Sentimen anti-AS semakin mendunia pasca-pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani

id Berita hariini, berita riau terkini, berita riau antara, sentimen anti AS

Sentimen anti-AS semakin mendunia pasca-pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani

Pengunjuk rasa melakukan protes pembunuhan terhadap pemimpin pasukan elit Quds Mayor Jenderal Qassem Soleimani di Teheran, Jumat (3/1/2020). Qassem Soleimani tewas karena serangan udara Amerika Serikat di bandara Baghdad, Irak. (ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency)/Nazanin Tabatabaee via REUTERS)

Dubai (ANTARA) - Pembunuhan komandan senior militer Iran Qassem Soleimani telah membuat sentimen anti-Amerika Serikat semakin mendunia, ujar Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

"Pembunuhan tersebut juga menciptakan dendam di seluruh dunia," ujar Mohammad Javad Zarif melalui akun twitternya pada Senin (6/1).

Baca juga: Pascapembunuhan Soleimani, Inggris kurangi staf kedutaan besarnya di Iran dan Irak

Javad Zarif mengatakan apa yang dilakukan Amerika Serikat memicu kemarahan global dan dendam di seluruh dunia dalam skala besar.

"Dendam terhadap AS telah dimulai di Asia Barat," ujar dia.

Soleimani, perancang operasi klandestin dan militer Teheran di luar negeri sebagai kepala Pasukan Quds Pengawal Revolusi, tewas pada Jumat (3/1) dalam serangan pesawat tak berawak milik AS pada konvoinya di bandara Baghdad.

Sementara banyak warga Iran berdemonstrasi dalam beberapa hari terakhir untuk menunjukkan kesedihan atas kematian Soleimani, yang lain khawatir kematiannya akan mendorong negara itu untuk berperang dengan negara adidaya. Soleimani dianggap sebagai tokoh terkuat kedua di negara itu setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (4/1) mengancam akan menghantam keras 52 situs Iran jika negara itu menyerang aset atau warga negara Amerika Serikat.

Baca juga: Presiden Uni Eropa minta Iran kembali pada kesepakatan nuklir 2015

Baca juga: Indonesia minta AS dan Iran untuk menahan diri pasca serangan di Irak


Pewarta : Azis Kurmala

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar