Mengembalikan kejayaan Blok Rokan dengan pemboran agresif dan masif

id Blok, Rokan, pemboran, PHR,Skk migas, blok rokan

Mengembalikan kejayaan Blok Rokan dengan pemboran agresif dan masif

Sejumlah pekerjaan pemboran sumur baru PHR berpose di depan rig yang terus bekerja menggali kemungkinan potensi minyak bumi di Blok Rokan. (ANTARA/HO-PHR)

Pekanbaru (ANTARA) - Jauh sebelum ini, wilayah Sumatera tengah bagian timur yang sekarang berada di Provinsi Riau belum banyak yang melirik. Daerah ini masih berfungsi sebagian besar untuk transportasi air melalui Sungai Siak. Menjadikannya sebagai jalur dagang mengangkut hasil alam dari pedalaman Minangkabau untuk diperdagangkan di Selat Malaka.

Sementara daratannya penuh hutan dan rawa serta humus yang kejam membuatnya tidak ideal untuk dieksplorasi. Hingga akhirnya Pemerintah Hindia Belanda menyerahkan konsesi yang dinilainya tak menguntungkan kepada perusahaan Amerika Serikat. Konsesi itu kemudian dikenal dengan Blok Rokan.

Sebuah perusahaan dibentuk di Belanda pada 1930 sebagai cabang Standard Oil Company of California (Socal). Namanya Nederlandsche Pacific Petroleum Mij. (NPPM) yang kemudian mengambil izin penambangan tersebut.

Seorang geolog atau ahli batuan asal AS, Richard H Hopper dalam bukunya berjudul Ribuan Tahun Sumatera Tengah ~ Sejarah Manusia, Rempah, Timah & Emas Hitam (2016) mengisahkan daerah Blok Rokan ini sulit dilakukan penyelidikan geologis dibanding tempat mana pun di dunia. "Sebab, wilayah ini memiliki cerah hujan 100 inci (250 cm) persegi tahun dan humus sangat dalam. Relief topografinya sangat rendah," tulis Hopper.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan gambaran struktur geologi, ratusan lubang uji harus digali dan puluhan ribu lubang dangkal juga harus digali dengan bor tangan. Dalam tahun 1938, seorang ahli geologi Amerika bernama Walter E. Nygren dikirim dan diapun bersama anggotanya menebas hutan belantara, menggali tiga ribu lubang dengan gurdi yang diputar dengan setiap 200 meter untuk mengambil contoh batuan.

Setelah itu pun belum bisa dieksekusi sepenuhnya dan diputuskan dengan menggunakan bor tangan counterflush yang mampu menembus sampai sedalam 1.500 kaki. Dalam hal inilah kemudian Richard H Hopper dikirim ke Minas pada tahun tahun 1939.

Keberhasilan pengeboran pertama di Blok Rokan terjadi di Sebanga, sebelah timur laut Sungai Mandau pada pada Juni 1939. Selanjutnya di Duri dekat Sebanga pada 1941, dan disusul Minas pada 1944 pada saat pendudukan Jepang.

Pada usaha keras pengeboran tersebut itulah akhirnya menjadikan Blok Rokan sebagai ladang minyak terbesar di Asia Tenggara saat itu. Bahkan menjadi penopang ekonomi nasional, hasil dari Ladang Minas tahun 1970-an dan Duri 1980-an yang pernah hampir 1 juta barrel per hari.

Pada tahun 2021, pengelolaan Blok Rokan beralih dari PT Chevron Pasific Indonesia ke Pertamina Hulu Rokan (PHR). Tantangan besar yang harus dihadapi adalah menahan laju penurunan produksi dan mengembalikan kejayaan Blok Rokan yang dulu.

Agresif dan masif

Seakan mengulang kerja keras 80 tahun lebih yang lalu, pengelola Blok Rokan, PHR juga memulai kerjanya dengan pengeboran sumur baru. Hal ini untuk menahan laju penurunan produksi minimal nol persen dan upaya meningkatkan lifting kembali.

Rencana kerja masif dan agresif Wilayah Kerja Rokan merupakan bagian upaya mengoptimalkan manfaat hasil migas bagi rakyat Indonesia. Ini sekaligus mendukung ketahanan energi nasional dan target pemerintah mencapai produksi 1 juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari pada 2030. Bagaimana cara pengeboran sumur minyak baru tersebut?

Pejabat Sementara Team Manager Work over and Well Service Heavy Oil, PHR WK Rokan, Wulan Sary dalam perbincangan dengan ANTARA mengatakan untuk menentukan tempat yang akan dibor untuk sumur baru,tim Asset melakukan studi "subsurface" atau permukaan dengan semua data yang dimiliki dan menentukan estimasi potensi sumur.

Sumur baru tersebut relatif dekat atau berjauhan dengan sumur yang sudah ada.

Sebelumnya tentu sudah ada Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang dilakukan dengan komprehensif. Semua syarat dan ketentuan lokasi sumur harus dipenuhi sesuai semua peraturan dan regulasi migas Indonesia. Termasuk juga faktor keselamatan penduduk, terutama bila lokasi sumur relatif berdekatan dengan pemukiman. Bila diperlukan pihaknya juga melakukan sosialisasi keselamatan kepada masyarakat.

Setelah menentukan lokasi sumur, tim akan merencanakan proyek sumur dan mendapatkan persetujuan dari "Sub Holding Upstream" Pertamina termasuk tipe dan trayek sumur dan program pemborannya.

"Tantangannya adalah semakin langkanya 'resource rig' dan tenaga kerja lokal. Harus menyelesaikan penyiapan lokasi dalam waktu singkat, kondisi cuaca yang menantang, dan masalah lainnya menjadi tantangan kami," ujarnya.
Kegiatan pemboran sumur baru PHR pada malam hari terus bekerja menggali kemungkinan potensi minyak bumi di Blok Rokan. (ANTARA/HO-PHR)


Terkait waktu yang dibutuhkan hingga akhirnya suatu sumur dinyatakan telah selesai dikerjakan dan berapa dalamnyatergantung kedalaman dan tipe sumur. Ada sumur yang selesai hitungan hari dan ada yang sampai hitungan bulan. Kedalaman pun sangat bervariasi mulai dari ratusan sampai ribuan kaki.

Selanjutnya sumur yang sudah dibor akan dipasang perpipaan dan sarana produksi untuk bisa mulai produksi. "Kami tidak dapat mengatakan jumlahnya karena bisa sangat berbeda beda antara tiap sumur. Namun pada prinsipnya bahwa sebuah sumur hanya akan diproduksi bila jumlah perolehannya dianggap ekonomis," ungkapnya.

Jika sudah selesai, rata-rata produksi suatu sumur baru mulai dari puluhan sampai ribuan barrel per hari. Semua minyak yang dihasilkan sumur mengalir melalui saluran perpipaan, kemudian dikumpulkan dan diproses lebih dulu di gatheringstation atau stasiun pengumpul.

"Mulai dari pemisahan dari gas (bila ada), air, yang kemudian minyaknya dikumpulkan di stasiun pengumpul untuk kemudian dikirim ke Dumai melalui shipping line," tambahnya.

500 sumur baru

Atas upaya agresif dan masif sejak alih kelola Agustus 2021 hingga saat ini sudah hampir 500 sumur baru yang sudah diselesaikan. Sebanyak 133 sumur berhasil dibor dalam lima bulan sepanjang tahun 2021 dan sekitar 360 lebih pada tahun 2022 ini dari target sekitar 400-500 sumur.

Pada prosesnya PHR juga meningkatkan jumlah rig pengeboran aktif menjadi hampir dua kali lipat dari yang awalnya sembilan menjadi 21 rig saat ini. PHR juga menggunakan rig "Work Over Well Intervention Well Services" (WOWIWS) perawatan sumur dari awalnya 25 menjadi 32 rig sekarang ini.

PHR melakukan berbagai terobosan agar target sumur baru dapat tercapai. Di antaranya tim pengeboran melakukan beberapa kegiatan secara paralel (offline activity), meningkatkan keandalan peralatan pengeboran, dan menyusun perencanaan yang matang dalam pemenuhan sumber daya pendukung agar menghindari terjadinya waktu menunggu servis atau material.

Hasilnya, PHR berhasil memperpendek waktu pengeboran hingga produksi awal atau put on production (POP). Dari sebelumnya sekitar 22 hingga 30 hari, kini menjadi sekitar 15 hari untuk area operasi Sumatra Light Oil (SLO) atau sumur-sumur penghasil jenis minyak ringan. Sedangkan untuk area operasi Heavy Oil (HO), berhasil diperpendek dari sekitar 35 hingga 40 hari, kini menjadi sekitar 15 hari juga.

Dengan begitu, PHR telah berhasil menahan laju penurunan alamiah produksi hingga nol persen, bahkan mampu meningkatkan produksi. PHR mencatatkan tingkat produksi sekitar 161 ribu barel per hari, artinya jauh lebih baik dibandingkan prediksi yang berada pada kisaran 142 ribu jika tidak melakukan kegiatan masif dan agresif.

"Target 2023 akan di atas 500 sumur. WK Rokan tetap pada strategi agresif dan masif untuk pemborannya.Kami terus melakukan evaluasi untuk menentukan target pemboran berikutnya," sebut Wulan Sary.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatera Bagian Utara mengatakan bahwa Riau tetap merupakan pelopor kegiatan migas nasional. Pasalnya target pengeboran yakni 400-500 tahun 2022 merupakan kegiatan migas yang terbesar di Indonesia.

"Dari sisi target pengeboran Sumbagut merupakan tulang punggung nasional sejauh pengeborannya melebihi target. Proyeksi tahun depan maksimal harus melebih target nasional yakni pengeboran 500 sumur lebih, " kata Kepala Departemen Humas SKK Migas Sumbagut, Yanin Kholisom.

Dari 14 kontraktor kerja sama di Sumbagut memang PHR WK Rokan yang memiliki produksi tertinggi dengan rata-rata 25 persen lifting nasional. Ke depan ujar dia jika konsisten dalam pengeboran Blok Rokan bisa saja kembali menjadi yang terbesar di Indonesia menyalip Blok Cepu yang produksinya sekitar 170 ribu barrel per hari.

"Diramalkan tahun depan melebihi (Blok Cepu) sejauh pengeborannya melebihi target," imbuh Yanin Kholisom.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2022