OJK sebut literasi keuangan di Riau rendah, hanya 29 persen

id Ojk,literasi keuangan riau,inklusi keuangan riau,berita riau antara,berita riau terbaru

OJK sebut literasi keuangan di Riau rendah, hanya 29 persen

Sejumlah peserta menyimak paparan Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tris Yulianta sosialisasi layanan sistem elektronik pencatatan inovasi keuangan digital di ruangan OJK 'Innovation Center for Digital Financial Technology' (Infinity), Jakarta, Selasa (29/10/2019). Sosialisasi tersebut ditujukan terhadap para pelaku bisnis 'financial technology' (fintech) agar mereka lebih memahami regulasi dan memahami lebih jauh sebuah inovasi agar dapat dipastikan kemanfaatannya serta pemenuhan prinsip perlindungan konsumen. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Pekanbaru (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau menyatakan tingkat literasi keuangan di Riau masih sangat rendah, karena berada di angka 29 persen. Demikian juga dengan inklusi keuangan sejauh ini hanya 69 persen.

"Hal ini dinilai masih jauh dari target pemerintah untuk tingkat literasi dan inklusi jasa keuangan pada tahun 2019 yaitu mencapai 75 persen," kata Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Provinsi Riau Elvira Azwan di Pekanbaru, Jumat.

Elvira Azwan menyampaikan, hasil survei Otoritas Jasa Keuangan tahun 2016 tingkat literasi industri pasar modal naik dari 3,7 persen menjadi 4,3 persen, sementara tingkat inklusi dari 0,11 persen menjadi 1,25 persen.

Makanya ia mendukung berbagai program yang di lakukan, guna meningkatkan literasi salah satunya acara Investival dengan tema Millenial Cinta Investasi (MICIN) di Pekanbaru, Rabu (30/10) kemaren.

"Progress tersebut sangat signifikan sehingga muncul optimisme yang besar, untuk dapat terus meningkatkan market share pasar modal dan tingkat literasinya," imbuhnya.

"Ini menjadi tantangan tersendiri bagi OJK maupun industri jasa keuangan yang berada dalam pengawasan OJK, untuk bersama-sama melakukan kegiatan peningkatan literasi dan inklusi jasa keuangan di Indonesia, khususnya di Riau ini," imbuh Elvira.

Namun untuk industri pasar modal sambungnya, merupakan industri jasa keuangan yang memiliki tingkat literasi dan inklusi terendah dibandingkan industri jasa keuangan lainnya.

"Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri pasar modal untuk meyakinkan masyarakat agar berinvestasi di pasar modal karena masyarakat yang sudah paham mengenai pasar modal tidak serta merta melakukan investasi dalam industri pasar modal itu sendiri," katanya lagi.

Hal tersebut terlihat dari tingkat literasi pasar modal yang lebih inggi dibandingkan tingkat inklusinya.

"Sehingga dibutuhkan program kegiatan yang massive dalam peningkatan literasi sekaligus inklusi pasar modal," tuturnya.

Elvira juga mengapresiasi upaya literasi dan inklusi yang dilakukan oleh berbagai pihak, terutama yang memang aktif yakni Bursa Efek Indonesia di Riau. Hal itu tergambar dari aktifnya pendirian galeri investasi di setiap kampus.

Tindakan itu diharap menjadi salah satu kesempatan bagi calon investor baru untuk mengenal dan terlibat aktif dalam pengembangan investasi.

"Selain itu, kegiatan hari ini yakni Investival MICIN ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan literasi dan juga inklusi bagi anak millenial. Kita sangat mengapresiasi kegiatan ini," pungkasnya.

Baca juga: OJK luncurkan "aksi Riau menabung" bagi pelajar Pekanbaru

Baca juga: Ditemukan lagi 133 fintech ilegal tak terdaftar di OJK
Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar