Pekanbaru, 29/3 (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Riau berjanji merangkul dunia swasta untuk membangun industri pariwisata yang selama ini masih "tidur" di Bumi Lancang Kuning.
"Semua pihak terutama dari dunia usaha akan kita rangkul untuk mengembangkan industri pariwisata di Riau yang hingga kini belum bangun dari tidurnya," kata Kepala Disparbud Riau, Raja Muhammad Yamin, di Pekanbaru, Selasa.
Ia menjelaskan, jumlah kunjungan turis asing ke Tanah Melayu Bumi Lancang Kuning dalam satu dasawarsa terakhir belum bergerak dari kisaran angka 30 ribuan orang, seperti tahun 2010 tercatat 36.000 orang pelancong luar negeri yang datang ke Riau.
Padahal, banyak objek unggulan wisata di provinsi itu yang bisa di jual seperti Air Terjun Guruh Gemurai di Kuantan Sengingi, kemudian peninggalan sejarah Candi Muara Takus di Kampar dan Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura di Siak.
Selain itu terdapat Danau Buatan Limbungan di Pekanbaru, Air Panas Kaiti di Rokan Hulu, Pulau Jemur di Rokan Hilir, Istana Sayap dan Tugu Equator di Pelalawan, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di Indragiri Hulu, Pantai Solop di Indragiri Hilir, Eko Wisata Mempura di Siak, serta pantai pasir putih di Rupat Utara, Bengkalis.
"Hampir setiap kabupaten/kota di Riau memiliki daerah ungggulan objek wisata, namun karena kurangnya sentuhan tangan dunia usaha khususnya dari asosiasi profesi menyebabkan gaung wisata tidak terdengar di luar," kata Yamin.
Sekretaris DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Riau, Ibnu Mas'ud, menyambut baik kebijakan Pemerintah Provinsi Riau karen dalam beberapa tahun terakhir dunia usaha belum dilibatkan untuk membangun industri tanpa emisi itu.
"Kami berharap kebijakan itu bisa direalisasikan, karena selama ini baik itu ASITA, kemudian PHRI, badan promosi daerah, serta instansi terkait yang menangani wisata berjalan sendiri-sendiri," jelasnya.