2.000 tahun lalu.

Sangat alami jika perempuan China ingin melestarikan budaya yang sudah turun-temurun ini, kata dia.

Seni sulam Xiang telah dimulai sejak Kerajaan Chu (704-223 SM) dan terus berkembang menjadi kerajinan utama di Changsha, Ibu Kota Provinsi Hunan.

Terkenal dengan karakteristik budaya Xiang Chu dan teknik yang luar biasa menjadikan Provinsi Hunan salah satu dari empat pusat seni sulam di China selain Suzhou, Guangdong, dan Chengdu.

Provinsi ini menjadi saksi sejarah panjang seni sulam Xiang yang hingga kini masih dapat ditemukan jejaknya di Desa Shaping. Terletak di Distrik Kaifu, Changsha, desa ini menyimpan koleksi sulaman dari kuburan era Kerajaan Chu serta Dinasti Han (206 SM-220) yang membuktikan bahwa seni sulam Xiang adalah budaya telah berusia lebih dari 2.000 tahun.

Bangsa China juga mempercayai legenda tentang para pekerja perempuan yang menekuni seni sulam di Desa Shaping. Xinzhui, istri bangsawan Dai dari Dinasti Han pernah menjadi pekerja sulam di desa tersebut.

Pada masa Dinasti Qing (16361912), pekerja sulam di Desa Shaping menjadi lebih terkenal dari sebelumnya. Seorang pekerja perempuan bernama Chen Jiugu bahkan mendapat kehormatan untuk menyulam jubah Kaisar Qianlong sebagai hadiah hari jadinya ke-90 tahun. Saat ini duplikat jubah tersebut bisa dilihat di Museum Sulam Xiang di Shaping.

Pada akhir Dinasti Qing, banyak master dan bengkel sulam bermunculan. Karya indah ini menjadi populer baik di dalam maupun luar negeri, dan memenangi medali emas di Pameran Internasional Panama pada 1915.

Suvenir Nasional

Pada 1932, permadani sulam Xiang dengan potret Presiden Roosevelt berhasil menarik perhatian publik internasional saat dipamerkan di Centennial Expo di Chicago, Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir karya sulam ini mendapat apresiasi dari keluarga Bush dan keluarga Obama sebagai suvenir khas China.

Karya sulam dua sisi Xiang seberat 50 gram yang diproduksi oleh Institut Riset Sulam Hunan bahkan pernah dibawa ke luar angkasa pada November 2011 oleh Shenzou VIII. Penerbangan tanpa awak selama 17 hari itu mendapat reputasi sebagai program yang membawa objek yang kaya informasi budaya.

Pada 2013, sebanyak 16 karya sulam Xiang terjual dalam sebuah pameran di Hongkong. Salah satu sulaman bergambar kepala macan dengan judul "The King in the Forest" seharga 2,2 juta yuan atau sekitar Rp4,48 miliar menjadi karya sulam Xiang termahal yang terjual di pasar internasional.

Institut Riset Sulam Hunan menjual produknya dengan berbagai harga, tetapi sebagian besar yang dijual adalah karya bernilai tinggi seharga ribuan yuan.

Tetapi saat mengikuti pameran di luar negeri biasanya mereka akan menyertakan juga sulaman yang diaplikasikan pada benda-benda seperti kipas tangan, syal, Cheongsam, atau dompet.

"Biasanya pembeli internasional lebih tertarik membeli karya sulam yang bisa digunakan sehari-hari," tutur Liu Xingxing.