Perovskite, potongan jawaban energi terbarukan dimasa depan

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, energi

Perovskite, potongan jawaban energi terbarukan dimasa depan

Dokumentasi - Petugas merawat panel surya yang berada di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Parang, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (14/4/2019). PLTS bantuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan pemerintah negara Denmark itu dapat memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga sebanyak 360 rumah termasuk fasilitas umum seperti puskesmas, sekolah, masjid dan pelabuhan. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/foc.)

Jakarta (ANTARA) - Hukum kekekalan energi membuat manusia terus berfikir, bagaimana menciptakan energi yang dapat diperbaharui.

Mengandalkan energi fosil adalah cara yang tidak bijak dalam penggunaan sumber daya alam. Lanjut, hal tersebut hanyalah bom waktu ketika masa kesediaan telah berlalu.

Meningkatnya konsumsi energi seiring menipisnya cadangan energi fosil, mendorong berbagai ilmuwan untuk memecahkan solusi dalam mencapai pemenuhan kebutuhan energi.

Baca juga: LPPM Untan Manfaatkan Tenaga Matahari Kembangkan Mesin Pendingin

Salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah Perovskite. Sebuah material jenis baru yang dapat menjadi bahan baku panel surya di masa depan memiliki berbagai keunggulan seperti fleksibilitas tinggi, murah, serta mudah untuk dibuat.

Mineral Perovskite juga dinilai mampu menjawab masalah krisis energi terutama bagi negara-negara tropis, seperti Indonesia.

Secara teknis Perovskite adalah sejenis mineral yang pertama kali ditemukan di Pegunungan Ural dan dinamai oleh Lev Perovski yang merupakan pendiri Russian Geographical Society. Struktur Perovskite adalah senyawa yang memiliki struktur yang sama dengan mineral Perovskite.

Mineral Perovskite dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pemanfaatan pembangkit berbasis tenaga surya, memiliki tingkat efisiensi penyerapan matahari maupun fleksibilitas biaya dibandingkan panel photo voltaic (PV) yang berbasis kristal silikon.

"Ada kelemahan utama dari Silicon PV panel, yaitu sangat tidak efisien, pencapaian efisiensinya hanya sekitar 7-16 persen saja, dan tergantung kepada orientasi penempatan serta kondisi cuaca. Panel Silikon dibuat relatif tebal dan berlapis, tidak seperti film yang tipis, sehingga bisa lebih kuat dan tahan lama, namun disisi lain harus mengorbankan efisiensinya," kata Direktur Utama PT Pertamina EP Nanang Adbul Manaf.

Penemuan Perovskite, sambung Nanang, dapat menjanjikan hasil yang lebih baik sehingga bisa menjadi andalan yang dapat mengalahkan atap panel dari sisi efisiensi. "Panel-panel dengan lapisan-lapisan film tipis Perovskite dapat menyerap cahaya dari panjang gelombang yang kisarannya sangat lebar dan lebih produktif menghasilkan listrik dibanding silikon PV panel," ungkapnya.

Riset terbaru yang dilakukan oleh Universitas Oxford di tahun 2018 menunjukkan, tingkat efisiensi pemanfaatan Perovskite hingga menyentuh angka 25 persen bahkan pada bulan Desember 2018 bisa mencapai 28 persen. Hingga saat ini, para saintis terus mengembangkan riset tersebut untuk dikomersilkan secara masal sejak diteliti pada tahun 2012.

Pemanfaatan matahari di Indonesia sebagai sumber energi dinilai sebagai langkah yang tepat. Hal ini mempertimbangkan sifat matahari sebagai sumber energi yang tidak terbatas. "Setiap jam, matahari memberikan energi sebesar 430 quintillion (10 pangkat 18) Joules dan lebih dari 410 quintillion (10 pangkat 18) Joules telah dikonsumsi sepanjang tahun," terangnya.

Kemudian, menurut International Energy Agency (IEA), tenaga surya telah menyuplai sekitar 592 Giga Watt atau hanya sekitar 2,2 persen saja dari pemakaian tenaga listrik dunia sebesar 26,571 Giga Watt di tahun 2018. Setelah maraknya pemasangan Photovoltaic (PV), maka pemakaian tenaga surya meningkat menjadi 100 Giga Watt atau 20 persen dari pemakaian listrik dunia. Lebih dari 90 persen pemasangan panel photovoltaic (PV) dibuat dari Kristal silicon.

Hal ini sejalan dengan semakin kompetitifnya rata-rata harga listrik pembangkit tenaga surya. Berdasarkan laporan International Renewable Energy Agency (IRENA), pembangkit tenaga surya sudah sangat kompetitif dibandingkan pembangkit dari energi fosil, seperti dari minyak, gas dan batubara, dengan rata-rata harga listrik turun sekitar 75 persen atau dibawah 10 cent dolar/KWh.

"Tentunya hal ini merupakan babak baru kehidupan manusia, mulai meninggalkan sumber energy fosil yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Selamat datang Perovskite," tegas Nanang.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM

Agung Pribadi menjelaskan, potensi pengembangan energi surya di Indonesia sangat besar, tercatat Indonesia memiliki potensi energi surya sebesar 207,8 Giga Watt Peak (GWp) dengan realisasi mencapai 0,15 GWp.

Pada tahun 2020 tambahan kapasitas pembangkit EBT ditargetkan sebesar 933 MW dengan PLTS sebesar 78 MW. Oleh karena itu, Pemerintah terus berupaya mendorong pemanfaatan energi surya secara optimal dengan melibatkan seluruh stakeholder.

"Penggunaan energi surya sebagai green energy menggunakan "clean technology" harus menjadi pilihan dan prioritas bagi kita untuk mendukung sustainability," kata Agung.

Sebagai informasi, perovskite masuk sebagai rare earth elements (REE), yang senyawa kimianya disebut Kalsium Titanium Oksida atau dengan rumus kimia CaTiO3. Pertama kali ditemukan ditemukan di sekitar Pegunungan Urals, Rusia, oleh Gustav Rose pada tahun 1839, yang kemudian dilakukan penelitian lanjut oleh Victor Goldschmidt pada tahun 1926.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga mendorong dunia industri dan bisnis menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap atau panel surya guna meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT).

Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT Kementerian ESDM Martha Relitha Sibarani menjelaskan saat ini porsi EBT dalam bauran energi nasional baru mencapai 8-9 persen, padahal pada 2025 ditargetkan sebesar 23 persen.

Martha menjelaskan bahwa target EBT dari pemanfaatan PLTS mencapai 6.600 MW pada 2025.

Sementara itu, hingga Desember 2019, jumlah pelanggan PLTS atap di seluruh Indonesia mencapai 1.580 pelanggan dengan kapasitas terpasang 4.929 kWp.

Dari jumlah tersebut, jumlah pelanggan masih didominasi oleh kalangan rumah tangga sebesar 1.404 pelanggan.

Untuk mendukung penggunaan PLTS atap sektor industri dan bisnis, Kementerian ESDM telah menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12/2019 tentang Kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik untuk Kepentingan Sendiri yang Dilaksanakan Berdasarkan Izin Operasi dan Permen ESDM.

Kemudian, Permen ESDM No 13 Tahun 2019 tentang Penggunaan Sisten Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Baca juga: Pesawat Uji coba Tenaga Matahari Terbang Mengelilingi Bumi

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar