Pekanbaru (Antarariau.com) - Kalangan dosen yang tergabung dalam Kelompok Jabatan Fungsional Dosen (KJFD) Ekonomi Industri menyimpulkan perlunya sebuah gagasan bahwa Pariwisata Riau harus memiliki roadmap (peta jalan) yang jelas guna memperkuat pengembangan ekonomi kreatif di Provinsi Riau.
"Roadmap atau peta jalan adalah rencana kerja rinci yang menggambarkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan," kata Perwakilan KJFD Ekonomi Industri Dr Eka Armas Pailis usai pelaksanaan Focus Diskusian Grup (FGD) bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, di Gedung Bosman Saleh, Pekanbaru, Kamis.
Hadir dalam FGD ini Kepala Dinas Parkeraf Riau Fahmizal Usman, penstudi ilmu ekonomi Dr Eka Armas Pailis, Prof Isyandi, Dr Jahrizal yang juga ketua KJFD dan sejumlah penstudi ilmu ekonomi yang tergabung dalam KJFD Ekonomi Industri Jurusan Ilmu Ekonomi FE UNRI.
Menurut dia, roadmap umumnya disusun sebagai bagian dari rencana strategis sedangkan substansi penulisannya terdiri atas keadaan saat ini (sebagai baseline) dan tujuan yang ingin dicapai.
Sedangkan uraian tahap pelaksanaan untuk mencapai tujuan, selain itu sasaran dari setiap tahap dan indikator pencapaian sasaran.
Kepala Dinas Parkeraf Riau, Fahmizal Usman mengatakan saat ini pihaknya terus melakukan terobosan, mulai dari tampilan dan kompetensi SDM dinas pariwisata, hingga kepada kompetensi pendamping wisata di Riau, melalui pelatihan dan pembinaan.
"Sesuai dengan tupoksi yang kami miliki, kami fokuskan pelaksanaannya. Disini, karena hadir para akademisi, kami pun mencoba untuk membuka ruang diskusi, agar konsep "pentahelic" bagaimana pemerintahan, akademisi, kalangan bisnis, komunitas dan media bisa berkolaborasi membangun sebuah tatanan yang baik, terutama sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Riau," kata Fahmizal Usman.
Fahmizal juga menuturkan saat ini Disparkeraf Riau mencatat ada 500 kuliner khas Melayu Riau, 455 menu makanan berbahan dasar sagu di Riau. Selain itu saat ini dikembangkan, produksi souvenir khas Riau, even seni pertunjukan.
Sedangkan visi Disparkeraf Riau yakni wisata unggul berbasis budaya. Visi itu diturunkan ke beberapa program yakni Riau Kreatif center,
kemudian ada Genpi (Generasi Pesona Indonesia).
"Dalam hal sini pihak kampus khususnya mahasiswa bisa berkolaborasi dengan kami, dan beberapa program lainnya," kata Fahmizal.
Pada kesempatan itu, beberapa anggota KJFD Ekonomi Industri menyampaikan gagasan, bahwa Dinas Parkeraf Riau hendaknya tidak melupakan ekonomi khas Riau yang menjadi ciri pondasi ekonomi Riau sejak dahulu.
Roh ekonomi Riau berada pada ekonomi "resourse", yakni sumber daya alam Riau seperti minyak bumi, dan juga agro ekonomi seperti sawit.
"Kenapa tidak dikembangkan program seperti wisata sejarah penggalian minyak bumi, wisata napak tilas kebun sawit di Riau. Wisata tugu minyak bumi Riau. Ini adalah rohnya Riau yang tidak bisa kita lupakan," katanya.
Artinya, kata Eka Armas Pailis, jangan berfikir untuk membangun yang besar hingga menyedot energi yang besar, sementara kita lupa dengan pondasi kita. Bahwa inilah warna Riau yang bisa seiring dan sejalan untuk dikembangkan.
"Dan melalui diskusi ini, kami menggagas perlu sebuah roadmap wisata Riau, sehingga setiap tahun terarah program dan kebijakkan pembangunannya. Ini juga demi wisata Riau yang lebih baik dan terus tumbuh berkembang. Perlu dilahirkan program kreatif yang biaya minimalis dengan "impact optimal" selanjutnya rencana Mou Jurusan Ilmu Ekonomi FE UNRI dengan Dinas Pariwisata Riau alam bidang riset dan pendampingan bidang ekonomi kreatif," kata Eka Armas Pailis dan juga Dr Jahrizal.