Pekanbaru (ANTARA) - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) resmi meluncurkan Buku Melayu Lestari: Menjaga Budaya Tumbuh Bersama Generasi, di Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) pertengahan Agustus 2025.
Kehadiran Buku Melayu Lestari disambut meriah ribuan masyarakat yang sekaligus ikut meramaikan Festival Melayu (Melayu Fest) saat peluncuran buku.
Bukan sekedar komitmen, narasi budaya yang diwujudkan dalam sebuah buku ini hadir di tengah masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial PHR untuk berkontribusi dalam pelestarian kekayaan budaya lokal, yang menjadi identitas masyarakat di sekitar area operasi di Zona Rokan.
Buku Melayu Lestari juga dapat diakses secara luas melalui laman https://www.melayulestari.id/ yang diluncurkan bersamaan pada malam Festival Melayu.
Corporate Secretary PHR Regional 1 Sumatra, Eviyanti Rofraida mengapresiasi atas dukungan masyarakat pelaku budaya yang menjadi sumber inspirasi. Begitu pula, LAMR yang turut membimbing dengan bijak dalam diskusi terpumpun hingga hadirnya karya ini di tengah masyarakatat.
“Sebagai bagian dari masyarakat Riau, PHR terpanggil untuk ikut merawat pusaka yang menjadi nadi peradaban Melayu. Kehadiran Buku Melayu Lestari merupakan ikhtiar bersama merajut kolaborasi dalam menjaga budaya untuk tumbuh bersama generasi,” kata Evi.
Penyusunan buku Melayu Lestari tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui sebuah proses riset yang partisipatif dan inklusif. Kolaborasi ini menjadi pondasi utama, memastikan setiap narasi yang tertuang dalam buku memiliki kedalaman dan otentisitas.
Riset ini dilaksanakan dengan metode kualitatif, yang memadukan observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Pendekatan ini dipilih agar tim dapat menggali informasi langsung dari pelaku, saksi, dan pemangku kebudayaan, sekaligus memahami konteks sosial dan nilai-nilai yang melekat pada setiap objek budaya.
Evi menyampaikan bahwa Buku Melayu Lestari disusun bersama tim riset yang terdiri dari akademisi, pegiat budaya, dan tim PHR melakukan penelitian lapangan di 6 kabupaten/kota dan 11 desa di Provinsi Riau.
Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan potensi kekayaan budaya, keragaman tradisi, serta akses terhadap narasumber kunci. Selama riset berlangsung, tim berhasil mengidentifikasi dan mendokumentasikan total 44 objek kebudayaan. Dari jumlah tersebut, 33 objek diperoleh langsung dari riset lapangan, sedangkan 11 objek berasal dari studi pustaka dan literatur terkait.
“Objek-objek yang terkumpul kemudian dipilih, dipilah, dan dikelompokkan berdasarkan fungsi dan peranannya dalam kehidupan masyarakat. Proses ini melibatkan analisis mendalam untuk memahami keterkaitan antar objek, nilai-nilai yang dikandung, serta relevansinya terhadap pelestarian budaya.
Dari proses tersebut, akhirnya tersusun empat pilar utama yang menjadi kerangka pengembangan dan pemaknaan kebudayaan dalam buku ini,” jelas Evi.
Sebagai bagian dari validasi dan pengayaan hasil riset Evi menambahkan, pihaknya juga melakukan FGD (Focus Group Discussion) yang melibatkan pelbagai pihak di antaranya: tokoh masyarakat, akademisi, pegiat kebudayaan, serta perwakilan dari Lembaga Adat Melayu Riau.
Kehadiran dan kontribusi mereka menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa hasil riset ini relevan, representatif, dan dapat diterima oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Atas nama seluruh tim, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tokoh masyarakat, akademisi, pegiat kebudayaan, serta Lembaga Adat Melayu Riau atas dukungan, masukan, dan kerja sama yang telah diberikan sepanjang proses penelitian ini,” ujarnya.
Buku Melayu Lestari: Menjaga Budaya Tumbuh Bersama Generasi, bercerita pelbagai kekayaan budaya, mulai dari artefak budaya melayu, permainan rakyat, hingga makanan khas melayu yang otentik, tentunya saling berkaitan dengan filosofis sendi kehidupan masyarakat Melayu, sekaligus menjadi ikhtiar memetakan empat pilar kebijakan budaya, yang di dalamnya terangkum nilai-nilai gotong royong, religiusitas yang membingkai adat dan adab, ketahanan budaya serta harmoni dengan alam.