Hujan datang tapi asap karhutla tak hilang di Pekanbaru, kok bisa?

id kabut asap pekanbaru,asap karhutla,karhutla riau,kebakaran hutan lahan,berita riau antara,berita riau terbaru

Hujan mengguyur Kota Pekanbaru pada Senin (12/8/2019). (ANTARA/FB Anggoro)

Pekanbaru, Riau (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan bahwa hujan yang mengguyur Pekanbaru pada Senin pagi hanya sedikit mengurangi kepekatan asap atau jerebut akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kota tersebut.

"Hujannya kurang lebat, dan hanya di bagian tertentu saja. Seperti di Bandara Pekanbaru, hujan hanya selayang (ringan), sedangkan yang mengambang di udara ini partikel padat asap," kata Staf Analis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofidika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Sanya Gautami kepada ANTARA di Pekanbaru.

Hujan turun di sebagian Kota Pekanbaru sekitar pukul 07.30 WIB selama kurang lebih satu jam. Hujan paling lebat turun di daerah Rumbai dan Senapelan.

Sanya mengatakan, hujan yang tidak merata tidak banyak mengurangi polusi asap namun mengurangi bau asap dan memperbaiki jarak pandang.

"Jarak pandang Pekanbaru pada jam 07.00 pagi dua kilometer karena asap, sekarang, sekitar pukul 10.00 membaik menjadi 2,5 kilometer dengan kondisi masih berasap," katanya.

Menurut dia, hujan juga terjadi di beberapa kabupaten dan kota lain di wilayah Provinsi Riau seperti Kabupaten Kampar dan Kota Dumai.

Di Kabupaten Kampar hujan juga tidak banyak mengurangi asap dan jarak pandangnya masih sekitar empat kilometer, sedangkan di Dumai, hujan bisa menghilangkan asap dan memperpanjang jarak pandang dari lima kilometer menjadi delapan kilometer.

Di Kabupaten Pelalawan yang memiliki banyak titik panas indikasi kebakaran hutan dan lahan, hujan tidak turun. Jarak pandang di daerah itu kini sekitar lima kilometer.

"Hanya Dumai dan Rengat di Indragiri Hulu yang kini tidak terpantau asap," ujar Sanya.

BMKG memprakirakan dalam beberapa hari ke depan hujan berpotensi turun di Riau. "Peluang hujan cukup bagus ya, untuk hari ini dan besok juga," kata Sanya.

Data BMKG pada Senin pukul 06.00 WIB menunjukkan ada 156 titik panas indikasi karhutla di Riau. Titik panas paling banyak ada di di Pelalawan (40), disusul Siak (29), Rokan Hilir (24), Indragiri Hilir (21), Indragiri Hulu (15), Kepulauan Meranti dan Bengkalis masing-masing tujuh titik, Kampar (6), serta Kuantan Singingi dan Dumai masing-masing dua titik.

Dari seluruh titik panas tersebut, ada 116 yang teridentifikasi sebagai titik api, paling banyak di Pelalawan (28), Siak (22), Indragiri Hilir (19), dan Rokan Hilir (15).

Sebelumnya, Gubernur Riau Syamsuar mengatakan karhutla yang kini melanda Bumi Lancang Kuning kondisinya sudah berat untuk ditanggulangi dan hanya bisa padam apabila turun hujan deras.

Karhutla, menurut dia, mencakup area yang cukup luas di daerah Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kabupaten Siak.

"Satgas termasuk TNI, Polri sudah kerja keras di lapangan. Tapi memang sulit untuk dapat air. Helikopter kita untuk waterbombing jauh angkut air, itu kendalanya, jauh dari sumber air," kata Syamsuar, yang menjabat sebagai Komandan Satgas Karhutla Riau, Minggu (11/8).

Ia mengatakan bahwa hujan akan sangat membantu penanggulangan karhutla di Riau dan mengajak warganya mendirikan shalat istisqa untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

"Harapan kami (hujan) merata di Provinsi Rriau agar musibah ini segera berakhir, dan mudah-mudahan masyarakat Riau bersama melaksanakan shalat istisqa sebagai bagian upaya kita minta ampun kepada Allah SWT, sekaligus minta turun hujan," katanya.

Baca juga: Titik panas melonjak di Sumatera jadi 192, Riau masih 'penyumbang' terbanyak

Baca juga: Pemkot berencana mundurkan jam belajar akibat dampak asap


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar