Industri Nasional Bidik Pasar Kertas China

id industri nasional, bidik pasar, kertas china

Industri Nasional Bidik Pasar Kertas China

Singapura, (antarariau.com) - Tren pertumbuhan permintaan pulp dan kertas yang cukup signifikan di China dalam beberapa tahun terakhir, telah mendorong para pelaku industri nasional membidik pasar negara berpenduduk terbesar di dunia itu.

"Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) juga sedang mengembangkan berbagai strategi untuk berekspansi ke pasar China. Sebab, negara yang berjuluk tirai bambu tersebut mengalami tren peningkatan," ujar Presiden Direktur RAPP Kusnan Rahmin di Singapura, Kamis.

Hal itu disampaikan pada saat persentasi "Gambaran Global Industri Pulp dan Kertas" usai pelaksanaan workshop jurnalis yang berlangsung di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura 19-20 November 2013.

Menurut dia, persaingan semakin kompetitif dengan semakin meningkatnya pasokan pulp dan kertas produksi dalam negeri. Sedangkan produksi pulp China tumbuh di luar dugaan dengan produksi yang terus meningkat.

Jika pada tahun 2012 kapasitas produksi industri pulp di China sebesar 27,2 juta ton, maka pihaknya memprediksi mulai 2016 kapasitas produksi bertambah sebanyak 7,1 juta ton per tahun.

Lonjakan kapasitas produksi tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah yang sangat ramah terhadap pengembangan industri pulp dan kertas di negeri tirai bambu itu.

"Bahkan pemerintah China melimpahkan kewenangan perizinan pembangunan pabrik pulp untuk kapasitas hingga 100.000 ton per tahun ke tingkat kepala daerah. Saat ini terdapat 71 dari 117 proyek industri pulp baru di China memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun," katanya.

Kemudahan perizinan industri dibadingkan dengan pemerintah China yang memberi memudahkan regulasi pemanfaatan bahan baku atau dengan kata lain, pemegang konsesi pengelolaan hutan tanaman tidak dibebani berbagai ketentuan tambahan.

Daya saing produk pulp dan kertas Indonesia harus terus dipertahankan, agar terus mampu menembus pasar China. Dia berharap pemerintah memberi dukungan penuh mengingat industri ini banyak menyerap tenaga kerja, memberi devisa dan mendukung pengelolaan hutan lestari.

"Kami juga berharap ada kemudahan perizinan, apalagi di tengah situasi lemahnya perekonomian global yang mulai memengaruhi ekonomi Indonesia seperti saat ini," pinta Kusnan.