One way di Selatpanjang dinilai rugikan PKL, Pedagang : Kami hanya cari makan, bukan kaya

id Sistem one way di Selatpanjang buat pedagang rugi,one wat selatpanjang,berita meranti

One way di Selatpanjang dinilai rugikan PKL, Pedagang : Kami hanya cari makan, bukan kaya

Pedagang yang berjualan di sekitaran Jalan Imam Bonjol, Selatpanjang protes terhadap kebijakan sistem one way atau jalan satu arah .(ANTARA/dok)

Selatpanjang (ANTARA) - Kebijakan one way atau sistem jalan satu arah yang diterapkan Pemkab Kepulauan Meranti di Kota Selatpanjang menuai protes sejumlah kalangan, terutama bagi pedagang kaki lima (PKL).

Aksi protes langsung disampaikan para pedagang yang berjualan di tepi ruas Jalan Imam Bonjol, Jumat (22/10). Mereka menilai aturan tersebut justru membuat dagangannya menjadi rugi, sehingga omset pendapatan menurun.

Jalan Imam Bonjol termasuk dari 65 rute yang diterapkan one way, dimulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIBsaat aktivitas pedagang di sepanjang jalan protokol tersebut tengah sibuk berjualan untuk mencari nafkah.

Amin, pedagang ikan di sekitar persimpangan Jalan Imam Bonjol mengaku, sejak diberlakukan sistem satu arah pada 19 Oktober lalu membuat dagangannya sepi dengan pembeli.

Di tempat ia berjualan terdapat persimpangan empat yang dijaga oleh petugas Dishub. Di situ ada penutupan jalur arus balik yang membuat gerak pembeli menjadi terbatas karena pengguna jalan yang masuk dari Jalan Ismail ke Imam Bonjol harus mengikuti satu arah.

"Terimakasih kami ucapkan kepada petugas yang sudah berjaga, namun dengan adanya penjagaan di persimpangan atas kebijakan one way ini, saya dan kawan-kawan PKL merasa terhambat jual belinya," kata Amin menggunakan pengeras suara di depan petugas.

Ia berujar bahwa pendapatan PKL justru menurun drastis. Untuk itu, dirinya meminta pemerintah setempat agar mengkaji ulang kebijakan one way tersebut.

"Sekarang imbas COVID-19 belum selesai sehingga kami yang dalam tekanan kemiskinan menjadi semakin tertimpa. Kami minta janganlah dijaga di simpang jalan ini, orang tak bisa lalu dan terganggu. Biasa jam segini kami sudah berkemas mau pulang dan berkumpul dengan anak istri. Tapi sekarang masih bermain air mata darah," ungkap Amin mewakili PKL lainnya.

Begitu juga dengan pedagang lainnya. Mereka berharap di Jalan Imam Bonjol tidak diberlakukan sistem satu arah karena dampaknya besar terhadap pedagang yang mangkal di sepanjang jalan. Bukan untung yang mereka dapat, rugi.

"Kami merasa keberatan dengan kehadiran petugas disini dan kami juga mengerti kalian sedang menjalankan tugas. Namun tolong sampaikan ke pimpinan bapak ibu, tolong, agar tak usah lah berjaga di simpang ini lagi. Kami hanya mencari makan, bukan mencari kaya, hanya mencari sesuap nasi untuk anak istri di rumah," kata Faisal.

Diungkapkan Faisal, dulu sebelum adanya penjagaan oleh petugas dan belum diterapkannya sistem satu arah, pendapatan mereka stabil. Lantas setelah itu situasi berubah sebaliknya, pembeli kurang dan dagangan tidak laku.

"Sebelum ada penjagaan ini, Alhamdulillah jualan kami normal saja. Namun ketika ada penjagaan di sini, kami merasa rugi, pembeli tidak ada. Kami minta tolong dipertimbangkan lagi, atau dimusyawarahkan lagi dengan pihak terkait dan dicarikan solusi," tuturnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Kepulauan Meranti Abdul Malik mengatakan, pihaknya akan kembali melakukan evaluasi terhadap penerapan jalur satu arah yang berimbas kepada omset pendapatan pedagang di lokasi tersebut.

"Terkait hal itu tentunya kita akan kembali melakukan evaluasi, dan apa pun yang menjadi kendala terhadap kebijakan ini pasti kita lakukan evaluasi," imbuh Malik.

Malik menjelaskan, apa yang diprotes oleh para pedagang itu akibat posisi waterblock(penyekat jalan) yang beradapas di persimpangan jalan Imam Bonjol - Ismail menutupi dagangan mereka.

"Kita akui itu salah dan akan segera kita pindahkan. Sementara untuk petugas yang berjaga disana juga segera kita alihkan ke atas, sehingga tidak mengganggu lagi aktivitas pedagang yang berjualan," kata Malik.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2021