Cabai keriting di Pekanbaru bertengger di harga Rp80.000/kg

id Cabai keriting

Cabai keriting di Pekanbaru bertengger di harga Rp80.000/kg

Ilustrasi - cabai merah keriting. (ANTARA /Wahyu Putro A)

Pekanbaru (ANTARA) - Sudah sebulan terakhir usaiIdul Fitri harga cabai keriting di sejumlah pasar tradisional Kota Pekanbaru seperti Pasar Kodim, Rumbai, Cik Puan bertahan Rp80.000/kg, dan itu tergolong tinggi seperti penilaian sejumlah warga Ibu Kota Provinsi Riau ini, Rabu.

Berdasarkan pantauan, jenis cabai keriting yang diperjualbelikan asal Bukittinggi, SumateraBarat. Sedangkan jenis cabai kotak asal Medan dan Jawa pasokannya terbatas atau langka.

Siregar (55) salah satu agen cabai keriting di Pasar Cikpuan Pekanbaru, mengaku modal pembelian barang pemicu inflasi di bulan Juni tersebut memang naik dari sentra penghasil.

"Usai lebaran cabai masih mahal modalnya, gak turun-turun, kini kami mengecer Rp80.000/kg," ujar Siregar.

Menurut Siregar tingginya harga cabai disebabkan musim tanam cabai di daerah produksi belum maksimal sehingga pasokan cabai ke Riau menjadi berkurang, sementara permintaan pasar tinggi.

"Biasanya masih ada cabai kotak asal Jawa dan Medan yang bisa mengimbangi, kini itupun pasokannya kurang," tutur Siregar.

Sementara itu Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Riau, Hamsani Rachman mengakui saat ini musim panen di daerah produksi cabai sedang tidak stabil. Mengingat Riau sebagai daerah konsumen, makanya pasokan cabai sedikit berkurang, sehingga berdampak terhadap harga.

Hamsani menyampaikan, saat ini harga cabai di pasar tradisional di Riau mencapai Rp70 ribu sampai Rp80 ribu per Kg. Meski begitu pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa karena memang produksi cabai di daerah penghasil menurun.

Dia menjelaskan dari informasi yang didapat selain Sumbar, sentra penghasil di daerah Jawa juga sama sedang kekurangan pasokan.

"Di Sumatera Barat dan Sumatera Utara harga cabai di daerah penghasil sudah mencapai Rp50 ribu per kilogram. Tentu kalau ke luar seperti Riau harganya lebih mahal karena butuh biaya transportasi," pungkasnya.

Kepala BI Riau Decymus mengakui cabai keriting menjadi pemicu inflasi Riau bulan Juni 2019 menjadi 1,20 persen naik dari Mei hanya 0,68 persen.

"Inflasi Riau mulai Januari - Mei masih stabil dan tenang, begitu cabai keriting naik maka nilai inflasi langsung melonjak," kata Decymus.

Karenanya Decymus menyatakan Riau sudah berencana akan membangun koordinasi dengan dua provinsi tetangga yakni Sumbar, Sumut sebagai penghasil bahan pangan guna membuat komitmen saling menjaga dan mengisi pasokan untuk pengendalian harga agar tidak bergejolak di ketiga kawasan tersebut.

"Gubernur Riau Syamsuar juga sudah pernah menyatakan akan ada pertemuan dengan provinsi penghasil seperti Sumbar, Sumut dan Riau untuk berbagi informasi tentang peta perdagangan ke tiga wilayah, dan saling suport dan isi pasokan yang dibutuhkan sehingga ketiga daerah itu inflasinya terkendali," pungkasnya.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar