Menghidupkan potensi masyarakat melalui Rumah Kreatif

id rumah kreatif, forum jurnalis remaja, kampar, desa wisata,ikan patin

Menghidupkan potensi masyarakat melalui Rumah Kreatif

Sekelompok jurnalis remaja sedang berkunjung ke Rumah Kreatif di Desa Koto Mesjid, Kabupaten Kampar. (ANTARA/dok)

Masing-masing anggota saat ini sudah mendapatkan penghasilan tambahan,
Bangkinang Kota (ANTARA) - Forum Jurnalis Remaja Kampar (FJRK) kembali melakukan kunjungan wisata ke Rumah Kreatif Kampung Patin di Desa Koto Mesjid, Kabupaten Kampar, untuk menambah wawasan mengenai potensi daerah serta mempraktikkan ilmu yang sudah dipelajari selama pelatihan jurnalistik, Ahad (3/10).

Pembina Rumah Kreatif Kampung PatinWancandrasaat wawancara dengan jurnalis remaja menceritakan, Rumah Kreatif ini berdiri sejak tahun 2019 dibina oleh PLN Peduli.

Potensi SDM yang ada di Desa Koto Mesjid ternyata mempunyai banyak keahlian. Hanya saja potensi itu belum terkoordinir sehingga perlu suatu wadah maka didirikanlah organisasi yang dinamakan Rumah Kreatif Kampung Patin.

Dibangun sebagai wadah pengolahan limbah menjadi sumber ekonomi atau penghasilan tambahan masyarakat juga sebagai sarana mengalihkan kegiatan masyarakat ke arah yang positif serta membantu pemerintah dalam membangun negeri.

Wancandramengatakan kegiatan ini bermula dari melirik kegiatan-kegiatan masyarakat yang bergerak di bidang limbah-limbah yang ada di tengah masyarakat untuk dijadikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Kegiatan awal membuat kerajinan dari bambu, mengolah besi-besi bekas menjadi parang atau pisau-pisau antik, dan pipa paralon bekas yang tak bisa digunakan lagi dimanfaatkan untuk dijadikan lampu hias. Kegiatan tersebut dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan.

"Jadi dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti itu kalau tidak kita tampung suatu wadah tentu sia-sia, sedangkan potensi pasar kita banyak seperti di tempat-tempat wisata untuk memasarkannya" kata Wancandra.

Kemudian Desa Koto Mesjid ini, lanjutnya, merupakan desa yang sering dikunjungi para wisata sehingga hal ini menjadi objek pendukungnya.

Rumah Kreatif Kampung Patin sudah memiliki empat unit usaha. Pertama bernama vicraft di bidang rajut, yang memiliki galeri sendiri di dalam rumah kreatif ini, kemudian dua unit rumah dekla, vikasi (Viber kayu besi), dan Rumah Pudung Patin yang merupakan tempat ikan patin diolah menjadi ikan asin.

Wancandratidak mengatakan tidak tertutup kemungkinan bagi potensi-potensi lain yang ingin bergabung untuk dijadikan unit ke depannya di Rumah Kreatif ini.

Baca juga: Mengetahui sejarah munculnya wisata Puncak Kompe

Nefi menunjukkan kerajinan rajut. (ANTARA/dok)


Rumah rajut yang termasuk dalam unit vicraft, terdiri dari 15 orang anggota, dan yang aktif merajut ada 10 orang.

Sementara Nefi Andrianiyang merupakan penggerak rumah rajut mengaku pada awalnyakewalahan dengan banyaknya pesanan yang dilakukan dari mulut ke mulut dan media sosial. Sementara proses pengerjaan memakan waktu yang cukup lama.

Setelah dilirik oleh Rumah Kreatif dan ikut bergabung, makadidapatlah dana bantuan yang digunakan untuk mengadakan pelatihan bagi yang berminat mulai dari siswa SD hingga SMA, mahasiswa, sampai ibu-ibu rumah tangga. Mereka dilatih langsung oleh Nefi. Bantuan awal yang dapat saat itu berupa sejumlah mesin jahit.

Awal pelatihan dilakukan mandiri dengan bahan-bahan yang dibiayai oleh Nefi, yang juga seorang guru SMP. Kemudian setelah mendapatkan bantuan kedua, yaitu bahan-bahan berupa furing dan juga benang yang dipesan online dari Jawa serta merekrut beberapa anggota baru. Sementara pelatihan dilakukan sekali sepekan, setiap Sabtu.

Masing-masing anggota saat ini sudah mendapatkan penghasilan tambahan sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per pekan. Menariknya, kegiatan ini dapat mengalihkan aktivitas anggota yang biasanya digunakan untuk bermain handphone sehingga menghemat kuota internet dan menjadi tambahan penghasilan.

Saat ini, vicraft sudah menghasilkan ratusan produk mulai dari tas, dompet, masker, gelang, sepatu, dan masih banyak lagi. Harga barang dimulai dari Rp3.500 untuk sebuah gelang) sampai harga tertinggi saat ini yaitu tas 3D seharga Rp450 ribu.

Harga mengacu pada motif dan tingkat kerumitan, bukan dari modal bahannya saja. Walaupun dengan bahan yang sama, tetapi beda motif akan mempengaruhi tingkat kerumitan serta waktu pengerjaannya sehingga mempengaruhi nilai jual.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2021